Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
26| Benci Ulangtahun



...Benci Ulangtahun...


PAGI-pagi Sandrina mengantar Amara menuju Rumah Sakit dengan tergesa-gesa.


Kondisi teman baiknya itu tak kunjung mereda setalah kemarin sore datang kerumahnya dengan basah kuyup dan juga luka dibagian dengkulnya.


"Terimakasih Sandrina, maaf sudah bikin kamu repot" ujar Andar. Papa Amara.


Andar datang ke Rumah Sakit sesegera mungkin setelah gadis itu mengabari kondisi putrinya yang secara tiba-tiba dilarikan ke sana.


"Sandrina yang minta maaf, Om. Seharusnya kemarin malam Sandrina langsung bawa ke Rumah Sakit saja saat melihat Amara sudah menggigil "sesalnya.


Kemarin malam? Andar hanya mengerutkan keningnya saat mengetahui ada yang janggal.


Dan setelah mengetahui Amara sudah aman bersama Orangtuanya, Sandrina pun berangkat ke Sekolah.


Dan sekarang dia berada di atap Sekolahnya bersama dengan anak lelaki itu. Emir--penyebab Amara dilarikan ke Rumah Sakit pagi ini.


"Kenapa acara ulang tahun Amara dibatalkan?" tanya Emir langsung ke intinya.


Sandrina memandang Emir dengan wajahnya yang dipenuhi kebencian.


"Semuanya salah kamu!" pekik Sandrina. "Harusnya ... kalo nggak bisa bantu buat persiapan pesta itu, kamu nggak usah belagu buat janji nganterin Amara!" desis Sandrina dengan wajah sinisnya.


Emir tampak berpikir sejenak. Dia ingat betul saat dikantin kemarin. Saat dirinya baru saja mengetahui alasan Amara menjauhinya. Dan setelah itu mereka membicarakan perihal perayaan ulang tahun gadis itu. Kemudian Emir mengajukan diri untuk mengantar Amara membeli kebutuhan untuk pesta ulang tahunnya.


"Heh!" Teriak Sandrina pada Emir yang hanya diam membatu.


Seketika Emir tersadar. "Masalah itu ...," Emir tampak ragu untuk mengatakannya. "Aku sedang ada pelatihan, dan-"


Emir terkejut dengan kesaksian dari gadis itu. Emir tak bisa menyangkal.


"Itu bukan seperti yang kamu pikir, San" ujar Emir.


Sandrina berdecih. "Aku nggak perduli! Sama sekali nggak peduli apa yang kalian lakukan!" ketusnya lagi. "Tapi nggak gini caranya, Mir. Kamu itu manusia yang nggak tau diri! Amara dan keluarganya udah sangat berbaik hati menampung kalian! Tapi balasannya kaya kacang yang lupa kulitnya!" tuduh gadis itu.


"Kenapa Amara nggak masuk sekolah?" tanya Emir yang tak merespon ucapan pedas dari mulut gadis dihadapannya.


Sandrina tersenyum sinis dengan tatapan benci ke hadapan Emir. "Pikir aja sendiri!" sahutnya. Kemudian gadis itu melangkah pergi melewati Emir tanpa memberi penjelasan.


Di atap sekolah, angin begitu kencang berembus. Sampai membuat rambut Emir yang mulai terlihat gondrong itu menjadi acak-acakkan. Lelaki itu hanya terdiam sambil menatap kosong sejurus mata memandang. Sepertinya kabut penyesalan menutupi pandangannya.


Dirumah sakit terlihat Papa Amara yang sedang duduk didekat pembaringan putrinya. Amara sedang disuapi bubur oleh sang Mama. Gadis yang beberapa jam lagi akan berusia 17 tahun itu hanya diam sambil mengunyah paksa makanan yang masuk ke mulutnya.


"Kata Dokter ... malam ini kamu sudah boleh pulang," lirih sang Papa menatap iba.


Wajah Amara sudah tidak sepucat tadi pagi saat Sandrina membawanya ke Rumah Sakit. Rona merah diwajah chubinya sudah terlihat, namun pada sekitaran matanya masih terlihat sembab, sehingga mata bulatnya terlihat lebih sipit akibat bengkak.


"Apa kamu mau kita ke Puncak? Buat merayakan hari lahirmu, sayang?" ujar sang Mama. "Kalau perlu kita menginap ya, Pa?" tanya Liana pada sang Suami.


"Benar, sayang. Kalau kamu setuju, Papa dan Mama akan mengajakmu" ucap sang Papa. "Pergi malam ini. Bagaimana?" imbuh Andar sambil menatap wajah putri semata wayangnya.


"Amara benci ulang tahun, Pa ...," lirih gadis itu dengan mata mulai berair.


...Bersambung...