Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
137| Ayah Biologis



"Aidan. Dimana anak kecil itu?" tanya Emir panik.


Jika anak lelaki itu masuk dalam korban lalu lintas, bukan kah seharusnya Aidan kini berada didalam satu kamar bersama Amara -- sang Mama.


"Masih di ruang operasi," tukas Panca.


Emir mengernyitkan dahinya. "Apakah parah?" tanya Emir penasaran.


Panca mengembuskan napas perlahan. "Biar dokter yang --,"


Ucapan Panca terhenti saat suara dering gawainya berbunyi.


"Apa?!" sahut Panca dengan wajah panik. "Baik," katanya lagi, setelah itu dia menutup panggilan itu.


Panca melihat ke arah Emir yang sedang memasang raut wajah bingung. "Aidan kritis," beritahunya.


Emir terkejut bukan main. Wajah lelahnya begitu pias. Sebelum akhirnya meninggalkan kamar untuk ke ruangan dimana Aidan ditangani, Emir menyempatkan mengecup kening Amara. Lalu dia berbisik, "Tetaplah bersamaku, Amara. Aku akan melihat kondisi Aidan," kata Emir dengan berat hati. Lalu kembali dia mengecup kening wanita itu.


Setelah itu Emir bergegas mengikuti Panca menuju ruang operasi dimana Aidan berada.


Sesampainya diruangan operasi, ternyata sang dokter didampingi beberapa perawat masih terlihat berbicara serius dengan pria yang pertama kali menemui Emir di lobi rumah sakit.


Melihat kedatangan Panca dan Emir, dokter tadi segera menoleh dan melanjutkan ucapannya. Namun, kali ini matanya tertuju pada Panca, karena setahu dokter itu, pria paruh baya didepannya lah yang berinisiatif memindahkan pasien pada penanganan khusus. Tak terkecuali sang putri yang juga masih dalam keadaan koma.


"Kami kekurangan stok darah dengan jenis AB. Pihak Rumah sakit sudah menghubungi PMI (Palang Merah Indonesia) pusat, akan tetapi kosong," terang dokter muda yang sepertinya usianya tak jauh beda dengan Emir. "Saya sarankan untuk menghubungi pihak keluarga pasien agar kondisi ini segera teratasi. Kami tidak punya banyak waktu," sambungnya lagi.


Emir dan Panca saling bertatapan, seolah keduanya tengah mencari solusi bersama. Namun, di detik kemudian dokter itu kembali berkata, "Maaf, Pak Panca," sela dokter muda itu menginterupsi, Panca menoleh. "Ada yang ingin saya sampaikan terkait kondisi putri Anda, Pak," lanjutnya.


Tatapan Panca beralih pada Emir. "Segera hubungi Fahri," perintah Panca, lalu dia pergi.


Emir yang baru mengetahui dengan jelas bahwa Sandrina masih dalam penangan serius, langsung paham. Dan membiarkan Panca mengikuti langkah dokter tadi.


Setelah punggung Panca dan juga sang dokter tadi menghilang, kini tatapan Emir beralih pada perawat yang berbicara padanya.


"Apa anda wali dari pasien anak yang kini tengah membutuhkan darah, Pak?" tukas perawat didepan Emir.


Emir mengangguk. "Nama anak itu Aidan," beritahu Emir.


Emir langsung mengambil gawainya, dia mecari nama 'Fahri' dan memberitahukan semua yang terjadi.


Emir benar-benar dilanda frustrasi. Kali ini dia hanya bisa berharap kedatangan Fahri untuk Aidan.


Satu jam menunggu dengan cemas, akhirnya Fahri datang bersama sang istri dan juga kedua anak mereka yang Emir ketahui adalah sepupu Amara.


"Terimakasih, Om," ujar Emir yang kembali bersemangat.


"Saya yang harusnya berterimakasih," ujar Fahri menepuk pundak Emir. "Sekarang antarkan kami untuk mengecek sampel darah. Kita tak punya banyak waktu, kan?" tukas Fahri lagi, yang sama paniknya.


Setelah itu, Emir membawa Fahri dan juga keluarganya menuju ruang perawatan. Mereka dicek untuk mengetahui apakah darah mereka cocok atau tidak. Termasuk Emir juga ikut dalam proses pengambilan sampel darah itu.


Dua puluh menit menunggu, Akhirnya seoranh perawat mendatangi Emir dan yang lainnya diruang tunggu.


"Mohon maaf, tidak ada satupun dari sampel yang kami ambil cocok untuk pasien bernama, Aidan," beritahunya.


Jantung Emir seperti diremas, pria itu lemas bukan main.


Fahri tak kalah pucat. Namun, dia berusaha tegar. Bagaimana pun, Aidan adalah cucu nya juga.


"Waktu kami berapa lama, Suster?" tanya Fahri.


Terlihat perawat itu menilik ke arah jam tangannya. "Sekitar lima jam," tandasnya. Fahri mengangguk mengerti.


"Baik, Suster. Sebenarnya kami masih memiliki satu orang lagi. Semoga cocok," harap-harap Fahri yang cemas. Perawat itu pun mengangguk.


Emir yang mendengar ucapan Fahri terlihat menatap dengan kening berkerut. Emir merasakan kecemasan lain yang kembali mengusik pikirannya. Fahri yang menyadari reaksi Emir, langsung menatap ke arah pria itu.


"Pria itu ...," ujar Fahri ragu, "Kita butuh Ayah biologisnya," tandas Fahri.


Seketika itu, tubuh Emir bergetar. Kepalanya terasa panas dan berdenyut, bahkan napasnya kian memburu.


...Bersambung...