Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
63| Reaksi Tak Terduga



...Reaksi Tak Terduga...


EDO yang menatap kedua manusia yang masih terpaku di ambang pintu itu dibuat gemas.


Tak tahan dengan situasi canggung ini, akhirnya Edo berinisiatif mencairkan suasana.


"Bagaimana kalu kita masuk dulu?" Edo langsung mengarahkan tangannya kearah dalam rumah itu untuk memberi jalan bagi Emir. "Dan, Mbak Amara ... saya akan jelaskan situasi ini"


Amara yang sadar akan ucapan Edo, bergegas menarik diri dari keterkejutannya, dan melangkah mendahului ke ruang tamu.


Emir mengikuti Amara dalam diam. Melihat punggung kecil yang tampak ringkih itu membuat Emir menelan kasar ludahnya.


Banyak pertanyaan yang sudah ingin ia utarakan. Terutama kondisi Amara yang terlihat kurus kering. Namun lagi-lagi dia teringat pesan Edo, agar bersikap sewajarnya.


Beberapa hari lalu kedua pria itu berdebat. khususnya Emir yang tak terima dengan ide yang Edo sampaikan.


"Mbak Amara, itu takut bertemu Anda, Pak!"


Pernyataan Edo ini bukan tanpa Alasan. Pria itu ingat betul bagaimana reaksi Amara yang mati-matian pergi saat menyadari keberadaan Emir di acara Reuni beberapa waktu lalu.


"Takut? Padaku?" Emir tak percaya pada kenyataan mengerikan ini. Dia tak bisa membayangkan jika ucapan Edo ternyata benar.


"Saya mohon. Ikuti saran saya. Perlahan ... tapi pasti. Ingat itu, Pak!" Saran Edo ini akhirnya diterima Emir dengan perasaan berat.


Lagi-lagi Emir mengembuskan nafasnya, mencoba tenanh dan harus melatih sabar agar bisa kembali mendekati Amara.


"Apa saya perlu buatkan minum?" Amara menatap Edo. "Teh ... atau kopi mungkin?"


"Tidak perlu, Mbak. Saya hanya ingin meluruskan beberapa hal saja" beritahu Edo. "Silakan duduk, Mbak," Edo mengarahkan tangannya pada sofa dihadapannya.


Edo kali ini akan berusaha membantu Emir dengan menjadi jembatan agar hubungan keduanya tak sekaku ini. Minimal sampai Amara berani bicara dengan Emir.


Sebab sejak pertemuan mereka, Amara hanya diam dan tak mengatakan sepatah katapun. Kondisi ini akan sulit bagi Emir yang sudah tak bisa menahan keingintahuannya tentang wanita itu.


"Mbak Amara masih ingat pertama kali saya minta Anda untuk bekerja disini?" Edo bertanya dengan penuh kehati-hatian.


Tentu saja Amara ingat. Semua berawal dari Apartemen yang dia bersihkan dulu, kan.


"Eh! Apa mungkin pemilik Apartemen yang melakukan pesta itu adalah, Emir?" Amara kembali terlempar pada kejadian menjijikan saat dirinya membersihkan kekacaun di Apartemen itu.


Emir yang sedari tadi tak luput menatap Amara terkejut bukan main saat Amara membalas tatapannya.


Beberapa detik dia terpaku, lalu tersadar, seolah dapat mengerti arti tatapan dari wanita itu. "Bukan Aku yang melakukan itu! Andre! Dia yang sudah tanpa ijin dan membuat kekacauan menjijikan disaat Aku tak ada di sana! Dan aku sudah pindah." Penjelasan Emir yang secara tiba-tiba dan terdengar seperti satu tarikan nafas itu seperti orang yang ketahuan berselingkuh. Terlihat panik.


Amara tak sadar dirinya tersenyum saat menyaksikan reaksi Emir yang baru pertama kali dilihatnya itu. Dulu Emir adalah orang paling tenang dalam memberikan tanggapan. Apakah Negeri Sakura itu sudah memberinya banyak perubahan?


"Eh ... barusan Dia tersenyum, kan," batin Emir bersorak saat kembali melihat senyuman manis di raut wajah Amara, walau tipis. Tapi Emir senang. "Kamu percaya, kan?" Kali ini pria itu benar-benar ingin Amara tak punya pikiran negatif tentangnya.


Amara mengangguk lalu berkata, "Saya percaya," lirih wanita itu yang ternyata tak berhasil melepas senyumnya.


Edo yang melihat interaksi keduanya ini merasa senang. Setidaknya ada kemajuan. Dan satu hal yang dilihat dari reaksi Amara barusan--ternyata jika wanita itu tersenyum, memang terlihat seperti Amara salim yang fotonya terpajang di kamar Apartemen Bos-nya itu.


...Bersambung...