
...Something different...
SEJAK tugas kelompok berakhir dan sampai pulang ke rumah, Amara diam seribu bahasa, gadis itu menekuk wajahnya sampai tak terlihat lesung di kedua pipinya. Bahkan, suara berisik yang memenuhi rumah besar itu tak terdengar lagi.
Sampai hari menjelang malam, Amara belum keluar dari kamarnya, gadis itu masih sibuk berbalas pesan melalui BBM (Black Berry Messenger).
Dalam grup yang diusung Sandrina, mereka bisa mencurahkan isi hatinya disana.
^^^(Sandrina : Ada yang lagi ngambek nih gengs.)^^^
Ucap gadis itu dalam sebuah teks.
^^^(Melani : Pasti Amara yang ngambek)^^^
Tebak Melani dalam pesan yang dikirmnya.
^^^(Sandrina: Wah! Aku nggak nyangka, ketajaman kamu masih aja berfungsi, Mel. Padahal jarak kita ada di belasan ribu kilometer.)^^^
Melani--salah satu dari anggota geng cewe yang terbentuk sejak mereka SMP itu masih eksis. Walau kini Melani sudah pindah ke Singapura, namun mereka tak pernah absen untuk saling berbagi kabar.
Sampai sebuah ketukan terdengar di pintu kamar gadis itu, akhirnya Amara menyudahi percakapanya bersama para sahabatnya.
"Mama?" ucap Amara saat melihat siapa yang ada didepan pintunya.
Kemudian Liana masuk kedalam kamar anak gadisnya itu.
"Kamu sakit?" tanya wanita yang sudah melahirkannya. Dan Amara merespon dengan geleng-geleng kepala.
Saat melihat gelagat aneh sang anak, Liana tak berniat lagi menyelidiki. Wanita itu khawatir akan membuat Amara semakin bungkam lebih lama.
"Oh iya, sweet SevenTeen mau minta apa nih gadis Mama?" tanya Liana dengan senyum ceria.
Sejenak Amara tersadar, bahwa dua minggu lagi dirinya akan menginjak usia dewasa.
"Amara cuma mau Mama dan Papa sehat dan selalu ada sampai Amara jadi nenek-nenek" lirih gadis itu.
Kalimat yang dilontarkan sang gadis tentu saja membuat Liana tertawa, namun secara bersamaan hal itupun menorehkan rasa sedih dihatinya.
Seketika wajah Amara berubah ceria, senyum mereka kembali hadir diwajah chubinya.
"Serius, Ma? Aku boleh undang semua temen yang aku mau?" tanyanya antusias, seolah hal menyebalkan yang terjadi di sekolah lenyap begitu saja.
"Pokoknya kamu tulis apa aja yang kamu mau, nanti Mama akan minta Emir bantu menyiapkan pesta kamu".
Perkataan sang Mama yang menyebut nama Emir, membuat Amara kembali lesu. Dan hal itu tak luput dari perhatian Liana.
"Nggak usah, Ma" ucap Amara. "Biar nanti Mang Juned sama Bi Rasmi aja yang bantu" usulnya.
Tumben. Apa dia bertengkar dengan Emir? Batin Liana.
Sebenarnya Liana ingin menggali lebih dalam sikap yang tak biasa pada putri semata wayangnya itu, namun wanita itu memilih menyimpannya dulu.
Setelah berbincang dengan anaknya, Liana menemui sang suami diruang kerjanya.
"Sayang ..., Aku ngusulin ulang tahun Amara dirayakan, nggak apa-apa, kan?" tanya wanita itu pada sang suami.
Andar menutup buku yang sedari tadi dia baca, lalu fokus memandang wanita yang dicintainya.
"Lakukan apa saja biar Amara senang Ma, Papa akan selalu dukung" sahutnya.
"Tapi Pa ... ada yang aneh deh sama Amara belakangan ini" ucap Liana.
"Jadi Mama juga merasakan hal itu?" ungkap Andar yang sepemikiran.
"Memang apa yang Papa rasakan?" tanya Liana menyelidik.
Kemudian Andar menceritakan tentang kejadian beberapa waktu lalu, saat dirinya tak sengaja mendapati Amara masuk ke kamar Emir, dan juga sikapnya di meja makan setelah kejadian dikamar itu.
"Apa yang harus kita lakukan, Pa? Mama khawatir".
...Bersambung...