
MENDAPATI sebuah panggilan dari nomor ponsel Amara, Emir segera mengangkatnya.
"Hai, Papa!"
Suara ceria Aidan yang terdengar dari layar ponsel Emir membuat perasaan pria itu kembali membaik. Kemunculan wajah mungil bocah lelaki yang sebentar lagi berusia enam tahun itu seolah menjadi kekuatan untuk Emir bisa lebih optimis.
"Hai, Jagoan! Oh ... Papa kangen banget sama kamu!" ungkap Emir dengan binar rindu. Padahal baru satu hari tidak bertemu.
"Lihat ini!" Tunjuk Aidan pada sebuah pasta gigi anak.
Emir menatap heran pada apa yang ditunjukkan Aidan. "Pasta gigi?" tanyanya bingung.
Tak lama wajah Amara muncul, wanita itu berada dibelakang Aidan. Menampakkan senyum hangat yang membuat Emir semakin ingin cepat pulang.
"Kamu sakit?" tanya Amara sesaat melihat raut wajah Emir yang terlihat lelah.
Seketika Emir melihat pantulan dirinya yang ada dilayar kecil pada ponsel miliknya. Wajahnya memang terlihat lelah, persis seperti orang sakit. Mungkin pengaruh belum makan dan ditambah dengan masalah internal di perusahaanya.
Emir menggelengkan kepala lalu berkata, "Hanya lelah dengan jadwal meeting" ucapannya terdengar mengeluh.
Jika mengingat kembali kejadian rapat pemegang saham pagi tadi, emosi Emir kembali meningkat. Dan dia masih harus di Jepang karena putusan akhir akan ditentukan tiga hari lagi.
Masa bodo pikir Emir. Yang terpenting sore ini dia bisa melihat orang-orang yang membuatnya selalu bersemangat.
"Apa kami menganggu?" tanya Amara dengan gurat cemas.
Secepat kilat Emir menggeleng. "Justru kalian yang bikin aku tambah semangat," ungkap Emir menyunggingkan senyum lebar.
"Oh iya, ada apa dengan pasta gigi itu?" tanya Emir yang masih penasaran dengan apa yang tadi Aidan tunjukkan.
Amara berdeham. "Aidan, mendapat tawaran untuk membintangi iklan produk pasta gigi itu," terang Amara yang membuat Emir terperangah.
"Hah? Kok bisa?" Emir terkejut saat mendengar kabar itu.
Nampaknya menjadi Brand Ambasador untuk produk Smart watch Izekai membuka jalan bagi Aidan untuk menjadi bintang dadakan.
"Mereka datang ke Sekolah. Dan mereka juga memberikan kartu nama jika Aidan bersedia," beritahu Amara sambil menunjukkan sebuah kartu nama ke layar ponselnya.
Hampir satu jam mereka melakukan panggilan video itu. Emir dengan seksama mendengarkan cerita Aidan yang begitu antusias membahas kegiatan sekolahnya. Emir sendiri sangat menikmati interaksi itu. Setidaknya hal itu bisa menghilangkan penat.
Sampai pada sebuah pesan yang masuk ke ponsel Emir dan dengan terpaksa pria itu harus menyudahi panggilan videonya.
Itu adalah pesan yang dikirim oleh Edo -- Asisten Emir. Pesan berupa file yang sepertinya penting itu langsung Emir buka di tab miliknya.
Rentetan nama Investor yang bersedia ada di pihak Emir terpampang jelas dilayar 10 inci miliknya. Masih kurang pikir Emir.
Setelah rapat pemegang saham pagi tadi yang meng-agendakan pencopotan jabatan Emir sebagai CEO Izekai Megatech, Edo bergegas membuat janji dengan para Investor yang memutuskan tetap berada dipihak Emir.
Hal itu dilakukan secara cepat karena tiga hari kedepan adalah putusan final akan nasib Emir di Izekai.
Emir hanya tak habis pikir. Beberapa waktu lalu padahal produk rancangannya sukses dipasaran. Dan sekarang seolah tak ada artinya, sebagian besar Investor malah menginginkan Emir melepaskan jabatan itu. Dan hal ini tentu saja tak lepas dari pengaruh Tadaki dan juga ...
Ah! Helma. Emir harus bertemu dengan wanita itu.
Dengan wajah lelah dan pakaian yang belum berganti sejak rapat tadi pagi. Emir segera keluar dari Hotel dan menuju ke kediaman Helma yang tak jauh dari tempatnya menginap.
Tak sampai lima belas menit, taksi yang dikendarai Emir memasuki kediaman Helma yang masih di seputaran Tokyo.
Rumah bergaya tradisional itu masih tampak sama. Dulu saat pertama kali Emir menginjakkan kakinya di Jepang. Keluarga dari pihak ayah Helma yaitu nenek nya, pernah menawarkan Emir untuk tinggal ditempat itu bersama Helma. Namun, Emir menolak dengan alasan bahwa ada fasilitas asrama dari pemerintah yang bisa dia gunakan.
Dan sekarang dia tidak menyangka akan kembali kerumah ini. Tentu dengan niat lain.
Pria itu turun dari taksi dan menuju gerbang. Tak lama gerbang itu dibuka. Sepertinya kedatangan Emir sudah ditunggu oleh penghuni dirumah itu.
Melangkah menuju pintu utama ternyata sudah ada Helma yang menyambutnya.
Dengan senyum cerah Helma terlihat mempesona disore itu. Jika bukan karena ambisi Tadaki, mungkin Emir akan membalas senyuman Helma.
"Hai, Mir. Akhirnya kamu datang," ujar Helma yang tanpa aba-aba menarik lengan Emir untuk masuk.
...Bersambung...