
...~Tidak peduli kesedihan apa yang ada di masa lalumu atau di masa depan kita. Aku akan selalu ada bersamamu~...
KEDATANGAN Emir disambut bahagia oleh Aidan. Anak lelaki itu berlari menghampiri Emir yang baru saja menuju ruang makan.
"Papa!" pekik Aidan yang berlari menghampiri sosok pria yang dia anggap sebagai Papa-nya.
Dengan sigap, Emir pun merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Aidan dalam dekapannya.
"Hi, my Super Boy! Do you miss me so bad?"ujar Emir sambil mencium gemas pipi gembul Aidan.
Aidan merengkuh leher Emir lalu membalas mencium pipi pria itu.
"Sangat. Aku menghitung setiap detiknya sampai Papa datang," celetuk Aidan yang membuat Emir semakin gemas.
"Asal kamu tahu aja, Mir. Sejak kamu kembali ke Jakarta, Aidan terus melihat kalender dan memberikan tanda silang pada tanggal yang telah terlewat," timpal Melani yang sedang menyiapkan makan malam. Wanita itu tergelak saat mengingatnya.
"Dari pagi, Yeden sudah sibuk merapikan tas Dino nya, Uncle," celetuk Rossie yang sedang memakan potongan buah. "Ck! Dia anak yang tak sabaran!" desis Rossie sambil geleng-geleng kepala.
Kedatangan Emir hari ini sudah diketahui oleh semua orang dirumah itu, dan Amara lah orang yang memberitahu prihal kedatangan Emir sore ini, dan tentu saja Emir lah yang mengabari Amara. Sebab hampir setiap hari mereka berkomunikasi, terkadang lewat pesan teks dan lebih sering melalui panggilan video.
"Kita akan berangkat besok pagi. Oke!" tukas Emir menenangkan Aidan yang tampaknya memang sudah tak sabar.
"Yeden. Tolong panggil Mama Amara, kita akan makan malam," ucap Melani.
Saat Aidan akan turun dari gendongan Emir, pria itu langsung berkata, "Biar Papa yang memanggil. Kamu duduk disini temani Rossie," ucap Emir.
Pria itu langsung mendudukan Aidan pada kusri disebelah Rossie yang masih fokus memakan buah pear-nya.
"Dia berada dikamar Aidan," beritahu Melani pada Emir.
Emir langsung menaiki lantai 2. Dimana kamar Aidan yang juga kamar Amara--yang mereka tempati sejak mereka tinggal di rumah ini. Dan tentunya kamar yang pernah Emir tiduri saat mereka bertiga tidur dalam satu ranjang.
Pintu kamar terlihat terbuka. Dan Emir langsung masuk kedalam tanpa mengetuknya.
Emir berjalan mengendap-endap, dia penasaran dengan apa yang dilakukan Amara.
Ternyata wanita itu tengah memandangi album foto yang sepertinya berisi kumpulan gambar seorang bayi. Dan itu adalah foto Aidan sewaktu baru lahir.
"Hei ...," sapa Emir dengan suara rendah.
Pria itu ikut duduk dibelakang Amara. Meraih pundak bagian kiri Amara menggunakan lengan kiri pria itu, lalu dia rengkuh.
"Are you oke?" bisik Emir.
Pria itu lalu mengecup pundak kanan Amara.
Emir tahu, bahwa Amara sedang menahan tangis, hal itu terlihat dari tubuh wanita itu yang sedikit bergetar.
Amara yang sejak tadi menyadari kedatangan Emir dari aroma khas parfum pria itu, langsung menetralkan suaranya yang tercekat. Wanita itu tak sanggup menoleh ke arah Emir dengan mata sembab dan basah karena menangis. Dia malu.
"Apa Bayi itu ... Aidan kita?" ucap Emir.
Pria yang masih menempelkan bibirnya dipundak Amara, ikut menatap pada foto lawas yang menampilkan gambar Aidan sewaktu bayi.
Sejenak hening. Hanya terdengar suara detak jam yang berpacu dengan getaran tubuh Amara.
"Apa ... keputusanku ... mempertahankan Aidan, sudah benar, Mir?"
Suara serak Amara yang tercekat begitu lirih di telinga Emir.
Walau terdengar terlambat. Akan tetapi itu wajar bagi seorang Amara. Pasalnya mulai sekarang Aidan akan hidup bersama Amara. Kemanapun wanita itu pergi. Kini Aidan akan ada bersamanya, maka rasa kekhawatiran dan ketakutan pun muncul seketika.
Amara yang baru menyadari semuanya, membuat wanita itu tak percaya diri merawat Aidan seorang diri tanpa Melani--karena selama ini Melani lah yang menangani Aidan--mengambil alih tanggung jawabnya sebagai seorang ibu yang sebenarnya belum siap dilakoni Amara dengan kondisi mentalnya yang seperti ini.
...Bersambung...