
EMIR senang bukan kepalang. Ternyata kedatangannya ke Australia adalah keputusan tepat yang membawa pria itu bertemu dengan Amara.
Lamaran mendadak yang jauh dari kata persiapan membuat pria itu agak menyesal. Tak ada cincin, bunga atau apapun yang dia persembahkan bagi wanita yang selama ini ada di hatinya.
"Maaf," ujar Emir setelah mereka berpelukan dan berbagi kasih sayang dalam bertukar nafas hangat yang tak berapa lama.
Melihat Amara mengerutkan keningnya, Emir kembali melanjutkan, "Atas lamaranku yang nggak ada romantis-romantisnya," sesal Emir menatap Amara yang mulai mengembangkan senyum.
Amara mengulurkan tangannya untuk membelai wajah Emir. "Aku nggak pernah punya pikiran akan dapat yang seperti itu. Jadi nggak masalah buat aku," ujar Amara dengan senyum simpul.
"Tapi aku nggak bisa. Masa melamar Princess tanpa ada cincin dan Kuda putih," canda Emir yang membuay Amara tertawa pelan.
"Aku janji. Setelah semua beres, aku akan membuat lamaran terindah seperti di kartun-kartun Disney yang sering kita tonton sewaktu kita kecil dulu," janji Emir.
Amara hanya merespon dengan seulas senyum. Wanita itu tak menyangka bahwa Emir masih mengingatnya.
Menurut Amara. Langkah Emir yang dengan berani ingin menjadi Papa bagi Aidan--putranya, adalah hal yang lebih dari sekedar cincin, bunga, atau parade kuda putih.
"Besok aku akan kembali ke Indonesia," kata Emir. "Ada beberapa hal yang harus aku urus. Mungkin sekitar satu bulan ... Ah! Ck! Terlalu lama. Tapi aku usahakan tidak lebih dari itu. Setelah semua beres, aku akan menjemput kalian untuk pulang ke Indonesia," ungkapnya yang membuat Amara menganga.
"Aku dan Aidan? Bulan depan, ke Jakarta?" tanya Amara tak percaya. "Beneran, Mir?" ujarnya lagi yang diangguki Emir.
Emir butuh persiapan untuk pemindahan menyambut Aidan pulang ke Indonesia, termasuk kewarganegaraan anak itu yang masih terikat di bawah kartu keluarga milik Beryl--suami Melani. Serta banyak hal lainnya yang harus dia urus terkait pekerjaanya.
Satu bulan pasti kurang baginya untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk menikahi Amara juga.
Tapi dia tak terlalu khawatir, karena ada Edo--Asistennya yang detail dan terperinci yang melengkapi sikap perfeksionis Emir.
"Besok berangkat jam berapa?" tanya Amara.
"Pak Edo?"
"Masih ingat dengan Edo, kan?" Bagaimana Amara bisa lupa, Edo adalah orang yang telah membawa dirinya dalam pertemuannya dengan Emir. "Dia Asisten pribadi ku," beritahu Emir.
Jika dipikirkan lagi, kehidupan Emir memang memiliki proses luar biasa, selain berhasil membangun perusahaan berbasis Teknologi, kini Emir pun memiliki seorang Asisten pribadi yang begitu handal seperti Edo yang sedia kapan pun dan dimana pun Emir berada.
"Papa ...,"
Tiba-tiba Aidan terbangun. Anak itu langsung melihat sosok Emir yang duduk di atas ranjangnya.
"Maaf, Sayang. Apa Papa membangunkan mu? Ayo tidur lagi. Ini masih malam," ucap Emir mengelus lengan Aidan.
"Kalau begitu, Papa juga tidur disini!" pinta Aidan menepuk bagian kasur kosong disebelahnya.
Emir memandang kikuk ke arah Amara. Sebenarnya tatapan kikuk itu lebih kepada perijinan apa boleh dia tidur dikamar bahkan di ranjang yang sama dengan mereka--Aidan dan Amara.
"Ayo, Ma. Tidur juga," Aidan sedikit merengek sambil menguap.
Melihat kedua orangtuanya hanya terpaku dan saling tatap saja. Aidan terpaksa menarik lengan Emir dan Amara tepat dikanan dan kiri bocah itu.
Emir merangkak naik kesebelah kanan Aidan, sedangkan Amara langsung berbaring disebalah kiri putranya.
Dalam kesunyian di dalam kamar yang berhiaskan lampu tidur dengan warna kuning yang bertabur bintang disekitar kamar itu, Amara tak sengaja menoleh ke arah Emir yang tengah menatap sendu ke arahnya.
"I love you ...," ungkap Emir dengan suara lirih.
...Bersambung...