
...Tempaan Waktu...
WAKTU sudah menunjukkan pukul 2 siang, tetapi cuaca yang terlihat dari luar jendela di rumah itu menampakkan suasana redup dengan kumpulan awan yang menggelap.
Edo bangkit berdiri. Dia merasa semua penjelasan tentang hubungan dirinya dan juga Emir yang ikut datang ke rumah ini sudah cukup dia jabarkan seperlunya.
Emir mengantar Asistennya itu sampai menuju mobilnya yang terparkir di halaman depan.
"Terimakasih, Do" Emir menepuk pundak Edo.
"Saya hanya membantu sedikit, Pak. Selebihnya saya percaya Anda bisa membuat hubungan Anda dan Mbak Amara bisa mencair seperti dulu" harap Edo tulus mengatakannya.
Setelah kepergian Edo dari rumah itu, Emir kembali menarik nafas sedalam-dalamnya, lalu menghelanya dengan sangat pelan.
Dengan langkah mantap, Emir kembali masuk ke rumah itu. Namun Amara tak terlihat diruang tamu. Disana hanya ada beberapa berkas yang tadi sengaja Edo tinggalkan--sudah tersusun rapi.
Amara yang kembali ke ruang tengah untuk meneruskan pekerjaanya yang tertunda tadi, mulai merasa canggung, saat sebuah langkah tiba-tiba terdengar mendekati dirinya yang sedang menaruh pajangan keramik kedalam lemari kaca besar diruangan itu.
"Ada yang bisa kubantu?" Emir mendekat kearah Amara yang sedang memasukan panjangan terakhir.
Amara menoleh sekilas. "Sudah selesai, kok" ujarnya pada sosok pria yang berdiri disebelahnya dengan tatapan hangat.
"Barang mahal memang tak pernah bohong ya," Emir menatap benda kecil yang terbuat dari porselen dengan lapisan berlian imitasi di hampir permukaanya.
Amara menoleh ke arah Emir sambil mengerutkan keningnya. "Hem?" respon wanita itu yang tak paham.
Emir mengarahkan matanya dari benda di dalam bufet kaca kini beralih menatap bola mata Amara yang kecokelatan. "Benda itu" tunjuk Emir dengan matanya. "Tante Liana beli saat kita masih kelas dua Sekolah Dasar. Kamu yang pilih kelinci itu, kan?"
"Aku kangen Tante Liana," Perkataan Emir membuat Amara menunduk-masih menghadap bufet. "Sebaiknya kalian pindah kesini secepatnya." Mendengar ucapan Emir, Amara berbalik dan melangkah. "Tidak bisa" ucap Amara yang kini sudah duduk di ruangan itu, di kursi rotan beralaskan bantalan beludru merah.
"Kenapa?"
Pertanyaan Emir yang terdengar bingung hanya menggantung.
Kemudian Pria itu berjalan dan duduk disebelah Amara. "Ini rumah kalian!" tegas Emir.
"Saya punya rumah sendiri, Mir. Tapi bukan disini" beritahu Amara yang masih menunduk memainkan jemarinya.
Ya. Sejak Amara dan Sang Mama bertekad melepas rumah ini untuk dijual, saat itulah mereka mengikhlaskan semua kenangan semasa masih tinggal di rumah ini, termasuk semua perabotan.
"Tante Liana pasti mau kembali kesini. Biar aku yang mengatakannya. Aku juga rindu ingin bertemu Mama mu," Wajah Emir benar-benar memelas saat mengatakannya.
"Mama sudah meninggal, Mir" kata Amara yang masih menunduk.
Pernyataan Amara barusan membuat jantung Emir terasa diremas. Pria itu jadi teringat ucapan Sandrina yang mengatakan bahwa dirinya tak tahu menahu tentang Amara. Dan fakta itu membuat Emir malu sekaligus sakit.
Emir langsung berjongkok didepan Amara, menggenggam jemari wanita itu, lalu mencari mata Amara yang masih menunduk. "Sejak kapan?" tanya Emir dengan suara tercekat. "Kenapa Bunda nggak kasih tau aku" sesalnya lagi.
Amara memberanikan menatap mata Emir--bola matanya yang hitam dengan bingkai garis mata yang tajam telah digenangi air mata. "Satu tahun setelah kepergian Papa," beritahu Amara dengan tatapan dan suaranya yang datar. Seolah kesedihan itu telah surut sepenuhnya.
...Bersambung...