
EMIR sedang dalam perjalanan menuju Bandara. Hari ini dia memutuskan pulang ke Indonesia. Urusan pertemuan pemegang saham yang akan dilakukan siang ini tentu saja tak akan dihadirinya. Emir resmi mengundurkan diri dari Izekai -- Perusahaan yang telah dia rintis, perhari ini. Dia tidak sudi menghadiri rapat yang sudah pasti mengagendakan penjatuhan dirinya. Terlebih dia sudah merasa tidak nyaman bekerja dengan orang-orang curang.
Emir sadar. Hal itu adalah wajar adanya dalam lingkup pekerjaan. Namun, Emir lebih memilih menutup lembaran Izekai dan membuka lembaran lain yang tentu saja sudah Emir persiapkan beberapa tahun belakangan ini tanpa sepengetahuan yang lain. Kecuali Edo sang asisten dan juga pengacara pribadinya.
Satu hari sebelum rapat pemegang saham hari ini, Edo sang asisten sudah menjual saham milik Emir di bursa saham atas permintaan Atasannya itu. Dan pertemuan hari ini pun diwakilakan oleh Edo serta pengacara pribadi Emir untuk menyelesaikan semua urusan Emir dengan Izekai.
Ketidakhadirannya akan menjadi sebuah penghinaan besar bagi Tadaki dan juga Helma. Terlebih setelah mereka mengetahui bahwa Emir tak lagi menjadi bagian dari Izekai. Emir sudah membayangkan bagaimana murkanya kedua orang itu beserta anteknya. Dan hal itu membuat senyum sinis terpancar dari wajah tampannya.
Mengingat sesuatu, Emir langsung meraih gawainya untuk kemudian menghubungi seseorang yang dia rindukan.
"Kalian akan berangkat sekarang?" tanya Emir dalam sebuah panggilan telpon pada wanita yang sudah menjanjikan sebuah ciuman jika pria itu kembali pulang.
Beberapa hari lalu Amara memberitahukan Emir bahwa Aidan ditawari untuk menjadi bintang iklan dari produk pasta gigi. Dan Emir sempat mengecek kebenaran dari perusahaan yang mengaku sebagai agen periklanan. Setelah diyakini bahwa benar adanya, Emir pun mengizinkan Amara untuk mendatangi agen iklan itu. Tentu saja semua ini kehendak Aidan yang ternyata sangat suka tampil itu.
"Oke, kalau begitu hati-hati dan kabari kalau ada apa-apa. Sampai bertemu nanti malam" Setelahnya Emir menutup sambungan telpon itu.
Entahlah. Hari ini Emir merasa kelegaan yang baru pertama kali dirasakannya. Bahkan perasaan lega saat kali pertama bertemu Amara pun jauh melebihi rasa bahagia kala itu.
Didalam sebuah taksi yang dia naiki, Emir melihat ke arah luar jendela yang menampilkan kota Tokyo yang terlihat lengang dengan berjajarnya bangunan memukau.
Musim panas kali ini jauh dirasakan lebih damai dari sekian musim panas yang pernah Emir lalui saat masih tinggal Negara ini.
Tapi entah mengapa tak ada rasa penyesalan yang begitu mendalam saat dia memutuskan untuk menutup sebagian kenangannya bersama tenggelamnya nama Izekai dari hidupnya.
Ya. Emir sudah benar. Sikap yang diambilnya memang tak salah. Dan kini dia akan menjalani hidupnya dengan lembaran baru tanpa tekanan. Pengalaman hidup yang selama ini dijalaninya adalah kunci untuk bisa menghadapi peliknya kehidupan yang akan datang.
Tak berselang lama sebuah deringan telpon dari gawainya membuat Emir tersadar. Saat melihat nama itu, Emir hanya menampakkan senyum sinis, dan dengan berat hati akhirnya dia menerima panggilan itu.
[Kamu nggak bisa memperlakukanku seperti ini, Emir!]
Sebuah pekikan suara yang baru kali ini dia dengar dari seorang Helma, membuat bising telinga kanannya, sampai-sampai Emir menjauhkan ponselnya dari genggaman.
"Benarkah...," lirih Emir dengan seringai tipis disudut bibirnya. Pria itu berkata dengan ringan.
[Aku akan membuatmu menyesali semua tindakanmu, Emir!]
Kalimat penuh ancaman itu tak membuat Emir panik. Malah Emir berkata dengan ringan seolah sudah puas atas reaksi perempuan disebrang telpon itu.
"Sayounara! (Selamat tinggal!)" tandas Emir, kemudian dia menutup panggilan itu. Lalu memblokir nama Helma dari daftar kontaknya.
...Bersambung...