Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
Melepaskan



"Pertemukan Aku dengan Helma." Permintaan Amara tentu saja membuat Emir terbelalak kaget mendengarnya.


"Helma sudah membayar semua perbuatannya. Dia kini sudah mendekam di penjara untuk waktu yang lama," beritahu Emir.


Emir tak ingin Amara terluka oleh semua perkataan Helma jika mereka bertemu. Itulah yang dikhawatirkan Emir selama ini. Sebuah kenyataan yang baru Emir tahu tentang Helma, perempuan itu memiliki tempramen buruk dan kerap berkata kasar. Emir tahu bagaimana rapuhnya seorang Amara oleh sebuah kalimat yang menusuk.


"Ada yang ingin aku sampaikan pada dia," ujar Amara.


"Aku tidak mau kamu mendengar ucapan perempuan itu yang bisa saja membuatmu terluka," Emir baru tahu jika mulut Helma tak kalah tajam dari Sandrina. Lelaki itu pikir selama ini Helma sudah sangat baik menutupi tabiat aslinya.


"Mir ... Aku bukan lagi Amara yang berusia 17 tahun. Aku nggak akan tersakiti lagi hanya sebuah perkataan. Aku sekarang adalah seorang Ibu. Aku melakukan ini atas nama putraku--"


"Putraku juga," sela Emir dengan raut wajah menekuk. Dia tidak suka jika Amara tak melibatkan namanya dalam urusan apapun, terlebih yang berkaitan dengan Aidan.


Melihat sikap Emir yang merajuk, tiba-tiba Amara menutup mulutnya, dia tidak tahan ingin tertawa. Menurutnya, Emir tak pantas merajuk seperti itu.


Emir yang melihat Amara tertawa dibalik telapak tangan, sangat dibuat gemas. Sudah lama wanita dihadapannya tidak menunjukkan ekspresi yang lepas seperti itu.


"Kamu mentertawakanku?" Pertanyaan Emir lebih ke arah menggoda wanita dihadapannya.


"Ssstt!" seru Amara sambil menaruh jari telunjuknya di bibir Emir.


"Kamu yang tertawa kenapa Aku yang disuruh diam,"ujar Emir dengan bibir tertahan oleh telunjuk Amara. Sehingga wanita itu kegelian dan langsung menurunkan jemari telunjuknya yang menutupi bibir Emir.


"Aku jadi lupa mau bicara apa tadi," keluh Amara.


"Anak kita ...," ujar Emir mengingatkan dengan menunjukkan mimik wajahnya yang menggoda wanita dihadapannya. Amara mencoba tak terpancing, dan dia menarik nafas panjang lalu mengembuskan nya cepat.


"Oke! Dengar!" Tukas Amara dengan tatapan serius, sehingga membuat Emir kembali fokus dibuatnya. "Selama ini aku tidak bisa menyangkal dengan baik apa yang dilontarkan Helma. Untuk terakhir kalinya, aku hanya ingin dia tahu apa yang akan aku ungkapkan. Terserah dia mau dengar atau nggak. Yang terpenting Aku harus menyampaikan ini padanya," Ada nada memohon saat Amara mengatakan itu.


Walaupun Amara bukanlah sosok Ibu yang baik. Tapi dia tetaplah seorang Ibu yang khawatir jika ada yang berniat kembali melukai buah hatinya.


"Please, Mir ... izinkan Aku." Amara menggenggam tangan Emir sambil memelas, membuat Emir tak kuasa menolak.


"Aku akan menemanimu" Dengan berat hati akhirnya Emir mengangguk mengijinkan. Lelaki itu sebetulnya juga penasaran dengan apa yang akan Amara lakukan pada Helma. Dan demi keselamatan Amara, Emir harus mendampingi. "Tapi ... setelah kondisimu benar-benar pulih!" Amara mengangguk lega.


"Kapan jadwal kontrol?" tanya Emir yang baru ingat bahwa Amara dan Aidan masih harus melakukan pengecekan terhadap luka akibat kecelakaan beberapa waktu lalu.


"Lusa. Dan itu jadwal terakhirku. Setelah itu selesai, tapi Yeden masih harus melakukan dua kali pengecekan lagi." beritahu Amara. Dia sudah lelah selama sebulan ini bolak-balik ke Rumah Sakit.


"Kalau begitu aku yang akan mengantar" Amara pun mengangguk setuju.


Sekilas Emir melihat waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Dan perutnya mulai terasa perih karena dia melewatkan makan siang.


"Apa dirumah ada makanan?" tanya Emir yang begitu tiba-tiba.


Amara yang mendengar hal itu langsung melihat jam yang tersemat di dinding kamar Aidan. Tak biasanya Emir makan selarut ini.


"Kamu belum makan?" Emir mengangguk lemas. "Kenapa nggak bilang dari tadi!" gerutu Amara yang langsung berdiri.


Melihat Aidan masih tertidur lelap, Amara pun membantu Emir untuk berdiri. "Ayo!" Wanita itu langsung menarik lengan Emir untuk berdiri.


"Sebentar ...," Emir mendekati Aidan yang tertidur pulas lalu mengecup kening bocah itu sekilas. "Aku belum menyapa anakku," ujarnya lagi saat Amara memperhatikan sikapnya.


Kemudian dengan tatapan jahil Emir mendekati Amara yang masih diam terpaku. "Aku juga belum menyapa Mamanya," seloroh Emir yang tiba-tiba menarik Amara dalam dekapannya.


...Bersambung...