
...2nd Round 4 Eyes...
SETELAH obrolan dengan sang Istri mengenai prilaku aneh putrinya. Andar memanggil Emir untuk datang ke ruang kerjanya.
Andar memandangi bocah lelaki yang kini sedang duduk berhadapan dengannya. Dulu, saat Emir masih kelas 6 SD, anak itu mengajak bicara secara empat mata. Andar masih ingat betul bagaimana mimik wajah serius bocah itu saat membuat perjanjian dengannya.
Namun kini berbeda. Malam ini diruangan yang sama, Andar lah yang memintanya datang.
Emir Hamzah, seorang anak dari teman dekatnya, yang kini bekerja bersamanya, semakin terlihat dewasa dan rupawan diusianya yang sudah menginjak remaja.
Pahatan wajah yang tercetak jelas, tentu saja membuat orang-orang menginginkannya menjadi kandidat pendamping putri mereka, tak terkecuali Andar.
Ditambah lagi--otak pintarnya menambah nilai penting untuk menghasilkan gen unggul bagi penerus. Belum lagi ketaatan ibadahnya pada sang Khalik. Semua itu terlalu sempurna untuk anak lelaki di hadapannya kini, terlepas dari keadaan ekonomi keluarga Emir yang pas-pasan.
Namun berkat Andar, anak lelaki yang ada dihadapannya kini menjadi sosok sempurna yang luarbiasa--tanpa cela.
"Mir ..."
Suara berat Andar yang manggil namanya membuat jantung Emir berdegup kencang.
"Iya, Om" sahutnya.
Kini Emir sudah tidak kaku lagi dengan memanggil Papa Amara dengan sebutan yang lebih akrab. Hal itu tak terlepas dari Andar yang memohon untuk memanggilnya begitu.
"Bagaimana Sekolahmu?" tanya Andar.
"Alhamdulillah, Om. Lancar"
"Kamu niat melanjutkan ke Universitas mana? Sudah ada rencana?"
"Memangnya jurusan apa yang kamu minati?" tanya Andar semakin serius.
"Tehnik mesin, Om" ucapnya yakin.
Seketika raut wajah Andar tersenyum bangga, sedari kecil bakat Emir memang sudah terlihat, hal itu pertama kali dia amati ketika membantu memperbaiki mainan blender Amara yang rusak saat gadis itu masih duduk di bangku SD.
Ditambah lagi kejadian mesin pemangkas rumput yang macet beberapa bulan lalu. Tanpa harus menyewa orang untuk memperbaiki mesin itu, Emir sudah langsung bergegas memperbaikinya.
Emir terlalu sempurna untuk seorang Amara yang manja, itulah yang tidak berani Andar pikirkan.
"Om, sangat yakin. Kamu pasti mendapat penawaran dari kampus terbaik, Mir" ujar Andar dengan yakin sekaligus bangga.
"Terimakasih, Om. Emir akan berusaha yang terbaik!" ucapnya meyakinkan.
Sebenarnya dengan posisi Andar saat ini yang menjadi anggota dewan, Emir bisa diajukan secara khusus. Terlebih anak itu memang pintar dan berbakat. Namun Andar yang mengerti sifat Emir yang ingin melakukan sesuatu atas hasil usahanya sendiri, maka penawaran itu dia kubur dalam-dalam.
"Apa ... Amara ada cerita sesuatu sama kamu tentang keinginanya untuk melanjutkan kemana?" tanya Andar terdengar ragu.
Andar sadar bahwa anak gadisnya itu masih menikmati masa remajanya, memikirkan hal rumit seperti masa depan adalah hal yang tak pernah dibicarakan oleh Amara.
Seulas senyum terpancar diwajah anak lelaki itu. Emir teringat saat Amara bilang ingin masuk ke Kampus yang sama dengannya, dan memohon untuk tidak memilih Kampus unggulan yang sulit dimasuki untuk kamampuan otaknya yang sebenarnya pas-pasan.
Saat melihat senyum Emir, Andar sudah bisa menebaknya. "Apa Amara meminta untuk masuk ke Kampus yang sama denganmu lagi?". Dan Emir mengangguk saat menjawab pertanyaan Andar.
Guratan kecewa, takut dan khawatir muncul di wajah Andar yang mulai tua. "Inilah yang saya khawatirkan, Mir. Amara akan selalu bergantung padamu" lirihnya, yang membuat Emir seketika menunduk lemas.
...Bersambung...