Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
Pertemuan Pertama



...Pertemuan Pertama ...


23 Tahun yang lalu


"Alhamdulillah ... akhirnya sampai juga," sambut Liana--Ibu Amara dengan senyum ramah pada teman suaminya yang juga memboyong keluarga kecilnya itu. "Ayo masuk," Liana kembali mempersilahkan keluarga itu untuk duduk di sofa ruang tamu.


Ahmad. Dia adalah teman dekat dari suami Liana--Andar sejak duduk di bangku Menengah Atas. Dan kini teman karib suaminya itu membawa serta istri dan anaknya ke Jakarta dari kampung halaman mereka di Majalengka-Jawa Barat.


Alasan kedatangan Ahmad ke Rumah ini karena Andar yang memintanya. Sebab, Andar baru saja pindah ke Jakarta sebulan lalu, sebelumnya mereka menetap di Brunei selama kurang lebih empat tahun. Pemindahan tugas yang terbilang tiba-tiba itu membuat Andar harus memboyong keluarga kecilnya untuk kembali ke Jakarta. Tanah kelahiran mereka.


Perhatian Liana seketika beralih ke arah bocah lelaki kecil dengan garis wajah ketimuran yang sedari tadi menempeli Ibunya. Kebetulan Liana duduk dihadapan mereka.


"Ini pasti yang namanya, Emir," Liana memusatkan perhatian pada anak bernama Emir. "MasyaAllah ... calon anak sholgan ini, sholeh ganteng," puji Liana yang sudah mengagumi sosok Emir.


"Ma ... Mama,"


Tiba-tiba suara lembut yang mengalun dari seorang anak perempuan membuyarkan suasana diruangan itu.


Kini semua pandangan tertuju pada gadis kecil yang rambutnya terurai panjang, serta terpasang bandana berbentuk mahkota diatas kepalanya.


"Siapa, Mah?" celetuk gadis kecil itu penasaran, saat melihat ada banyak orang asing dirumahnya. Ini adalah kali pertama mereka kedatangan tamu setelah pindah ke Jakarta sebulan yang lalu.


"Amara, sini, Sayang" Liana mengayunkan tangannya pada Amara yang berdiri di belakangnya untuk segera mendekat.


Kemudian Amara melangkah mendekati Ibunya yang tengah duduk di sofa menghadap ke tiga orang asing itu.


"Ini Teman Papa yang kita bicarakan semalam. Ayo salim dulu" Liana mengarahkan pandangannya ke arah Ahmad dan istrinya, lalu dengan sopannya Amara menyalami kedua orang dewasa itu yang terlihat seperti Orangtuanya.


"Nah ... Yang ini namanya, Emir" kata Liana. Amara mengarahkan padangannya pada anak lelaki yang dikatakan Liana.


Emir tersenyum canggung saat namanya diperkenalkan pada gadis kecil itu.


"Amara Salim" sahut Amara dengan tatapan cemerlang serta senyum lebar yang memperlihatkan susunan gigi susunya.


...▪︎▪︎▪︎...


Saat hari mulai menjelang sore, awan biru cerah telah terganti oleh warna jingga yang hangat. Berbarengan dengan suara mesin mobil yang terdengar dari pintu gerbang menuju garasi rumah besar itu.


Liana sudah siap menyambut sosok pria yang baru keluar dari mobilnya. Senyum dari kedua lesung pipinya ikut menyambut kedatangan pria yang sangat dicintainya, lalu diraih lengan pria itu kemudian dia cium punggung tangan kanannya.


"Mereka sudah datang, Pah" ujar Liana setelah sang suami mengecup keningnya.


"Mereka aku suruh istirahat, kasian Pah, kayanya kecapean banget" beritahunya lagi.


"Nanti siapkan makan malam yang enak buat menyambut mereka ya, Ma" titah sang Suami yang membuat liana mengangkat jempol kanannya sebagai tanda siap.


Sebelumnya Andar sudah mendapatkan kabar dari Sahabatnya itu, bahwa mereka sudah sampai. Oleh karenanya Andar pulang lebih awal untuk menjamu Ahmad dan keluarganya. Namun, karena perjalanan jauh yang mereka tempuh, Andar pun mengulur pertemuannya dengan sahabat lamanya itu nanti saat makan malam saja


Setelah berada didalam rumahnya, tiba-tiba saja mereka dikejutkan oleh suara berisik yang selalu dirindukannya. Siapa lagi kalau bukan putri semata wayangnya. Amara.


"Papaaa," teriak gadis kecil itu sambil berlari ke arah Andar dengan senyum lebar.


Andar segera melebarkan kedua lengannya untuk menyambut anak semata wayangnya kedalam pelukan.


"Wah, putri Papah tambah berat nih" ucap Andar saat Amara sudah berada dalam gendongannya. Amara mencium gemas pipi Andar.


"Pah, anak lelaki yang namanya Emir itu, nanti sekolahnya sama Amara ya?"


Permintaan Amara tentu saja membuat kedua orangtuanya membelalak kaget. Cepat sekali akrabnya, begitulah pikir Liana dan Andar terhadap putrinya.


...Bersambung...