
"Untuk apa kamu menemui Amara?"
Pertanyaan dari Emir tak langsung dijawab oleh Helma. Wanita itu berdiri sambil memegang satu amplop besar berwarna coklat di genggamannya.
Emir masih menatap gerak gerik Helma, tak ada raut wajah terkejut yang terlihat dari muka oriental wanita itu.
"Dia nggak pantas untuk kamu perjuangkan!" desis Helma menatap lekat Emir yang mulai berjalan mendekatinya.
"Apa hakmu?" ucap Emir dengan tatapan tajamnya saat jarak mereka hanya terpaut tiga langkah.
"Perempuan manja itu sudah membohongimu, Emir!" tukas Helma sedikit geram.
Emir yang mendengar pernyataan Helma hanya meraut bingung. Bagi Emir, perempuan dihadapannya terlalu lancang untuk mencampuri urusan pribadinya.
"Kamu nggak punya hak untuk berbicara seperti itu tentang Amara!" desis Emir.
Helma sadar, bahwa inilah respon yang akan diberikan Emir setiap kali Helma membahas tentang Amara.
Dulu saat Emir baru siuman dari musibah yang dia alami pasca Tsunami di Jepang, pria itu nekad untuk tetap kembali ke Indonesia guna menemui Amara.
Saat itu Helma bekerja keras membujuk Emir untuk mencegah pria itu dari sikap keras kepalanya yang ingin tetap pergi dengan kondisi kaki pincang.
Helma benar-benar geram dengan tingkah Emir yang diluar nalar jika berhadapan dengan situasi yang selalu mengaitkan pria itu dengan Amara. Dan dari sinilah Helma mengambil kesimpulan, bahwa perempuan manja itu hanya membawa dampak buruk bagi Emir.
"Kali ini percayalah. Dia hanya ingin memanfaatkanmu, Mir" ujar Helma sambil menyerahkan amplop besar berwarna coklat itu kehadapan Emir.
Emir hanya menatap amplop itu tanpa mau menyentuhnya.
Dengan terpaksa akhirnya Emir meraih amplop besar itu. Perlahan dia membukanya lalu merogoh kedalam untuk mengambil kertas lembaran yang ada disana.
Dia mulai membaca paragraf bagian awal, dimana disana tertulis tanggal dan tahun yang menjelaskan seorang wanita terdaftar mengambil tindakan persalinan disebuah Rumah Sakit di Australia.
Tak bisa dipungkiri, jantung Emir berdegup kencang, dia tak sanggup untuk membaca paragraf berikutnya, namun rasa penasaran mengalahkan ketakutan itu.
Paragraf berikutnya menjelaskan bahwa persalinan itu tidak menuliskan siapa Ayah dari bayi Amara. Dan disana hanya tertulis perwalian yang dilimpahkan atas nama Melani Atmajaya. Hanya sampai disitu saja Emir membaca setiap tulisan yang terpampang, padahal masih ada beberapa paragraf lagi. Namun, nama Melani Atmajaya yang ikut serta dalam laporan itu membuat Emir merasa puas. Dia kenal siapa Melani, salah satu perempuan yang dia percaya sebagai teman dekat dari Amara. Dan tanpa banyak respon, Emir langsung memasukan kertas itu kembali kedalam amplop.
"Dia perempuan nggak baik, Mir!" tuduh Helma. "Bahkan dia melahirkan anak yang tak tau dimana suaminya. Aku yakin dia--"
"Cukup! Helma" seru Emir dengan suara lantang.
Respon tak terduga dari Emir ini tentu saja membuat Helma terkejut. Sebab baru kali ini Emir berani meneriakinya selantang itu.
Dulu mereka memang pernah berdebat lumayan sengit. Masih seputar Amara juga. Namun Emir tak sampai seperti sekarang yang menampilkan raut murka dari wajah timurnya disertai teriakan yang teramat tak suka saat mendengar ucapan Helma.
"Harap tau batasanmu!" Peringatan Emir bukan main-main.
Saat Emir akan membalikan tubuhnya untuk menuju pintu keluar, pria itu kembali berucap, "Kita adalah partner bisnis yang cocok. Jadi jangan merusak segalanya dengan hal yang sia-sia. Dan buktikan janjimu yang barusan." tegas Emir.
Kemudian pria itu keluar dari ruangan Helma. Meninggalkan wanita itu dengan dada yang naik turun menahan sesak.
...Bersambung...