
HELMA terlihat sedang menatap kearah luar jendela di ruang kerjanya, wanita itu berdiri sambil melipat tangannya didepan dada.
Ramainya lalu lintas Ibu Kota siang itu menjadi pandangan yang biasa Helma tatap setiap harinya semenjak dia kembali ke Negara kelahirannya itu. Dia mulai jenuh.
"Bertahun-tahun aku berjuang. Yang mendapat manisnya malah perempuan itu!" desis Helma dengan mata menatap nyalang ke arah luar jendela yang memperlihatkan barisan kendaraan yang terlihat semakin merayap.
Keputusan Helma untuk membantu Emir mendapatkan beasiswa di Jepang awalnya karena memang dia ingin dekat dengan pria itu.
Helma sampai meminta bantuan, Om nya--Reza, yang memang sudah puluhan tahun tinggal di Negara itu sebagai seorang tenaga Pengajar untuk mencarikan beasiswa di Universitas terbaik yang ada di Tokyo.
Pertama kali Helma mengenal Emir saat dirinya baru menjadi siswa di SMA Bhineka--sekitar 12 tahun yang lalu saat mereka duduk di kelas 1 SMA.
Saat itu Emir pernah membantunya mengantarkan Helma ke Halte Busway saat supirnya tak kunjung menjemputnya.
Kebaikan Emir membuat Helma merasa ada yang memperhatikan wanita itu. Belum lagi, ternyata Emir adalah siswa yang memiliki segudang prestasi dan sering mewakili sekolah mereka dalam berbagai jenis kejuaraan.
Helma menyukai tipe pria seperti Emir yang pintar, baik dan tidak pernah tebar pesona pada lawan jenis. Namun, saat Helma mengetahui Emir selalu dekat dengan gadis bernama Amara, disitulah rasa iri dalam hatinya muncul.
Amara yang dikenal anak 'Mama'--membuat Emir harus selalu mengikuti kemana pun perempuan itu pergi. Helma sangat tidak suka sikap dominan pada diri Amara yang membuat Emir bagai seorang pelayan. Dan disaat itulah, Helma berusaha mencari cara agar Emir bisa terbebas dari belenggu Amara yang menurutnya adalah benalu.
Menerawang mengingat masa lalu membuat Helma tak habis pikir. Mengapa seorang Emir bisa bersikap rendah hanya untuk perempuan bernama Amara.
Terlebih saat Helma memberitahukan kenyataan bahwa Amara bukanlah wanita baik-baik, karena memiliki anak diluar nikah. Tapi Emir seolah tak peduli dengan kenyataan itu.
"Apa sih bagusnya, dia?!" gumam Helma semakin geram.
Mengingat kejadian saat dirinya mendatangi Amara, Helma benar-benar tak menyangka bahwa sikap frontalnya saat itu telah memprovokasi Emir untuk kembali bersama Amara. Konyol.
Helma pikir, kedekatan dirinya dengan Emir selama hampir sepuluh tahun ini sudah cukup berhasil menjauhkan pria itu dari parasit sejenis Amara--gadis manja yang selalu ingin dinomorsatukan.
...▪︎▪︎▪︎...
"Kau yakin semua sudah dialihkan?" tanya Emir yang saat ini sedang berada di ruangannya sambil memeriksa beberapa berkas yang diberikan Asistennya tadi.
"Hanya butuh tanda tangan saja, Pak. Setelah itu aman" tukas Edo yang duduk dihadapan meja kebesaran Emir.
Edo memperhatikan kondisi meja Emir yang kini terlihat berbeda. Beberpa pajangan foto terpampang di atas meja. Pajangan pertama, membingkai sebuah foto wanita yang baru dikenal Edo dalam beberapa minggu ini. Amara.
Tidak hanya itu, satu foto lagi membingkai wajah pria yang sudah dipastikan adalah Emir, tapi kini pria itu bersama seorang bocah lelaki yang wajahnya baru kali ini Edo lihat.
Mungkinkah keponakannya? Begitulah pikir Edo.
"Dia anakku. Namanya Aidan,"
"Iya? Bagaimana maksud Anda, Pak?" tanya Edo dengan raut wajah bingung.
Anak, katanya?
Sejak kapan?
Setahu Edo, Emir tak pernah terlihat dekat dengan perempuan mana pun selama mereka kenal, kecuali Helma, itu pun hanya untuk sebuah pekerjaan. Dan sekarang senior di kampusnya itu bilang, kalau anak itu adalah anaknya.
'Apa ada yang kulewatkan?' batin Edo merasa gagal menjadi satu-satunya orang yang tau tentang Bos nya.
...Bersambung...