Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
106| Bisikan Setan



"Kalau kau sudah tau rasanya. Aku jamin, kau pasti akan ketagihan," celetuk Andre dengan menaik-turunkan kedua alisnya.


Emir langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Andre yang masih menampakkan wajah tengil pria itu.


"Bercinta adalah cara terbaik untuk melepaskan penat dan hasrat, Mir. Ayolah ... jangan terlalu naif," desis Andre tepat dihadapan Emir.


Edo yang berdiri dibelakang Emir, hanya merutuki mulut Andre yang terlalu ceplas-ceplos.


Emir terlihat ingin memaki. Namun, sedetik kemudian langsung dia urungkan. Karena percuma saja meladeni Andre yang otaknya sudah tercemar, pikir Emir. Pria itu paling pintar bersilat lidah.


Kini Emir memaksa menyunggingkan senyumnya. Lalu dia berkata, "Akan aku pikirkan saranmu, kawan. Dan aku butuh waktu untuk memproses ucapan berhargamu itu. Jadi aku minta maaf. Karena aku tak bisa memberikan secangkir kopi yang aku beli dari Brasil untuk temanku yang sangaaat baik ini!" ujar Emir yang terdengar sarkas. Edo hanya cengar cengir saja melihat sikap atasannya itu.


"Uuh! Tiba-tiba buku kudukku meremang" tukas Andre yang tiba-tiba merinding. Lalu pria itu berbalik badan dan meninggalkan Emir yang masih memasang senyum palsunya.


Setelah berhasil mengusir Andre dengan sikap sarkasnya, Emir pun memasuki ruang kantornya dengan perasaan bercampur aduk -- lega sekaligus resah. Kemudian pria itu langsung menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya.


Rapat persiapan grand launching akan diadakan bulan depan. Dan itu artinya, Emir harus mengundurkan jadwal pernikahannya.


"Ck! Ada aja hambatannya," gumam Emir kesal sendiri.


Dalam kegelisahannya, Emir melirik foto yang terpajang di atas meja kerjanya, foto seorang bocah lelaki yang tengah memeluk Ibunya dari belakang. Ah tiba-tiba Emir jadi rindu pada Aidan dan Amara, karena pagi tadi belum sempat menyapa keduanya saking terburu-burunya.


Pikiran Emir menerawang pada kejadian tadi malam saat Amara tidur dipelukannya. Jiwa kelaki-lakiannya sempat bangkit berkali-kali saat Amara menganggap tubuh Emir layaknya guling.


Seandainya dia pria bejat, mungkin sudah dilahapnya Amara. Untungnya pertahanan Emir sangat kuat, sehingga dia masih bisa menahan diri dari godaan Setan.


Diusianya yang akan memasuki kepala tiga, sebenarnya Emir termasuk pria tangguh yang dapat menahan hasrat kelelakiannya. Dia memang bukan manusia suci, pernah beberapa kali Emir melampiaskannya sendiri dengan menonton tayangan dewasa dan memandangi foto Amara -- saat dia masih menjadi mahasiswa ketika masih di Jepang, dulu.


Mengingat aksi memalukannya itu, Emir jadi jijik sendiri. Benar kata Ibunya -- Fatma, dosa itu dimulai dari mata. Kalau tidak punya iman yang kuat, maka akan dengan mudah terseret dalam dosa.


Hal memalukan itu jangan sampai diketahui orang lain, terlebih Amara. Bisa mati dia. Pikir Emir.


"Aku bukan bajingan," gumam Emir pada dirinya sendiri.


Jika tak ada Surga dan Neraka. Mungkin Emir akan dengan senang hati melakukan apa yang diucapkan Andre barusan.


"Bercinta dapat menghilangkan penat dan juga hasrat," gumam Emir mengulang ucapan Andre.


Ya. Sepertinya kalimat Andre sudah berhasil mempengaruhi Emir yang iman-nya semakin tipis. Andre memang partner setan sejati. pikir Emir.


Setelah pengusiran Emir secara sarkas, Andre memilih menyatroni Helma di ruang kerja wanita itu. Wanita cantik dan pintar, tapi ketus.


"Hai Darling," sapa Andre saat pria itu baru membuka pintu ruangan Helma.


Helma yang tengah sibuk dengan lembaran kertas diatas mejanya, hanya melirik sekilas ke arah Andre.


"Sepertinya kamu nggak ada kerjaan, Ndre!" ketus Helma yang masih sibuk dengan kertas-kertas itu.


Andre berjalan kearah Helma yang terlihat mengacuhkannya. "Aku adalah investor sejati. Aku hanya menunggu pundi-pundi keuntungan memenuhi rekeningku, Darling," celetuknya yang kini duduk dihadapan Helma.


"Jangan panggil aku seperti itu. Menjijikan!" ketus Helma. Andre hanya mencebik melihat sikap galak wanita dihadapannya.


"Kau masih mengharapkan, Emir?" tebak Andre.


Helma cukup terkejut saat mendengar pertanyaan pria selengean yang duduk bersandar didepannya itu.


Sampai membuat Helma mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas yang berserakan dimejanya -- ke arah Andre yang memasang wajah penasaran.


...Bersambung...