
...Empat Mata...
SAAT melihat Emir dengan mata merah yang sudah berair, Amara langsung menutup mulutnya menahan tawa.
"Cengeng," kata Amara. "Gitu aja nangis!" Amara masih berusaha menahan tawa, kemudian gadis itu mengambil tisu dapur yang terletak di atas meja lalu mengusapkannya pada mata sembab Emir.
"Siapa yang cengeng," kilah Emir yang mengambil alih tisu dari tangan Amara.
"Itu," tunjuk Amara ke arah mata Emir. "mata kamu merah," lanjutnya.
"Ini perih karena bawang, bukan nangis," Emir mengambil sejumput potongan bawang bombay dan mengarahkannya tepat ke wajah Amara.
"Dih! Bau tau!" Setelah mengatakan itu, Amara berlalu tanpa menggubris ucapan Emir.
Setelah melihat kepergian Amara, Ibu Emir mendekati putranya. "Udah yakin nih nggak jadi Nyantri?" ujar Fatma pada putranya. Emir hanya tertunduk lesu.
Sebenarnya Emir sudah berniat untuk masuk ke Pesantren yang ada di daerah Jawa Tengah. Namun, semua dia urungkan saat Amara dengan antusias berharap bahwa mereka bisa kembali satu sekolah.
"Kamu bisa menolaknya jika kamu keberatan," Fatma mengusap pundak putra semata wayangnya. "Masa depan kamu adalah milik kamu sendiri, Mir," tegasnya.
Benar yang dikatakan Ibunya, masa depan Emir adalah milik Emir sendiri. Tapi entah mengapa semua keinginan Amara seperti mutlak untuknya. Dan seperti yang dikatakan Amara, bahwa Garuda akan menjadi awal dari masa depannya bersama gadis itu.
...▪︎▪︎▪︎...
Setelah mereka makan malam bersama dengan hidangan menu Teriyaki kesukaan Amara, Emir memutuskan pergi ke ruang kerja Andar. Dia ingin memastikan ucapan Amara sebelumnya.
Saat didepan pintu ruangan itu, Emir sedikit ragu, namun dia nekat memutuskan untuk bicara dengan Ayah dari Amara malam ini juga. Emir tidak ingin dianggap memanfaatkan Amara untuk masuk ke sekolah yang diajukan gadis itu.
"Assalamualaikum ...," sapa Amir sambil mengetuk pintu itu.
Tak lama, ada sahutan dari Andar didalam ruangan itu untuk menyuruh Emir masuk.
"Emir ... tumben, ada apa, Nak?" tanya Andar yang langsung melepas kaca matanya dan menutup buku yang sedari tadi dia baca.
Melihat tingkah Emir, Andar hanya tersenyum. Bocah itu masih saja bersikap kaku. "Ayo duduk, pasti ada hal penting nih" ujar Andar sambil mengarahkan tangannya ke sofa.
"Makasih Pak," sahut Emir kemudian dia duduk dihadapan Andar.
"Jadi ada apa?" tanya Andar.
Pandangan Emir masih tertunduk. "Itu, Pak Andar, yang dibicarakan Amara ...," ucapnya terhenti.
Saat melihat ada keraguan pada Emir, Andar langsung mengerti bahwa anak itu tak enak hati membahasnya.
"Jadi bagaimana pendapatmu?" tanya Andar dengan nada bijak.
Setelah mendengar pertanyaan itu, barulah Emir berani menatap mata Andar. "Biar Emir usahakan sendiri dulu, Pak. Emir denger ada jalur Preatasi buat masuk kesana. Nanti Emir minta bantuan guru aja," ujar Emir yakin.
Inilah yang membuat Andar kagum pada Ahmad, kawan lamanya itu mampu mendidik anak sekecil Emir bisa mengambil resiko serta bertanggung jawab atas apa yang dipilihnya, dan tak ingin begitu saja mengambil keuntungan dari penawaran yang lebih mudah didepan mata.
"Kalau gagal?" tanya Andar mencoba menguji ketangguhan bocah itu. "Anak dengan otak encer di kota ini tidak sedikit Mir, pasti banyak juga yang berlomba-lomba untuk mendapatkan fasilitas istimewa dengan kuota jalur prestasi yang dibatasi, kamu yakin bisa?" jelas Andar dengan intonasi yang mengintimidasi.
Emir membeku sesaat. Benar juga apa yang dikatakan Ayah Amara. Tapi Emir sama sekali tak pernah berpikir gagal. Dia yakin bisa. "Emir akan belajar lebih giat lagi, Pak!" tukasnya.
"Saya percaya. Biar nanti ,Om, bicarakan pada Amara-"
"Jangan Pak!" tegas Emir menginterupsi Anggota Dewan Negeri ini. "Amara tidak perlu tau, Emir takut Amara akan-" Anak itu tak berani melanjutkan. "Biar Emir yang beritahu sendiri nanti" jelasnya akhirnya.
Emir sudah memprediksi wajah cemberut sang Princess jika usahanya disia-siakan. Jadi Emir memilih untuk membiarkan Amara dengan pemikirannya bahwa semua adalah usaha dari gadis itu. Tak masalah bagi Emir.
"Kalau kamu kesulitan, jangan sungkan bicarakan pada, Om, oke?" tukas Andar.
Emir hanya tersenyum saja. Mungkin tawaran itu akan menjadi pilihan yang paling terakhir baginya.
...Bersambung...