
HELMA kini terlihat sangat berantakan. Rambutnya yang selalu tertata rapi -- sudah kusut tak karuan. Garis wajah angkuhnya terlihat lebih mengerikan dengan tatapan mata yang semakin menghujam. Dan itu terlihat jelas dari pantulan cermin di wastafel toilet.
"Berani-beraninya perempuan tak tahu malu itu mengancamku!" geram Helma yang marah.
"Akan aku tunjukkan dimana posisimu pelac*r!" lanjutnya.
Helma menatap dirinya didalam cermin itu. Dia rapihkan rambut kusutnya menggunakan jemari tangannya yang lentik dengan polesan kuku berwarna peach -- membuat tampilan kuku-kuku miliknya semakin cantik.
Garis wajah Helma dengan rahang dagu yang lancip memang membuat rupa-nya semakin terlihat mungil. Kecantikan yang diturunkan dari sang Ibu membuat Helma bak seorang Dewi. Darah Jepang yang diturunkan sang Ayah tak pernah menampik bahwa perempuan satu ini memanglah menuruni kepintaran dari pihak ayahnya yang memang memiliki otak encer.
"Apa yang dilihat Emir dari perempuan sampah seperti dia!"
Sekali lagi Helma tak terima. Dia selama ini berjuang mati-matian untuk bisa terlepas dari status anak wanita penghibur yang melekat pada dirinya yang juga dikucilkan keluarga besar ayahnya.
Helma mengorbankan masa mudanya untuk meraih kesuksesan di puncak seperti saat ini agar bisa diakui dan tidak dipandang sebelah mata.
Emir -- untuk pria satu itu Helma sudah memberikan loyalitas dan dukungan penuh untuk sama-sama berjaya membangun Izekai -- perusahaan dengan konsep yang Emir inginkan.
Selama sepuluh tahun Helma mengalah untuk bisa menekan rasa sukanya pada Emir. Akan tetapi kini setelah apa yang dia lakukan untuk pria itu. Tiba-tiba perempuan bernama Amara -- yang pernah merendahkan Emir, dengan tidak tahu malunya datang bersama seorang anak yang Helma yakini hasil dari perbuatan zina.
"Aku tidak terima! Aku tidak akan menahan lagi. Akan aku tunjukkan bahwa kau berhadapan dengan orang yang salah!"
Setelah mengatakan hal itu, Helma beranjak pergi dari tempat yang sudah membuat darahnya mendidih. Dia akan menunjukkan pada semua orang -- terutama wanita bernama Amara, bahwa Helma jauh berada diatasnya.
Didalam Ball room Hotel dimana Izekai menggelar acara. Terlihat Emir, Amara, Aidan dan juga Andre tengah berbincang-bincang.
"Oh, jadi anda adalah Ibu dari model produk kami?" tutur Andre dengan bangga.
Walaupun Izekai bukan perusahaanya, akan tetapi pria casanova itu sudah menjadi penyumbang dana besar pada setiap produk yang Izekai ciptakan.
"Saya pikir anda Kakaknya," kelakar Andre yang sedang menebarkan mulut manisnya. Amara hanya tersenyum sumbang.
Emir yang melihat tingkah Andre hanya menatap tajam pada pria itu. Ramah tamah yang Andre lakukan membuat Emir berdecak kesal, untung saja Amara bukan tipe wanita yang mudah jatuh pada mulut manis seperti Andre. Emir adalah bukti dari gagalnya usaha pria itu untuk merayu Amara.
Tiba-tiba seorang pria muda terlihat berjalan ke arah Emir berada. Lalu dia berkata, "Maaf, Pak Emir, ini sudah waktunya untuk penyambutan."
Emir terlihat mengangguk.
"Hei, boy. Kamu sama Mama dulu, Papa akan kesana sebentar. Kamu lihat Papa dari kursi itu. Oke?" tutur Emir berkata pada Aidan, tetapi mata pria itu sempat melirik ke arah Andre saat mengatakannya.
Setelah kepergian Emir. Amara pun pamit pada pria yang bernama Andre itu. Amara duduk di meja depan yang dapat melihat jelas sosok Emir yang berbaur dengan para petinggi Izekai -- termasuk Helma.
"Kalian menikah?" tanya Andre.
Pria itu ternyata sedari tadi mengikuti Amara sampai ikut duduk di meja yang sama.
Amara hanya menoleh dan tersenyum tanpa memberikan jawaban apa pun terhadap rasa penasaran Andre.
"Saya pikir Emir tidak pernah memikirkan hal-hal seperti itu," gumam Andre yang masih dapat didengar Amara.
Ya. Selama ini Andre pikir Emir adalah tipe pria yang tak tertarik dengan lawan jenis. Begitu banyak perempuan disekitar Emir termasuk sosok Helma yang seksi dan mempesona -- tapi Emir telihat tak tertarik. Namun, ucapan Emir barusan yang terdengar seperti sebuah pengakuan bahwa pria itu dia sudah menikah -- membuat Andre terkejut. Bagaimana bisa pikir Andre.
"Pak Emir dan Bu Helma memang serasi. Sama-sama good looking dan smart."
Sebuah kalimat sayup-sayup terdengar ditelinga Amara. Pujian itu nyata adanya sesuai penglihatan semua orang.
Didepan sana Emir terlihat begitu akrab bersama Helma dan juga beberapa orang yang sepertinya adalah tombak dari kokohnya perusahaan itu.
Helma, perempuan yang beberapa saat lalu mengeluarkan racun dari mulutnya, kini terlihat anggun tanpa cela, seperti orang yang berbeda pikir Amara.
Pandangan Amara tak pernah putus melihat ke arah Helma yang sepertinya sengaja sedang memainkan drama. Jujur, Amara cemburu melihat sosok Helma yang seperti itu; cantik, pintar dan terlihat luwes bergaul. Akan tetapi sikap emosional berlebih yang perempuan itu tunjukkan padanya beberapa saat lalu, membuat Amara berdecih.
"Munafik!" gumam Amara dengan pandangan datar.
"Jangan diambil hati ucapan karyawan-karyawan tadi. Mereka hanya melihat dari luar saja, perempuan yang mereka bicarakan itu teman SMA Emir," ujar Andre.
'Ya. Aku pernah satu kelas dengan mereka. Dan Emir sudah mengenalku selama 23 tahun,' ujar Amara dalam batin.
Kalimat itu hanya sampai pada tenggorokannya saja. Jika pria disampingnya tahu akan hal itu. Sudah dipastikan mulut manisnya akan berubah pahit. Amara yakin itu.
"Apa anda mengenal Helma?." Pertanyaan Andre membuat Amara menoleh. "Anda terlihat tidak kaget dengan informasi yang saya katakan barusan. Apa kalian saling mengenal?" tanya Andre lagi penasaran.
...Bersambung...