Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
117| Apa Masalahmu?



ACARA peresmian produk Smart watch yang dirilis oleh Izekai akhirnya tiba. Pagi tadi Emir sudah terlebih dahulu berangkat ke Hotel Hilton dimana acara itu diadakan -- untuk memantau persiapan.


Amara sendiri kini sudah berada didalam mobil bersama putranya diantar oleh sopir baru pengganti Sukardi.


"Jangan cemberut begitu," ujar Amara yang kini duduk di kursi penumpang bersama putranya yang membelakanginya.


Tadi pagi Melani mengabarkan bahwa mereka tidak bisa hadir untuk menyaksikan Aidan dikarenakan Rossie yang tiba-tiba demam tinggi. Dan hal itu tentu membuat Aidan bersedih.


"Mommy Melani bilang, Ossie akan datang jika sudah sehat," beritahu Amara.


"Sungguh?" tanya Aidan.


Bocah itu langsung berbalik menoleh ke arah sang Mama yang langsung mengangguk dengan cepat sebagai jawaban.


"Sekarang Aidan harus pasang senyum manis, seperti wajah Aidan di baju ini," kata Amara sambil mengelus punggung putranya.


Aidan kini memakai kaos berwarna biru pekat dengan logo Izekai di bagian dada kiri. Sedangkan pada bagian punggung terdapat wajah Aidan yang tengah berpose sambil memakai produk smart watch yang memang sudah dipakainya selama hampir 2 bulan ini.


Foto itu sendiri diambil beberapa hari lalu saat melakukan pemotretan untuk kebutuhan promosi. Saat Aidan melihat wajahnya terpampang di baju yang Emir berikan, Aidan sangat girang sampai tak bosan-bosan memandanginya.


Tak terasa mobil yang dibawa Slamet -- nama sopir pengganti, sudah tiba di pelataran Hotel. Amara baru saja mengirim pesan teks pada Emir untuk memberitahukan pria itu bahwa dia sudah tiba.


"Terimakasih ya, Pak Slamet," ujar Amara pada pria yang seumuran Lastri saat pria itu menoleh ke kursi belakang.


"Mau saya anter ke dalam, Mbak?" tanya Slamet.


Dan beberapa detik kemudian pintu mobil disebelah Amara terbuka. Menampakkan wajah Emir yang tampan dan lebih segar dari biasanya, rambut pria itu disisir kebelakang memperlihatkan keningnya yang semakin membuat penampilannya maskulin.


"Ayo," ajak Emir mengulurkan tangannya ke arah Amara yang tertegun melihat pria itu. Dan Amara menyambutnya dengan senang hati.


"Wah, Papa. Baju kita sama," tutur Aidan yang melihat Emir menggunakan kaos serupa.


"Tentu saja, Boy. Didalam sana bahkan ada yang lebih besar dari ini," beritahu Emir.


Kini Aidan berjalan diantara Mama dan 'Papa'-nya menuju Ball room Hotel dimana Izekai menyewa tempat itu untuk hari ini.


"Aku hampir nggak ngenalin kamu," bisik Emir menoleh pada Amara. "Aku pikir yang datang Kakaknya Aidan," goda Emir, yang membuat Amara menggelengkan kepala.


Dasar, Emir. Makin mahir saja gombalan lelaki itu, pikir Amara yang merasa pipinya memanas.


"Sandrina memang ahlinya dalam hal selera. Dalam seminggu kamu kembali disulap seperti anak Bapak Andar Salim dan Ibu Liana yang pernah aku kenal. Berkelas dan cantik alami," puji Emir.


PLAK!


Amara memukul bahu pria itu dengan keras sampai Emir menahan sakit dan perih dari bekas pukulan perempuan disampingnya. Tenaga Amara memang bukan main-main pikir Emir.


Tapi Amara pun sependapat dengan Emir -- selera Sandrina memang pas dikenakan Amara. Sahabat satunya itu tau betul apa yang cocok untuk dikenakan Amara. Selain itu, uang memang berperan penting dalam perubahannya -- Amara tak menampik itu.


"Tutup mulut kamu, atau aku pulang," bisik Amara.


"Aku hanya jujur," gumam Emir.


Dan tak lama akhirnya mereka sampai di tempat acara akan dilangsungkan. Didalam sana sudah terlihat ramai oleh orang orang-orang yang menggunakan baju serupa seperti yang dipakai Aidan dan Emir. Banner yang menampilkan wajah Aidan juga terpampang dalam berbagai pose.


"Acara akan dimulai, Aku akan bawa Aidan ke sana dulu untuk pengarahan sebentar, oke?" tutur Emir. "Kamu duduk di meja itu, ya. Sudah ada nama kamu disana," lanjutnya lagi.


Setelah tubuh Emir dan Aidan hilang dari pandangan. Amara mulai bingung sendirian. Dia merasa asing ditengah hiruk pikuk orang-orang yang sibuk dengan kegiatan masing-masing.


Ada yang melihat-lihat beberapa produk keluaran Izekai yang terpajang di stand khusus yang dijaga oleh beberapa wanita cantik. Ada juga yang terlihat sedang memuji wajah Aidan yang ternyata sangat bagus dalam foto itu.


"Berani sekali orang sepertimu datang kesini!"


Tiba-tiba terdengar suara gertakan dari balik punggung Amara. Suara yang sampai saat ini masih membuat wanita itu trauma.


Helma. Wanita yang sebelas tahun lalu pernah mengatainya dengan sebutan parasit. Wanita yang dua bulan lalu telah menguak rahasianya. Dan wanita itu juga yang mengubah Emir menjadi sosok mapan dan terpandang sampai sekarang.


"Ikut aku!" seru Helma.


Perempuan itu menarik paksa tangan Amara, sampai langkah kaki Amara yang memakai sandal slingback berwarna cream itu terseok-seok.


Dan sampailah mereka di sebuah toilet yang lumayan jauh dan sepi. Helma langsung mengunci pintu itu dari dalam.


Helma terlihat tersengal-sengal menahan geram. Dilihatnya penampilan Amara yang sekarang jauh berbeda saat dua bulan lalu dia temui -- kumal dan kampungan. Tapi lihatlah sekarang, si Putri manja yang selalu memakai barang mewah -- kini tampak kembali.


"Kau memang parasit!" pekik Helma yang geram. "Kau begitu licik memanfaatkan Emir untuk menaikkan kembali statusmu, perempuan manja!" lanjutnya dengan mata menatap nanar.


Amara masih terlihat tenang. Perempuan itu sudah terlatih mengatur emosinya. Dan kini Amara bukan wanita yang mudah terpancing dengan kalimat-kalimat seperti yang Helma tuduhkan.


"Aku penasaran, Helma. Sebenarnya apa yang membuatmu begitu membenciku sedari kita di Sekolah?" tanya Amara tanpa ekspresi.


...Bersambung...


Author : Next part aku mau terjun bebas ke masalalu Helma dulu ya~