
...The Deal...
SUDAH satu pekan pasca Edo menyuruh bawahannya untuk mengerjakan perintah dari Emir prihal renovasi rumah mewah itu.
Dan kini rumah itu sudah diperbaiki. Tembok rapuh dan bangunan lainnya yang retak sudah dirapihkan, begitupun dengan besi-besi yang berkarat sudah diganti dengan yang serupa.
Pengerjaan taman pun sudah mulai dilakukan.
Kini saatnya bagi Edo menemui orang yang dipercaya Tuan-nya untuk membersihkan rumah itu. Edo akan menanganinya langsung, karena ia harus lihat dengan mata kepalanya sendiri, orang yang begitu di puji atas hasil kerjanya oleh Tuan-nya itu.
Setelah sebelumnya dia berbicara pada pihak pengelola kebersihan dari Le Park City--prihal data cleaning service yang dimaksud, Akhirnya sekarang Edo bisa menemuinya.
"Maaf, Pak, saya terlambat. Tadi ...," ucap wanita yang masih mengatur nafasnya.
"Tidak masalah. Silakan duduk" Edo tak ingin berbasa-basi. Sebelum urusan degan wanita dihadannya ini beres. Edo tak akan tenang. "Silakan diminum dulu" ujar Edo saat wanita itu sudah duduk.
Mereka saat ini berada di cafe yang letaknya masih berada di dalam kawasan Le Park City.
Saat melihat wanita dihadapannya terlihat siap, Edo mulai angkat bicara, "Anda sudah dijelaskan prihal pertemuan ini oleh Ibu Novi, kan?" Pertanyaan Edo diangguki kepala oleh wanita itu.
Ya. Kemarin sore Amara dipanggil Atasannya--Bu Novi, prihal urusan yang akan dibicarakan lebih lanjut hari ini.
Edo melihat berkas data yang sedang dipegangnya. Sekelibat kernyitan muncul di wajah kakunya. "Amara Salim?" tanya Edo sambil menatap wajah wanita dengan raut wajah datar itu.
"Betul, Pak. Itu nama saya" sahut wanita itu.
Kenapa bisa kebetulan. Batin Edo.
Kemudian Edo menyodorkan beberapa lembar kertas yang berisi surat kontrak. "Silakan dibaca dulu" ujarnya.
"Ha-harus sekarang, Pak?" tanya Amara ragu dengan kemampuan pemahamannya.
"Saya tidak punya banyak waktu. Masalah ini harus selesai sekarang. Yang pasti dalam kontrak itu kamu tidak akan dirugikan. Cukup keluar dari pekerjaan kamu, dan menerima tawaran saya untuk membersihkan rumah saja, tentunya dengan bayaran tiga kali lipat dari pekerjaan kamu sebagai cleaning service di Apartemen itu, dengan jam kerja standar." jelas Edo singkat.
"Bayaran tiga Kali lipat??" Hanya itu yang Amara tangkap dan perlukan dari semua hal yang berbelit dihadapannya kini.
Setelah Pria kaku didepannya mengangguk, Amara meraih pena di meja itu yang sudah pasti disediakan pria dihadapannya. Saat Amara ingin membubuhi tandatangan nya, tiba-tiba Edo berkata, "Anda tidak baca secara keseluruhan?" kata Edo sambil mengernyitkan dahi.
Amara menggeleng mantap. "Bayaran tiga kali lipat dan jam kerja standar sudah cukup bagi saya untuk pekerjaan sebagai pembantu, Pak" ucapnya polos.
Edo tersenyum puas. Ternyata pekerjaan yang di tugaskan kali ini jauh lebih mudah dan cepat.
"Baiklah, Amara. Anda bisa mulai bekerja lusa. Karena rumah itu tidak bisa dijangkau sembarang orang, nanti saya akan mengirim supir ke alamat rumah anda untuk menjemput. Pastikan ada membawa perlengkapan pribadi" ujar Edo.
"Saya menginap maksudnya, Pak?"
Edo mendesah. "Iya. Hanya sampai pemiliknya siap untuk menempati" paparnya.
"K-kalau pemiliknya sudah menempati ... artinya saya tidak bekerja lagi dan tidak di gaji?"
Edo memijat pelipisnya kuat-kuat. Inilah kecerobohan orang yang malas membaca.
"Saya akan membuat surat kontrak baru. Anda bisa saya pindahkan ke tempat lain untuk menjadi Cleaning Service. Tentu saja dengan upah yang mengikuti kebijakan Pemerintah" jelas Edo mencoba bersikap profesional.
Amara terlihat mengembuskan nafas lega. "Baik, Pak. Saya paham. Asalkan nasib saya tidak berakhir pemutusan kerja. Dan tetap bekerja dimanapun dengan gaji sesuai kebijakan. Saya setuju."
...Bersambung...