
"Ternyata kalian tinggal di Apartemen yang sama,"gumam Amara tanpa sadar.
"Ralat Amara. Kami dilantai yang berbeda," sahutan Emir itu membuat Amara terperangah. Ternyata Emir mendengar ucapannya.
"Hah?" respon Amara kali ini bukan karena jawaban yang Emir berikan. Tapi lebih kepada malu karena gumaman yang dia sangka didalam hati, ternyata terlontar begitu saja dari mulutnya.
TING!
Tak lama pintu besi itu pun terbuka perlahan. Menampilkan lorong luas dengan lantai granit yang berkilau. Emir berjalan keluar diikuti Amara dibelakangnya.
"Kami berbeda lantai, Tweety ...," tegas Emir sekali lagi sambil berjalan keluar dari lift. Emir mengira Amara tak mendengarnya, sehingga dia perlu mengulang perkataanya.
Kini mereka berada di lantai 15 dimana unit milik Emir berada.
"Kamu ingat lelaki yang tadi kita temui di bawah?" tanya Emir sambil membuka pintu Apartemennya dengan kombinasi angka.
Amara menoleh ke arah Emir. "Andre?" tanyanya kemudian untuk memastikan. Emir mengangguk membenarkan.
Seiring pintu Apartemennya terbuka, keduanya pun masuk kedalam. Aidan masih terlelap dipelukan Emir. Dan pria itu segera menuju kamarnya berada dan meletakkan bocah lelaki itu perlahan.
Setelah memastikan Aidan nyaman. Emir pun berbalik, tapi dia tak melihat Amara dikamarnya. Lantas dia kembali ke ruang depan, dan benar saja kekasihnya itu masih terpaku disana sambil memegang sebuah bingkai foto.
"Kapan kamu ambil gambar ini?" tanya Amara saat dia merasa Emir berdiri disampingnya.
Sebuah foto dimana Amara masih menjadi pemandu sorak saat dia di SMP. Disana Amara dengan centilnya berpose sambil membawa bendera klub basket sekolah mereka saat mengikuti pertandingan yang diadakan oleh Wali Kota.
Amara meringis saat melihat dirinya sendiri saat berusia 14 tahun kala itu. Dia tak menyangka dirinya begitu ekspresif difoto itu. Seragam pemandu sorak yang pernah diprotes Emir karena kekecilan menurutnya. Namun tidak bagi Amara. Seragam itu begitu pas ditubuh kecilnya dan dia bangga menjadi salah satu grup pemandu sorak yang mewakili sekolahnya.
"Seingat Aku kamu nggak ikut deh" Amara meletakkan kembali bingkai foto itu ditempatnya.
Amara ingat betul, saat itu Emir tak bisa ikut, karena memang tempat terbatas. Padahal dia sudah merayu ketua kelas agar Emir bisa menemaninya. Namun jawaban ketua kelasnya saat menolak ajuan Amara, membuat dia pasrah.
"Ekspresi Emir kurang antusias, Ra. Bisa bikin klub sekolah kita terlihat suram"
Itulah jawaban penolakan yang membuat Emir tak bisa ikut.
"Aku memang tidak ikut. Tapi aku minta tolong temanku untuk mengabadikan semua gerakan kamu disana," sahut Emir yang baru Amara ketahui.
Emir akan berterimakasih pada sahabat SMP nya kala itu, karena sudah pandai mengambil pose terbaik Amara dengan hasil gambar yang jelas dan tak buram. Selain kamera canggih pemberian ayah dari Amara, keahlian temannya itu memang perlu diacungi jempol. Tentu dengan upah bahwa Emir yang akan mengerjakan PR temannya itu selama satu minggu penuh.
"Kok aku baru tau. Kamu nggak pernah kasih tau ini," gerutu Amara menunjukkan jajaran bingkai yang penuh dengan gambar dirinya.
Amara melengkungkan bibirnya ke atas. Dia sepakat dengan pernyataan sang Ibu. Sudah lama Amara tak memiliki ekspresi sebahagia itu.
"Aku juga kangen kamu yang seperti itu," Emir menangkup kedua pipi Amara. Dia memandang lekat kedua mata Amara yang sayu.
Ditatap sedalam itu oleh Emir, Amara tak kuat. Dia berpaling ke arah lain. Ke arah dimana banyak sekali foto dirinya di Apartemen lelaki itu.
"Kalau orang liat semua ini, mereka akan anggap kamu psycho." Emir malah tertawa mendengar ucapan Amara.
