Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
53| Jurus Ampuh



...Jurus Ampuh...


Sandrina begitu penasaran dengan wajah Amara yang langsung tersenyum sesaat sedang membaca pesan teks di ponselnya.


"Dari siapa?"


Sandrina bukanlah wanita sabaran. Terbukti dia langsung bertanya dengan raut penasaran. Dan itu terlihat dari alisnya yang tipis membentuk kerutan.


"Temen," sahut Amara sambil membalas pesan itu. "Tadi kamu tanya apa?." Amara menoleh ke arah Sandrina. Dan mengingat pada perbincangan mereka yang sempat tertunda.


Sesaat Amara terdiam dan, Ah dia ingat. "Minggu depan Aku ada kerjaan. Emang kenapa?" tanya balik Amara.


Sandrina langsung menghela nafas lega. Itu artinya dia tak perlu khawatir tentang rencana Reuni Akbar Sekolah mereka, kan?


Tiba-tiba Sandrina langsung memasang wajah sedih. "Yaaah... sayang banget. Padahal aku mau ajak kamu ke salon," ujarnya pura-pura menyesal. Padahal hatinya senang.


"Sekarang aja" sahut Amara datar.


Tanpa di duga, ternyata tawaran dadakan dari Sandrina bersambut. Ah. Kapan lagi coba Amara mau diajak nyalon. Ini sih namanya sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Begitulah kiranya yang dipikirkan Sandrina.


...▪︎▪︎▪︎...


Berbeda dengan Sandrina yang kini membawa Amara untuk melakukan perawatan di salon langganan wanita itu. Emir malah terlihat kesal saat mendapat telpon dari Helma--mengenai acara Reuni di sekolah mereka dulu.


Ya. Helma sudah mendapat undangan melalui Email pribadinya untuk di undang sebagai salah satu pebisnis yang sukses dalam kurun waktu yang bisa dikatakan sebentar.


[Mereka akan kecewa jika kita tak datang bersama, Mir. Kamu lupa? Kita kan di juluki The Bride Of Izekai] ujar Helma yang terdengar senang dari sebrang telpon.


The Bride apa? Gila! Itu kan julukan yang diberikan untuk Emir dan juga Helma dari majalah Bisnis itu. Dan Emir benar-benar muak mengingatnya. Sebenarnya Emir ingin mengatakan itu, tapi semua harus dia tahan. Setidaknya sampai semua aman dalam genggamannya.


"Ya. Tapi aku ada urusan dengan Edo. Tidak bisa ditunda." Alasan kali ini memang benar, bahkan janji dengan Edo sudah jauh-jauh hari sebelum acara reuni itu dijadwalkan.


[Apakah urusan Pekerjaan?] tanya Helma yang kini malah terdengar penasaran.


"Bukan. Urusan Lelaki" celetuk Emir yang tak ingin Helma bertanya lagi. Dan benar saja, wanita itu pun mengalah dan mengakhiri panggilannya terlebih dulu.


Keberadaan Helma tak bisa Emir hilangkan begitu saja. Terikat dalam kontrak kerja sama untuk membangun Izekai--Perusahaan Software dan Hardware yang mereka bangun bukanlah perkara mudah.


Selain itu, Emir juga memiliki hutang nyawa dan hutang budi pada wanita itu semasa mereka tinggal di Jepang.


Dan rencana reuni yang Emir usulkan ini seperti bumerang baginya. Dia takut akan menyakiti Amara untuk kesekian kalinya jika melihat kebersamaannya dengan Helma. Ya ... Emir tak pernah lupa akan hal yang membuat Amara menjauh darinya. Dan ini sudah sangat terlambat untuk diperbaiki.


Tapi walaupun begitu. Emir tak akan mundur selangkah pun, setidaknya sampai membuat Amara mengerti dengan segala upaya dari Pria itu yang selama ini sampai menghilang bak ditelan Bumi--itu semua agar dirinya pantas bersanding dengan Amara.


Emir kini sedang berbaring di ranjang Amara--diranjang yang asli milik gadis itu. Bukan yang sekarang ditempati Amara--di bangunan lain bekas kamar Mang Juned--Tukang kebun Amara saat gadis itu masih tinggal dirumah besar ini.


Kini Pria itu terlihat menyedihkan. Bayangkan saja, guling dengan sarung bergambar tokoh Tweety--kesayangan Amara sedang dipeluknya, sambil membayangkan sosok gadis manja itu dalam penerawangannya sendiri dengan mata terpejam.


...Bersambung...