
...Perasaan Aneh...
SUARA ketukan pintu kamar tidak membuat Amara bangkit dari tidurnya, gadis itu masih belum keluar dari kamarnya sejak pulang sekolah sore tadi.
"Amara ...," suara lembut yang memanggilnya dari balik pintu, membuat Amara langsung bangkit seketika. Gadis itu langsung buru-buru bangkit dan berlari ke arah pintu kamar.
"Bunda," ucap Amara setelah pintu terbuka.
Fatma masuk ke kamar itu sambil membawa nampan berisi satu piring nasi beserta lauk pauk dan segelas susu putih hangat.
"Sudah lewat jam sembilan loh. Kamu nggak laper?" tanya Fatma sambil meletakkan nampan itu di meja dekat ranjang. Amara hanya menatap malas pada makanan yang dibawa Fatma.
"Mama belum pulang ya, Bun?" tanya Amara sambil melangkah mendekat ke arah Fatma.
Tiba-tiba saja Amara memeluk Fatma. Sudah menjadi kebiasaan gadis itu yang tanpa ragu memeluk Ibu dari Emir. Bahkan kedekatan Amara bisa dikatakan lebih akrab dibandingkan dengan Emir yang merupakan anaknya sendiri.
"Mama kamu nggak pulang, ikut Papa kamu Bandung, pulangnya besok" jelas Fatma sambil mengusap rambut panjang gadis manja itu.
Sesaat mereka terdiam, gadis itu bahkan masih memeluk Fatma dengan erat.
"Apa mau bunda suapin?" tanya Fatma dengan tiba-tiba. Amara menggeleng, lalu ia melepaskan pelukan itu.
Dengan malas, Amara duduk di sofa berwarna oranye, dia meraih segelas susu lalu meminumnya sedikit.
"Bun ...," ucap Amara memandang wajah dari Ibu Emir itu dengan sendu. "Sini deh," katanya lagi sambil menepuk sofa disampingnya.
Ibu Emir mendekat dan duduk disamping Amara. "Kenapa?" tanya wanita itu dengan lemah lembut.
Amara merasa ragu, gurat serius diwajahnya begitu terlihat, namun gadis itu tak kunjung bicara.
"Kalo suka sama pacar orang itu dosa nggak sih, Bun?" lirih Amara.
"Iih! Bunda. Amara serius,"
Fatma terdiam sejenak, wanita itu sedang berpikir cara menyampaikan kalimat yang tepat untuk perasaan yang sepertinya mulai bermunculan dalam diri gadis itu.
"Kalau memang berjodoh, pasti nggak akan kemana. Lagipula kamu masih muda. Masih belum banyak merasakan pengalaman, jadi nikmati saja masa-masa belia. Waktu gak akan terulang," tukas Fatma.
Melihat ekspresi Amara yang terpaku, Fatma langsung mengambil piring di atas nampan itu, lalu mengambil makanan itu dan menyuapkannya pada gadis disampingnya.
"Nah, sekarang makan dulu. Biar bisa mikir jernih. Ayo buka mulutnya," Fatma menyendokkan satu suap nasi dan sedikit potongan daging teriyaki kesukaan gadis itu.
Di luar kamar Amara, ternyata ada bocah yang sedang menguping sedari tadi. Emir, anak semata wayang dari Ahmad dan Fatma itu menunjukkan ekspresi yang tak bisa digambarkan.
Emir melangkahkan kakinya perlahan saat mendengar curhatan Amara pada Ibu Emir.
Emir jadi teringat pada kejadian sore tadi saat berada di kantin sekolah. Seorang gadis dari kelas yang sama dengan anak basket yang bernama Leon itu, mendekat dan membisikkan sesuatu sampai wajah Leon tersipu malu.
Dan kejadian itu yang membuat Amara mengajak Emir pulang secara mendadak sampai meninggalkan teman-teman gengnya-- Sandrina dan Melani.
"Hah! ribet," Gerutu Emir dalam batin.
Tak lama berselang, Fatma mendekati putranya yang sedang duduk diruang televisi.
"Sudah sholat Isya belum, Mir?" tanya Fatma yang dijawab anggukan oleh anak itu.
"Amara cerita apa, Bun?" tanya Emir pura-pura tidak tau.
...Bersambung...