
"Pria itu ...," ujar Fahri ragu, "Kita butuh Ayah biologisnya," tandas Fahri.
Seketika itu, tubuh Emir bergetar. Kepalanya terasa panas dan berdenyut, bahkan napasnya kian memburu.
Emir tak bisa menampik, bagaimanapun dalam diri Aidan ada bagian dari pria itu yang ikut tumbuh. Namun, pria bajingan itu tak pantas diperkenalkan sebagai seorang ayah. Bagi Emir, kehadiran pria itu nanti tak lebih karena hubungan biologis saja.
Seandainya tak dikejar waktu. Jelas Emir akan mencari jalan lain. Namun, sayangnya tak ada pilihan saat ini. Dan sialnya Emir berharap agar darah dari lelaki yang enggan Emir sebutkan namanya itu bisa menolong anak kecil yang kini tengah berjuang hidup.
"Brengsek!" geraman Emir tertahan seiring kepalan keras ditangannya yang semakin erat.
Emir mulai mencoba menenangkan pikirannya yang kalut. Kini logikanya harus dia utamakan. Aidan, kondisi anak itu adalah yang utama.
"Jangan biarkan bajingan itu melihat Aidan, Om," kata Emir. "Dan jangan sampai hal ini diketahui oleh Amara," lanjutnya.
Perkataan Emir jelas memiliki alasan. Emir tak ingin lelaki tak bermoral itu melihat sosok Aidan -- anak lelaki yang Amara lahirkan dari hasil perkosaan dalam kondisi jiwa dan raga Amara yang tertekan.
Terlebih darah yang nanti dialirkan pria itu untuk anak yang sudah dia anggap sebagai anak sendiri, Emir tak ingin Amara tahu. Mengingat bagaimana jejak trauma itu masih lekat saat Amara melihat putranya sendiri.
Emir hanya tak ingin Amara semakin menjauhi Aidan karena melihat bayangan kelam dari masa lalu wanita itu pada sosok putranya.
Selama ini diam-diam Emir memperhatikan bagaimana sikap Amara pada Aidan yang sesekali merasa risih dan takut. Namun, demikian Emir tahu, jika Amara tengah berusaha keras mengendalikan keguncangan jiwanya. Dan alasan itulah mengapa selama lima tahun, Aidan tinggal bersama Melani di Sydney. Amara masih berjuang menangani traumanya sampai saat ini.
Emir tak bisa menyalahkan sikap Amara. Bahkan keputusan Amara untuk menyetujui Aidan tinggal bersamanya adalah sebuah kemajuan, menurut Emir.
Kini yang bisa pria itu lakukan hanyalah menjaga agar Amara tak terguncang. Begitupun dengan Aidan. Emir tak ingin anak lelaki itu mengetahui kenyataan pahit bagaimana dirinya dilahirkan. Untuk Amara dan Aidan. Emir siap pasang badan.
"Om, akan meminta pihak rumah sakit untuk menjaga ketat agar pria itu tak melihat keberadaan Aidan. Om, hanya berharap semua berjalan sesuai keinginan kita," tukas Fahri.
Semenjak Beryl disibukkan dengan lembaga hukum yang dia dirikan di Australia, Pria yang juga adalah suami Melani itu melimpahkan tanggung jawab penuh pada rekannya di Jakarta. Sebagai sesama pengacara tentu saja rekannya tak menolak untuk menangani sekaligus memantau perkembangan kasus terkait kejadian yang menimpa Amara. Beryl hanya ingin memastikan bahwa hukum berjalan dengan semestinya.
"Om, akan meminta surat rekomendasi dari rumah sakit untuk membawa lelaki itu. Kita harus gerak cepat," tukas Fahri.
▪︎
Waktu berjalan begitu lambat bagi Emir. Dia kini sedang duduk diruang rawat dimana Amara masih berbaring tak sadarkan diri sejak insiden kecelakaan siang tadi.
Sudah tiga jam sejak kepulangan Emir dari Jepang. Kini waktu sudah hampir menunjukan pukul delapan malam. Bahkan Emir belum berganti pakaian. Dia juga melewatkan makan malam.
Pria itu menatap wajah Amara yang terlihat pucat. Sungguh, perjalanan hidup wanita dihadapannya begitu berat bagi Emir.
Dari seorang gadis riang yang manja dengan limpahan kasih sayang serta kemewahan, kini dia menjadi wanita dengan tingkat kepercayaan diri yang rendah. Bahkan Amara tak melanjutkan sekolahnya untuk menjadi pekerja serabutan demi mengumpulakan pundi-pundi rupiah agar bisa membiayai dirinya sendiri dan sang putra.
Jangan tanyakan harapan dan cita-cita wanita itu. Amara sudah mengubur semua keinginanya yang dahulu. Bagi Amara, bisa makan tiga kali sehari dan menyekolahkan Aidan ditempat terbaik sudah lebih dari cukup.
Jika mengingat hal itu hati dan jantung Emir terasa di remat. Dia begitu sakit dan merasa tak berguna.
Emir mengelus satu persatu jemari Amara yang terkulai di atas ranjang rumah sakit. Emir baru menyadari, tangan Amara begitu kecil, sehingga jika Emir menggenggamnya, kemungkinan akan tertelan dengan telapak tangannya yang besar.
"Kamu luar bisa Tweety," desis Emir. Kemudian dia mengecup pelan jemari Amara yang tak bertenaga.
...Bersambung...