
'Setelah gue keluar, gue bakal nyari tau tentang perempuan itu. Dan darah gue gak gratis!' gertak Deny diiringi seringai penuh arti diwajahnya, setelah lelaki itu mendonorkan darahnya untuk Aidan.
Lelaki brengsek itu mengatakan hal yang tak terduga pada Emir. Deny memang tidak tau keberadaan Aidan, tetapi dengan kalimat yang dia lontarkan, sudah dipastikan bahwa dia paham akan situasi. Deny memang bajingan. Tapi dia bukan orang bodoh. Dan lagi-lagi kalimatnya telah sukses memprovokasi Emir.
Tujuh tahun. Sisa masa tahanan Deny tersisa tujuh tahun lagi. Benar-benar tidak adil pikir Emir.
Memikirkan hal itu, satu-satunya yang dikhawatirkan Emir adalah dampak trauma Amara yang akan kembali mencuat. Tekanan mental yang dialami perempuan yang sudah Emir kenal dihampir seumur hidupnya itu tidak mudah dihadapi dan butuh bertahun-tahun untuk disembuhkan. Trauma akibat pemerkosaan yang dialami Amara bukan saja melukai fisiknya secara brutal, akan tetapi mental dari wanita itu pun tak kalah hancur. Amara kehilangan kepercayaan dirinya.
Dan Aidan. Anak lelaki yang terlahir dari tragedi itu adalah bukti kesakitan sekaligus obat penyembuh bagi Amara. Dan sikap apatis Amara yang ditujukan pada Aidan adalah salah satu bentuk bahwa traumatis yang dialami wanita itu masih selalu menghantui. Bahkan hingga sekarang.
Emir hanya berharap. Bahwa kehadiran dirinya dapat menjadi pelindung sekaligus kekuatan bagi Amara dan juga Aidan dalam menjalani kehidupan kedepannya.
Dan kalimat serampangan yang diutarakan Deny beberapa waktu lalu, tentu saja telah mengusik Emir.
"Mir!" panggil Amara.
Wanita itu mengguncang lengan Emir yang masih menggenggam tangan kirinya.
"Y-ya?" sahut Emir.
Sikap Amara barusan berhasil menyadarkan Emir dari pikiran pria itu yang menerawang jauh pada perkataan Deny.
Melihat Emir yang tak biasanya seperti itu, tentu saja membuat Amara curiga. "Ada masalah?" tanya wanita itu yang wajah pucatnya sudah mulai samar menghilang.
Mendapati pertanyaan Amara, Emir menggeleng cepat. Dan buru-buru dia mengubah mimik wajahnya yang sempat tegang dengan menampilkan senyuman lembut yang membuat kedua lesung di pipi Emir tampak begitu jelas. "Kamu butuh sesuatu?" tanya Emir akhirnya.
Amara terdiam sesaat. Senyum Emir memang terlihat lebar hari itu, tapi Amara merasa bahwa senyuman lelaki yang sudah dikenalnya sedari mereka kanak-kanak terlihat berbeda. Senyuman itu tak sampai pada kedua mata Emir.
"Ada sesuatu yang aku nggak tau?" Emir sempat terkesiap saat Amara melontarkan kalimat itu.
Perkataan Emir itu hanya tertahan sampai pada tenggorokannya saja. Dan hal itu membuat Emir berdeham untuk menetrakkan suaranya.
"Setelah kamu dan Aidan pulih, kita tinggal di Majalengka, ya?" Apa yang diutarakan Emir lebih kepada sebuah perintah. "Kita akan tinggal sama Ayah dan Bunda," ujar Emir lagi.
Tentu saja perkataan Emir membuat Amara menegang. Sama seperti wanita dihadapannya, Emir jug tak kalah kaget dengan kalimat yang diucapkannya sendiri. Pria itu takut jika Amara akan semakin curiga.
"Hah?" Respon yang dilontarkan Amara memiliki banyak makna.
'Hah' untuk, kenapa harus ke Majalengka?
'Hah' untuk, kenapa begitu tiba-tiba?
'Hah' untuk, bagaimana Amara menjelaskan prihal dirinya yang tak memberi kabar saat Liana -- ibu dari wanita itu yang telah meninggal.
Dan tentu saja, 'hah' untuk keberadaan Aidan yang lahir tanpa ayah.
Amara benar-benar senang jika memang bisa tinggal bersama orangtua Emir yang sudah dia anggap seperti orangtuanya sendiri.
Tapi untuk semua kekhawatiran yang dia rasakan, bagaimana cara Amara menghadapinya. Ahmad dan Fatma adalah orang-orang baik yang sudah mengenalnya sejak dia berusia lima tahun.
Terakhir mereka bertemu adalah saat pemakaman Ayah Amara. Dan itu sudah hampir sepuluh tahun yang lalu. Dan setelahnya mereka tidak pernah lagi bertemu.
"Nanti gimama sama kerjaan kamu, Mir?"
...Bersambung...