Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
28| Sweet Rain



...Sweet Rain...


AMARA duduk seorang diri di Halte yang terdapat di seberang depan sekolahnya.


"Lama banget sih! Kok nggak lewat-lewat dari tadi," gerutu Amara sambil melihat ke arah jam yang melingkar ditangannya.


Tak lama kemudian, Emir keluar dari gerbang sekolah dengan membawa Ninja hitamnya. Dia melihat gadis itu dan segera menghampirinya di Halte.


Emir membuka helmnya dan turun. "Pulang yuk?" ajak Emir. Amara bergeming. "Ehm! N-nona Amara ... yuk, pulang. Aku antar," imbuh lelaki itu dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya yang mempesona.


Sepulang sekolah tadi, Emir bergegas ke ruang Osis karena ada rapat. Selama pertemuan itu berlangsung, Emir terlihat gelisah, pasalnya lelaki itu ingin pulang bersama Amara. Walau pun belum tentu gadis itu mau.


"Lama banget sih!" gerutu Amara tanpa menggubris ucapan Emir. Wajahnya semakin terlihat kesal.


"Lagi nunggu siapa?" tanya Emir penasaran. Dan lagi-lagi Amara tak menyahut. Kemudian Emir melihat awan yang terlihat gelap. "Kayanya udah mulai mendung. Aku antar aja, ya?" lirihnya.


"Aku nggak bisa duduk ditempat yang najis!" celetuk Amara.


"Astagfirullah, emang motornya kenapa?" tanya Emir. "Aku sudah cuci bersih" ungkapnya serius.


"Tempat itu bekas didudukin bokong orang. Aku nggak mau ikut gatel. Takut burik!" ketus Amara sambil melirik sekilas ke arah Ninja hitam yang tengah terparkir didepan Halte.


Bukan tanpa alasan Amara berkata seperti itu. Dia hanya teringat ucapan Sandrina yang mengatakan bahwa Emir pernah membawa Helma dengan Motor itu.


Sontak, Emir tertawa terbahak-bahak, dan lelaki itu tak menyadari raut wajah Amara yang kesal karena tertawaan Emir itu.


Seketika Emir menghentikan tawanya. "Maaf...,"


Kemudian Emir membuka kemeja putihnya dan menyisakan kaos putih oblong yang pas dengan tubuhnya.


Amara yang mendengar itu semakin kesal dibuatnya. Seolah-olah Emir sedang mengolok-oloknya.


"Kamu ngeledek Aku?!" ketus Amara setelah mendengar ucapan Emir barusan.


Emir terdiam sejenak, dia menelaah kembali apa yang salah dari ucapan dan prilakunya.


Kemudian Emir berjalan mendekati Amara, lalu dia berjongkok didepan gadis itu. "Aku enggak berniat seperti itu, sungguh! Aku cuma bingung bagaimana bicara sama kamu. Aku enggak bisa kamu diemin aku berhari-hari begini, Amara. Aku sungguh nggak tahan" lirih Emir dengan suara parau dan mimik wajah memelas.


Gluduk! Jeger!


Suara petir meminta ijin turun. Dan kedua remaja itu terkaget-kaget dengan suara ijin petir yang begitu menggelegar. Tak lama, Hujan pun turun dengan derasnya.


Kedua remaja itu melihat ke arah Ninja yang sudah basah se-basah-basahnya karena guyuran hujan. Kemeja Emir pun ikut kuyup diatasnya.


Kini keduanya hanya duduk terdiam. Mereka hanya memandangi hujan yang turun begitu deras siang itu.


Ada kenangan buruk bagi keduanya tentang hujan disiang hari. Emir pernah lupa dengan sebuah janji, yang membuat Amara harus terluka sampai basah kuyup. Dan pada akhirnya membuat usia 17 tahun menjadi hadiah terburuk bagi Amara. Dan akhirnya membawa kondisi mereka merenggang sampai detik ini.


"Aku benci hujan" lirih Amara ditengah suara hujan yang saling bersambutan dengan jalan aspal.


Emir menoleh ke arah gadis dengan berbagai perasaan bersalah yang berkecamuk.


"Maaf" lirih Emir yang masih menatap wajah gadis yang duduk tak jauh darinya.


...Bersambung...