
EMIR hanya berdecak saat mengingat kembali perbuatannya yang membuat Amara ketakutan. Tidak biasanya Emir selemah itu. Padahal saat dulu tinggal di Jepang Dia bisa menekan nafsunya dengan baik saat banyak wanita yang berniat menggodanya. Apa karena wanita itu adalah Amara, sehingga Emir jadi kalah pertahanan.
"Apa ada yang salah dari ucapan Bunda?" Melihat Putranya berdecak dan mengembuskan nafas tak berdaya,Fatma jadi khawatir.
"Makasih, Bun, sudah selalu mengingatkan Emir," sahut Emir yang tak ingin perbuatannya diketahui Ibunya. Bisa-bisa sang Ibu murka jika wanita yang telah melahirkannya mengetahui perbuatan anaknya. "Amara sudah tidur, Bun?" Seketika Emir teringat wanita itu. Padahal belum genap satu bulan dia tidak bertemu. Tapi serasa satu tahun saja. Emir benar-benar rindu.
"Tadi Bunda lihat sedang menemani Aidan main dikamarnya,"
"Kalau begitu Emir temui mereka dulu ya, Bun?!" Setelah mendapat anggukan dari sang Ibu, Emir pun lantas keluar dari kamar yang ditempati orangtuanya dan berjalan menuju tangga untuk menemui dua orang yang sangat Emir rindukan.
Saat sudah menginjakkan kaki di lantai dua, Emir segera menuju kamar dimana Aidan dan Amara berada seperti yang dikatakan Fatma tadi.
"Maafin Mama, Yeden ...." Terdengar sayup suara Amara dari balik pintu kamar Aidan yang sedikit terbuka.
Emir mengintip kedalamnya dan belum berani masuk saat melihat Amara sedang duduk didekat ranjang Aidan. Wanita itu terlihat sedang mengelus wajah Aidan yang sudah terlelap.
Emir tak bisa menebak mengapa Amara berkata seperti itu. Apakah Amara melakukan perbuatan yang kembali membuat Aidan menjadi objek kebenciannya pada lelaki yang sudah membuat hidup Amara hancur?
Ah! Emir tak berani berasumsi.
Saat sedang rumit dengan pemikirannya, tiba-tiba Emir kembali mendengar suara Amara.
"Maaf Mir .... Maafin Aku. Aku cuma bikin kamu susah ...," Kali ini Emir mendengar namanya yang disebut. Bahkan saat mengatakan itu, Amara terdengar terisak.
"Aku memang banalu ..." Lagi. Emir mendengar kalimat yang dilontarkan Amara dengan suara yang menyayat hati. Entah apa yang terjadi pada wanita itu selama kepergiannya.
Tak mau bingung sendiri, akhirnya Emir memutuskan untuk memasuki kamar Aidan dan menghampiri Amara yang tengah duduk memunggungi arah pintu.
Emir berjalan perlahan mendekati Amara. Setelah tepat berada dibelakang wanita itu, Emir duduk dibelakangnya dan langsung memeluk panggung wanita itu yang terasa rapuh.
"Kamu bukan benalu, Tweety ...," Amara cukup terkejut saat Emir berbisik mengatakan itu. "Kamu tujuan aku sedari awal," lirinya lagi sambil mengecup pipi Amara. "Aku melakukan semua ini cuma buat kamu." Emir mengeratkan pelukannya pada wanita yang menjadi cinta pertamanya.
Emir tidak tahu apa yang membuat Amara mengatai dirinya sendiri seperti benalu. Namun, yang pasti tujuan dari kata-kata Emir pada Amara barusan untuk membuat wanita itu tahu bahwa apa yang telah Emir lakukan sampai sejauh ini adalah juga atas kemauannya.
Menyadari perkataan lelaki yang sudah banyak berkorban untuknya, Amara pun berbalik mengahadapkan wajahnya pada Emir yang berminggu-minggu ini tak dilihatnya.
"Emir" Amara hanya bisa mendekap erat tubuh pria itu. Sebenarnya begitu banyak kalimat yang ingin wanita itu utarakan. Namun, semua hanya tersangkut ditenggorokannya.
"Apa terjadi sesuatu saat Aku pergi?" Emir bertanya setelah tak lagi mendengar Amara terisak.
Perlahan Amara melepaskan pelukan mereka. Saat ini Amara tak berani menatap wajah Emir. Padahal pencahayaan di kamar Aidan begitu redup, hanya menampilkan cahaya lampu tidur dengan cetakan kerlip bintang.
"Kenapa Kamu nggak jujur, Mir?" Amara memberanikan menatap wajah Emir. Wajah pria itu tak begitu jelas terlihat karena cahaya lampu tidur hanya sesekali menyinari raut wajah Emir yang sekilas memperlihatkan gurat lelah. "Tentang Izekai ... dan juga kecelakaan itu," lanjut Amara.
Kini Emir merasa tak ada lagi yang perlu dia tutupi. Tak ada gunanya juga menanyakan dari mana wanita itu tahu semua kebenarannya.
"Aku tidak mau kamu terbebani dengan semua itu. Aku hanya--" Emir berusaha menjelaskan. Namun ...
"Tapi Izekai adalah impian Kamu, Mir!" Amara menyela ucapan Emir. Dia benar-benar merasa bersalah karena sudah meruntuhkan apa yang dibangun Emir selama Bertahun-tahun.
"Izekai hanya ambisiku, Ra! Ambisiku!" seru Emir dengan suara teredam. "Dan Aku merasa sudah puas dan tak perlu lagi bekerja dengan orang-orang yang sudah mengkhianatiku. Semua bukan karena kamu. Tapi keputusan itu berasal dari diriku sendiri," ungkapnya lagi.
Amara menatap Emir dengan kening berkerut. "Kamu dikhianati?" Emir mengangguk atas pertanyaan Amara. "Edo?" Emir menggeleng mendengar pertanyaan itu.
"Edo yang sudah membantuku sampai saat ini," Emir mengusap pipi Amara merapikan rambut Amara yang menutupi wajah wanita itu.
"Maaf, Mir. Aku nggak bisa bantu apapun buat kamu, padahal ..." Amara berkata lirih. Dia benar-benar merasa tak berguna.
"Kamu hanya perlu percaya padaku. Dan tetap bersamaku. Itu saja yang harus kamu lakukan untukku," ujar Emir
Amara semakin tak bisa berkata-kata. Emir terlalu baik selama ini. Jika keberadaan dirinya dapat membuat Emir terbantu, maka Amara akan melakukannya. Dan wanita itu juga akan percayakan semuanya pada keputusan yang Emir buat. Namun, ada yang masih mengganggu pikiran Amara.
"Mir ...," ujar Amara. Emir masih menatap wajah sembab wanita dihadapannya dan dia menunggu kalimat selanjutnya dari wanita itu. "Ada satu hal yang ingin aku minta," katanya lagi.
"Katakan ...," Emir begitu senang saat mendengar Amara berkata ingin meminta sesuatu padanya. Sesuatu yang sudah lama tak dilakukan wanita itu.
"Pertemukan Aku dengan Helma." Permintaan Amara tentu saja membuat Emir terbelalak kaget mendengarnya.
Helma. Padahal Emir sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menemui perempuan itu lagi.
...Bersambung...