
"Tidur sekarang, yuk" ajak Emir.
Saat pria itu akan bangkit berdiri, tiba-tiba tubuh jangkung Emir terjungkal sampai terbanting dalam posisi duduk dengan kaki yang berselonjor kaku.
"Adu-duh!" ringis Emir memegang kedua lututnya yang sepertinya keram.
"Kenapa, Mir?!" Amara langsung cemas saat melihat Emir yang seperti itu.
"Lututku ngilu," keluh Emir yang masih meringis menahan sakit. Dan sedetik kemudian Amara tertawa terpingkal-pingkal sendirian. Dia sebenarnya sudah mencoba menahan tawanya sedari tadi. Emir yang posisinya terjatuh seperti itu -- lucu pikir Amara.
"Umur memang nggak bisa bohong ya, Pak," ledek Amara pada Emir sambil menolong pria itu berdiri.
Emir yang tadinya sebal ditertawakan -- karena benar-benar sakit, kini malah tertular ikut mentertawai dirinya sendiri.
"Tapi Aku nggak setua itu, Amara. Aku kan pernah cedera kaki. Jadi wajar jika bisa cepat keram," ungkap Emir.
"Ah, Iya. Aku lupa, musibah tsunami itu, kan?!" sergah Amara sambil memapah Emir duduk diranjang. Dan dengan perlahan dia membantu menaikkan kedua kaki Emir ke atas ranjang.
Amara kembali teringat saat Emir pernah bercerita tentang kejadian saat pria itu tergulung ombak tsunami saat masih berada di Jepang. Dan musibah itu terjadi sesaat setelah Emir mendapat kabar dari orangtuanya yang memberitahukan via email -- prihal ayah Amara yang meninggal dunia.
"Maafkan Aku ya, Mir ...," ujarnya lagi penuh sesal.
"Amara ...," Emir menangkup wajah Wanita itu lalu menatapnya dalam. "Bukan salah kamu. Itu murni musibah. Lagi pula itu sudah lama berlalu," terang Emir menghibur Amara.
"Justru Aku yang minta maaf, karena nggak bisa menemani Kamu saat sedang berduka," lanjut Emir penuh sesal.
Amara menggeleng cepat. "Itu sudah lama berlalu, Mir. Aku udah baik-baik aja," tutur Amara dengan yakin.
"Apa masih sakit, Mir?" tanya Amara kemudian, sambil memijat perlahan bagian lutut Emir. Dia buat gerakan berputar perlahan diarea lutut pria itu.
"Setelah Kamu pijat, Aku merasa lebih baik," pungkas Emir.
Amara menyudahi pijitannya pada lutut Emir, lalu kembali menutup minyak balur herbal itu dan menaruhnya di atas nakas.
"Aku tidur disini, ya? Kakiku sepertinya masih ngilu kalau buat dibawa jalan" Emir berkata enteng seolah acara sedih tadi yang sempat membuat keduanya mengenang kejadian lalu itu luruh seketika.
"Modus," sergah Amara dengan bibir mencebik. "Aku izinkan hanya untuk malam ini. Aku nggak mau kamu terjungkal lagi kaya tadi. Dilihat Bik Lastri kan bisa bikin kamu malu," ledek Amara. "Masa badan tinggi tegap mirip ajudannya Presiden bisa terguling-guling. Kan nggak lucu, Mir," ejeknya lagi.
Emir langsung menarik tubuh Amara kedalam pangkuannya. "Saya tidak selemah itu, Buk!" canda Emir sambil menciumi pipi Amara.
"Tuh kan ... Kamu modus. Ini aku dudukin nggak apa-apa," tukas Amara yang masih duduk dipangkuan Emir sambil menahan bibir pria itu agar tak menciuminya lagi.
"Kalo kamu yang duduk disini aku nggak akan kesakitan," kilah Emir yang masih mencari celah untuk mencium pipi Amara.
"Kamu mirip Burak Ozcivit," celetukan Amara membuat Emir seketika berhenti dari aksi usilnya.
"Siapa dia?"
"Artis Turki," beritahu Amara.
"Mirip dibagian mana?" tanya Emir penasaran. Karena jujur saja, Emir memang tidak pernah menonton acara televisi.
"Kamu perhatian banget sama dia. Sampai bisa se-detail itu," sergah Emir yang terdengar cemburu, dan hal itu tentu saja membuat Amara terkekeh geli.
