Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
65| Air Mata Terakhir



...Air Mata Terakhir...


SAAT Emir mengatakan bahwa pria itu juga merindukan Ibu Amara, sekelebat ingatan muncul di benak Amara.


Saat itu Amara masih berusia di awal 20 tahun, gadis besurai hitam dengan panjang sepinggang berlari sekuat tenaga menuju Rumah Sakit dimana Ibunya di rawat.


Tadi siang saat gadis itu bekerja, tiba-tiba sebuah panggilan mengatakan bahwa sang Ibu pingsan. Amara memang sudah curiga saat Sang Mama terus menerus mengkonsumsi ramuan herbal yang diseduh. Belum lagi tubuh sang Ibu yang setiap waktunya bertambah kurus.


Amara tidak berani membayangkan apa yang terjadi pada Ibunya. Namun sebuah kenyataan pahit dari pernyataan Dokter mengatakan bahwa Sang Ibu sudah lama tak melakukan pengobatan.


"Apa Dok? Stadium akhir?"


Amara terperanjat saat sebelumnya gadis itu pingsan sesaat Dokter wanita itu mengatakan bahwa Sang Ibu menderita Kanker Serviks.


Dokter Niken kembali memperlihatkan jurnal kunjungan kesehatan selama Ibunya berobat. Tanggal yang tertera disana jelas menunjukkan bahwa Ibunya sakit jauh sebelum Ayah dari gadis itu meninggal.


"Kenapa Mama nggak pernah kasih tau Amara, Ma." Batin Amara begitu sesak, dia baru tau kenyataan ini.


Pengobatan akhirnya kembali dilanjutkan. Namun Dokter Niken--Dokter yang biasa menangani Ibu Amara menganjurkan pengobatan di Singapura, hal itu dikarenakan di Indonesia masih belum memiliki fasilitas kemoterapi yang mumpuni dalam penanganan Kanker Serviks saat itu.


Amara benar-benar dilanda kebingungan. Dia dan Ibunya tak memiliki tabungan. Satu-satunya harta peninggalan dari Almarhum Ayahnya adalah Rumah mereka.


Dan disaat itulah, gadis itu meminta ijin pada Ibunya untuk menjual Rumahnya. Awalnya Sang Ibu keberatan, bahkan dia tak ingin diobati. Namun Amara berdalih tak bisa lagi membiayai Rumah itu yang terbilang berat dalam pembayaran listrik, uang bulanan, dan belum lagi perawatan Rumah yang harganya tak main-main, akan tetapi, lebih dari apapun Amara tak mau kehilangan sang Ibu. Dan akhirnya mereka pun berhasil menjualnya.


Pengobatan yang berjalan hampir dua tahun itu dijalani dengan berat oleh Amara. Bahkan gadis itu rela bekerja jadi tukang bersih-bersih untuk sekedar bisa membayar biaya rumah sewaan di Singapur selama pengobatan Sang Ibu.


Liana yang melihat Putri semata wayangnya semakin lama semakin kurus, tak tega sama sekali. Bahkan Amara rela memangkas habis rambut panjangnya, demi agar tak risih saat bekerja.


"Sayang ...," Liana--Ibu Amara bersuara lirih memanggil Amara yang sedang mengelap tubuh ringkihnya.


"Mama mau pulang. Mama sudah lelah,"


Pernyataan dari Ibunya tentu membuat Amara menghentikan gerakannya yang sedang membasuh lengan Sang Ibu dengan lap basah.


"Biarkan Mama pulang, sayang. Mama mau berkunjung ke Makam Papa" pinta Liana--Ibu Amara dengan tatapan sendu.


Amara yang mendengar itu, mati-matian membendung air matanya. "Mama harus sembuh dulu," ucap Amara.


Sang Ibu menggeleng dengan gerakan lemah sekali. "Tidak. Mama mau pulang saja. Sisa uang yang ada ... belikan lah Rumah kecil, biar sepulang kita ke Indonesia, ada tempat tinggal. Mama mohon, sayang."


Atas permintaan Sang Ibu yang berulang kali mengatakan 'lelah' serta 'rindu pulang' membuat Amara tak bisa menolak. Batinnya berkata bahwa keinginan Ibunya harus segera dikabulkan.


Keesokannya, gadis itu bertolak ke Indonesia, membawa sisa uang yang hanya tinggal Tiga ratus juta rupiah untuk membeli rumah dipinggiran Jakarta.


Dan pada akhirnya pengobatan yang sudah berjalan selama hampir dua tahun itu dihentikan atas permintaan Sang Ibu.


Hidup di pinggiran Jakarta dan tinggal dirumah yang ukurannya jauh lebih kecil dari kamar Amara di rumahnya dulu, tak membuat gadis itu mengeluh. Yang terpenting baginya sekarang, adalah bersama Ibunya.


Namun naas, setelah dua bulan tinggal di rumah kecil itu, Liana tak sanggup bertahan. Bukan karena rumahnya yang kumuh. Tapi karena wanita paruh baya itu sudah menyerah, dia tak sanggup bertahan lebih dari ini. Dan akhirnya, Amara harus merelakan kepergian Sang Ibu yang sudah berjuang bertahun-tahun melawan penyakitnya.


Liana mengembuskan nafas terakhirnya. Wanita itu sudah tak sakit lagi saat itu, dan Amara merasa senang melihat Sang Ibu yang terus menerus berterimakasih karena selalu mendampinginya, Amara merasa berguna.


Dan air mata Amara pun menetes untuk yang terakhir kalinya. Dia berjanji.


...Bersambung...