Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
Ibu dan Putranya



SUDAH beberapa minggu ini Emir tak bertemu Amara. Lelaki itu tengah sibuk mengurusi banyak hal sebelum kepindahannya ke Majalengka yang akan membawa serta Amara dan Aidan menuju kampung halaman Emir di Kota itu.


Malam ini Emir berniat akan pulang ke rumah Amara. Dirumah itu juga masih tinggal kedua orangtua Emir yang sudah satu bulan lebih menemani Amara dan Aidan. Selama ini mereka hanya berkomunikasi lewat panggilan telpon dan sesekali melakukan panggilan video.


Saat Emir memasuki rumah besar itu, suasana tampak sepi. Padahal waktu masih menunjukkan pukul tujuh malam.


Emir akhirnya memutuskan untuk mendatangi kamar ibunya yang terletak di lantai bawah. Kamar yang sedari dulu memang disediakan kedua orangtua Amara untuk menyambut keluarga Emir yang akan tinggal di ruman besar itu saat Emir masih berusia sekiar 6 tahun.


"Assalamualaikum, Bun," Emir mendatangi kamar Fatma saat wanita paruh baya itu baru saja melipat mukenanya. Fatma menoleh dan tersenyum sumringah saat melihat kedatangan putra semata wayangnya. Sudah lama dia tidak bertemu muka, walau pun beberapa kali melakukan komunikasi melalui saluran telpon, tetap saja bertemu langsung adalah hal yang berbeda.


"Waalaikumsalam," sahut Fatma menyambut tangan putranya yang hendak menyalimi tangannya. "Kenapa tidak mengabari kalau mau datang?" tanyanya lagi.


"Mendadak, Bun" sahut Emir. "Ayah kemana, Bun?" Emir yang tak melihat keberadaan Ahmad dirumah itu pun penasaran.


"Ke rumah Om Fahri" sahut Fatma yang membuat Emir mengernyit bingung.


"Malam-malam begini?" tanya Emir.


"Sudah sejak sore" Seingat Fatma, sang suami pergi setelah mereka sholat Ashar berjama'ah. Adapun niat ayah Emir itu pergi ke rumah paman Amara, karena ada hal serius yang ingin dibicarakan.


"Kenapa tidak tunggu Emir pulang?"


Melihat raut wajah Emir yang kecewa karena tidak dilibatkan, Fatma pun tersenyum. "Kamu kan sedang banyak urusan, jadi Ayah memutuskan untuk membagi tugas," Fatma yang tau bahwa putranya tengah sibuk mengurusi persidangan yang melibatkan kecelakaan Amara, meminta sang suami untuk menemui salah satu keluarga Amara untuk membicarakan acara lamaran yang akan dilakukan Emir.


Fatma mengelus lengan Emir yang masih berada dipangkuannya. "Bunda, terlebih Ayahmu. Kami tidak merasa direpotkan. Selama Ayah dan Bunda bisa, InsyaAllah ... apapun akan kami lakukan."


"Emir sangat beruntung memiliki orangtua seperti Bunda sama Ayah. Terimakasih, Bun, sudah mau membantu Emir menjaga Amara ... dan juga bisa menerima Aidan menjadi bagian dari diri Emir." Emir mengecup punggung tangan Ibunya.


Perkataan Emir seketika membuat perasaan Fatma seperti diremmas. Mengingat nasib Amara yang tak pernah dia bayangkan membuat Fatma merasa menyesal pernah pergi dari rumah itu saat Emir melanjutkan sekolah ke Jepang.


"Jangan berterimakasih untuk itu, Mir. Amara sudah Bunda anggap seperti anak Bunda sendiri," tukas Fatma mengingat bagaimana dirinya lebih mengkhawatirkan Amara dibanding Emir yang notabene adalah anak kandungnya. "Dan Aidan ... tentu saja Bunda merasa mendapat bonus cucu kilat," Fatma tersenyum senang saat melihat sosok Aidan yang mirip sekali dengan Amara saat kecil.


Emir sependapat dengan sang Ibu. Bahwa kehadiran Aidan memang seperti bonus. Saat pertama kali dia melihat sosok Aidan, Emir seperti melihat sosok Amara saat perempuan itu berusia sekitar 5 tahun. Saat pertama kali mereka dipertemukan.


"Kamu sudah siap mempersunting Amara sebagai istri kamu, Mir?" Pertanyaan sang Ibu menyadarkan Emir dari lamunanya.


"Ini adalah hal yang sudah lama Emir nantikan, Bun. InsyaAllah, Emir sangat siap!" Tak ada keraguan pada perkataan dan tatapan Emir.


Fatma mengusap pelan punggung Emir. Wanita paruh baya itu menatap kedalam manik mata Emir yang serupa dengan matanya. Tatapannya kali ini lebih dalam. "Perlu kamu ingat ... Amara masih memiliki luka trauma yang serius." Kini tangan Fatma beralih menggenggam tangan putra semata wayangnya. "Ada kemungkinan yang berkaitan dengan kejadian dimasalalu, akan berdampak saat kalian resmi menjadi suami-istri nantinya. Kamu harus lebih berhati-hati."


Memikirkan perkataan sang Ibu, Emir jadi ingat ketika dirinya hampir saja kelepasan mencumbu Amara saat mereka berciuman. Kalau saja saat itu dia tak menyadari tubuh Amara yang bergetar serta mimik wajah wanita itu yang terlihat ketakutan, mungkin Emir bisa bablas.


Ah! mengingat perbuatannya itu, Emir merasa seperti binatang. Lain kali lelaki itu berjanji akan lebih berhati-hati dan bersabar.


...Bersambung...