Dasar Emir. Dia tidak tahu apa? -- sosok yang Amara bicarakan adalah artis luar negri yang hanya bisa dilihat di televisi. Kenapa pria itu terlihat kesal. Tapi Amara tak ambil pusing, dia sangat menikmati raut wajah Emir yang bersungut-sungut. Sudah lama sekali dia tak melihat reaksi Emir yang seperti ini pikir Amara.
Emir yang melihat Amara kembali tertawa, langsung memutar tubuh wanita itu menghadap ke-arahnya yang masih bersandar pada kepala ranjang. Sehingga kini keduanya saling berhadapan dengan Amara yang masih duduk di pangkuan Emir.
"Lusa jadwal kita bertemu pihak wedding! Aku mau segera kita nikah," ungkap Emir dengan serius.
"Apa setelah kita menikah, semua akan baik-baik saja, Mir?" Nada bicara Amara terdengar khawatir.
Pria yang masih memangku Amara -- mendongak kan kepalanya sendiri -- dengan kepala ranjang sebagai sandarannya. "Justru kalau diundur terus ... nanti Aku yang kenapa-kenapa" keluh Emir menatap sendu.
Keluhan Emir ini ditanggapi Amara dengan kekehan lagi.
Setelah itu Emir mengecup singkat bibir Amara. Saat melihat respon wanita dihadapannya yang tak protes. Emir pun dengan berani kembali mendekati bibir Amara yang menguarkan aroma stroberi. "Aku suka aroma bibir kamu, Amara," bisik Emir disela-sela ciuman mereka.
Emir merasakan bahagia luar biasa saat Amara sudah tak bersikap kaku lagi padanya. Sedikit demi sedikit Amara mulai membuka diri dan tak sungkan lagi pada Emir. Dan itu adalah kemajuan yang pesat bagi pria itu.
...▪︎▪︎▪︎...
"Jadi perempuan yang kau maksud adalah ibu dari anak itu?"
Andre yang malam ini berniat senang-senang, malah tak sengaja bertemu Helma disebuah Kelab malam pasca acara perilisan. Pria itu sungguh terkejut saat melihat sosok Helma yang terlihat anti dengan kehidupan malam malah bisa duduk sendirian sambil menenggak minuman keras.
Helma menganggukan kepala atas pertanyaan yang dilontarkan Andre .
Andre cukup terkejut mendengar hal itu dari mulut Helma. Sosok Amara yang baru pertama kali dilihatnya tidak seperti perempuan mata duitan atau sejenisnya. Malah Andre berpikir bahwa Emir lah yang tergila-gila pada wanita itu -- terlihat dari mata Emir yang menatap tajam kearah Andre saat dirinya terlalu akrab dengan perempuan bernama Amara.
"Selera Emir begitu rendah!" maki Helma, kemudian dia menenggak satu sloki minuman yang disediakan bartender sampai tandas.
Saat mendengar perkataan Helma, Andre berpikir bahwa hubungan Helma dan perempuan yang bernama Amara memang tak baik-baik saja.
"Apakah anak itu adalah anak Emir?" Pertanyaan Andre membuat Helma menoleh ke arah pria itu.
"Darimana kau bisa menyimpulkan tentang hal itu?" tanya balik Helma.
"Aku hanya mendengar bahwa Emir menyebut 'papa' pada dirinya untuk anak yang bernama Aidan itu," terang Andre.
Helma tertawa sinis mendengar perkataan Andre barusan.
"Anak itu adalah anak haram hasil dari jual diri perempuan itu, Ndre!" tukas Helma yang membuat Andre mengerutkan keningnya.
"Aku yakin. Emir hanya sedang memenuhi obsesinya pada pelacurr itu! Dan pelacurr itu sedang mengambil kesempatan atas perasaan Emir" tuduh Helma.
Andre yang mendengar rentetan kalimat pedas Helma -- hanya terkesiap. Jika apa yang dikatakan Helma benar adanya, sungguh berhasil perempuan bernama Amara itu memperdaya Emir. Sebenarnya Andre juga merasa ganjil -- seorang pria sukses dan mapan seperti Emir, malah memilih perempuan yang sudah memiliki anak. Terlebih anak itu tak jelas asal-usulnya.
"Aku harus segera menjalankan rencanaku!" desis Helma dengan tatapan nanar ke arah gelas kaca yang ada digenggamannya.
...Bersambung...