Bisa jadi apa yang dikatakan Amara benar. Bagaiman tidak. Hampir seluruh pajangan diruangan itu dipenuhi oleh gambar Amara salim, dari usia 5 tahun sampai usia wanita itu di angka 17. Dan selebihnya tak ada lagi. Karena setelah itu Emir mengemban ilmu ke Negeri Sakura.
"Tapi sayangnya cuma kamu yang aku izinkan masuk. Selebihnya hanya bagian kebersihan. Itu pun Aku tak perduli dia anggap Aku gila" Amara hanya menggelengkan kepala mendengar kata-kata Emir yang nyeleneh menurutnya.
Ini adalah pertamakalinya Amara menginjakkan kaki di Apartemen Emir. Unit yang sederhana dan tak terlalu besar, mirip sisi lelaki itu yang sederhana. Berbeda dengan Apartemen dimana Amara pernah bekerja dan sempat membersihkan Apartemen yang ternyata adalah milik Emir.
"Andre. Lelaki tadi yang sudah 'memaksa' Aku untuk pindah Apartemen" Seolah mengerti yang Amara pikirkan, Emir pun merasa harus ada penjelasan agar Amara tak berpikir macam-macam tentangnya.
Amara menoleh ke arah Emir yang sudah duduk di sofa panjang yang terlihat nyaman.
"Kemarilah," Emir menepuk sisi kosong disebelahnya. Amara pun mendekat dan duduk disebelah lelaki itu.
"Kamu ingat lantai 10 Apartemen Le Park City dimana kamu bekerja dulu?" Emir menatap lekat Amara. Wanita itu mengangguk.
Bagaimana Amara bisa melupakan kejadian itu. Membersihkan seluruh ruangan Apartemen itu dari banyaknya 'sarung pengaman' dan botol-botol minuman haram. Dia bergidik saat mengingatnya, bahkan banyak potongan kain yang mirip saringan tahu yang teronggok begitu saja dilantai. Hampir 4 jam wanita itu membersihkan sendiri tempat yang lebih mirip neraka.
"Kekacauan itu adalah ulah Andre. Aku memaksa dia membeli Apartemenku setelah dia melakukan hal gila di tempatku. Dan saat itu yang aku pikirkan adalah pindah ke tempat ini," jelas Emir dengan raut wajah menahan kesal.
Amara mengangguk mendengarnya. Sebenarnya wanita itu sudah mendapatkan penjelasan lebih dulu dari Edo--Asisten Emir. Dan seingat Amara, dulu Emir pernah menjelaskan hal ini saat diawal pertemuan. Mungkin karena situasi saat itu tidak tepat, maka seperti angin lalu saja.
"Aku tak punya waktu dan pilihan untuk melihat-lihat lokasi lain. Aku hanya mengikuti saran seseorang yang memang sudah lebih dulu tau lokasi ini," jelas Emir. "Aku pun tak pernah punya pikiran untuk mengundang Helma kesini. Sungguh!" Emir tak ingin Amara memiliki asumsi sendiri. Makanya dia mengatakan hal itu dengan tegas.
"Aku membawamu kesini dan memperlihatkan sisiku yang lain karena Aku ingin kamu tau ...," Emir menjeda kalimatnya, "tidak ada yang berubah dari perasaanku ke kamu selama ini, Amara. Tidak ada yang bisa membuatku goyah. Apa yang terjadi padamu selama Aku tidak ada, sungguh Aku menyesal. Bahkan jika Aku pertaruhkan semua nyawaku untuk menebusnya. Aku yakin tak akan cukup! Tapi yang perlu kamu tau ... kehadiranmu dan Aidan adalah kebahagiaan untuk Aku. Jadi jangan berpikir aku terbebani. Please ...." Emir menatap manik Amara dengan bergetar. Sungguh lelaki itu tak tau lagi apa yang bisa membuat wanita itu berhenti merendahkan dirinya sendiri.
Cantik, tampan, pintar, mandiri dan banyak uang. Ya itu semua memang penting untuk memilih pasangan selain iman kalau kata Bunda. Tapi bagi Emir, perasaan adalah hal terpenting agar dapat selaras dan ikhlas.
Tidak tau kah Amara, bagi Emir wanita itu sudah seperti separuh hidupnya.
"Cintai Aku walau sedikit, Amara!" Emir memohon kali ini. Dia tau, wanita dihadapannya belum memiliki rasa itu. Walau terkesan klise, tapi Emir ingin Amara mencoba.
...Bersambung...