
...The Mission...
"Anda yakin, Pak? Tidak masalah jika saya ikut acara Reuni Sekolah Anda?" tanya Edo sambil mengemudi kan mobilnya.
Pagi tadi, Emir meminta Edo untuk datang menjemputnya di Kediaman Amara. Selama tinggal di Indonesia, Emir hampir tak pernah mengemudikan mobil, karena memang ia tak punya--bukan tak mampu membeli, tapi memang karena belum ia butuhkan. Masih ada Mobil Kantor dan juga supir pribadi. Bahkan terkadang Edo yang sering mengantar Emir kemana pun, seperti hari ini.
Dan baru hari ini Emir memutuskan untuk membeli mobil incarannya. Diantar oleh Edo untuk membantu mengurus surat-surat kepemilikan agar Mobil yang ia baru beli tadi dapat di antar ke rumah Amara siang ini.
Dan sekarang Emir akan pergi ke acara Reuni yang sudah ia rencanakan dengan Panca--teman sekolahnya dulu saat di SMA.
"Kalau sedang diluar jam kerja panggil saya 'Emir' saja," ujar Emir enteng. "Dan bicara santai saja. Jangan kaku begitu, seperti wajahmu" kekeh Emir menoleh ke arah Edo yang masih fokus menyetir.
Sejak menjadi junior dari Lelaki yang duduk disebelahnya saat mereka masih berkuliah di Universitas Tokyo, Lelaki yang kini menjadi Bos nya itu memang selalu bersikap apa adanya. Bahkan tak jarang bagi Edo mendengarkan kisah cinta sepihak yang masih Lelaki itu perjuangkan hingga kini.
Dan yang membuat Edo semakin yakin bahwa wanita itu adalah sosok istimewa bagi sang Bos, karena lelaki itu bilang bahwa mobil yang dibelinya hanya akan digunakan saat bersama dengan wanita bernama Amara saja.
Tunggu! Saat mendengar nama wanita pujaan dari Bos nya itu, Edo malah terpikirkann sosok Amara yang bekerja di rumah Kediaman yang Emir beli. Tapi tidak mungkin orang yang sama kan? Sungguh kebetulan yang memusingkan!.
"Baik. Saya akan sedikit lebih santai saat diluar jam kerja, Pak" kata Edo menjawab permintaan Emir.
Emir hanya geleng-geleng kepala menanggapi kalimat Edo yang malah terdengar lebih kaku dari sebelumnya.
"Oh ya, Pak. Anda belum menjawab pertanyaan saya" ujar Edo yang membuat Emir menoleh. "Apa saya tidak masalah ikut acara ini? atau saya menunggu anda di--"
"Acara ini juga bisa menjalin koneksi baru, Do. Jadi kamu harus bisa memanfaatkan situasi ini" ungkap Emir yang membuat Edo mengangguk paham.
Edo memang sempat melihat beberapa daftar nama Pebisnis yang akan hadir di acara Reuni itu. Dan hal itu membuat Edo berdecak kagum pada sosok Emir, ternyata pria itu lulusan dari sekolah terbaik yang menghasilkan para Alumni berkualitas sebagai ahli dalam berbagai bidang. Tentu saja Edo akan menunjukan kemampuan sosialnya untuk menggaet investor baru dari rekan-rekan sekolah Emir itu.
Memasuki Ballroom Hotel, Emir dan Edo sudah disambut oleh beberapa rekan yang pernah satu sekolah dengan Emir. Dan mereka adalah yang menjadi Panitia Penyelenggara.
Ruangan itu sudah disulap seperti acara konferensi--dengan meja bundar yang memenuhi di setiap sisi. Memang bukan sekedar acara Reuni biasa.
Edo masih setia berdiri tak jauh dari Emir yang tengah berbincang-bincang, lantas pria itu mengarahkan tatapannya kesetiap tamu yang hadir di acara itu. Dia ingin tahu, seperti apa sosok teman-teman sekolah dari Bosnya.
Sampai akhirnya tatapan Edo berhenti pada perempuan yang mengenakan kemeja putih khas pelayan di acara itu.
Amara.
"Sedang apa dia disini?" gumam Edo saat melihat wanita itu yang sedang sibuk menata hidangan.
...Bersambung...