
GETAR ponsel di pagi buta membangunkan Emir dari tidur nyamannya sedangkan Amara sepertinya tak terganggu, wanita itu masih tidur lelap dipelukan Emir. Semalam mereka berbincang panjang lebar sampai pukul 1 dini hari. Sebenarnya Emir masih mengantuk, tetapi getaran ponselnya tak kunjung berhenti.
Delapan kali panggilan dari Edo tertera dilayar ponselnya. Perlahan Emir menggeser tubuhnya agar tak membangunkan Amara ,dia bejalan keluar kamar untuk mengangkat panggilan dari Asistennya itu.
"Masih pagi banget, Do! Ada apa?" kesal Emir pada Asistennya yang menurutnya tak tahu waktu.
[ Saya hanya mengingatkan, takut Anda lupa. Pukul 9 pagi ada meeting, Pak,]
Emir benar-benar lupa prihal rapat penting itu. Dan sialnya dia juga tidak membawa sebagian perlengkapannya ke rumah Amara. Sehingga mau tidak mau, Emir harus pulang ke Apartemennya untuk berganti baju.
Belakangan ini Emir memang sering hilang fokus. Tidak hanya prihal soal pekerjaan, tadi pagi saja dia baru sadar bahwa ada mobil di garasi rumah Amara yang belum dipakainya sejak dia membelinya beberapa bulan lalu. Hampir saja dia menelpon supir kantor untuk menjemputnya.
Mobil itu memang sengaja dibelinya hanya untuk keperluan pribadinya saja. Biasanya memang supir atau Edo yang antar jemput jika ada keperluan yang menyangkut masalah pekerjaan.
Pukul 8 pagi Emir tiba di Kantornya. Pria itu mengecek sebentar beberapa proposal untuk keperluan rapat bersama beberapa investor dalam pengembangan produk Smart Watch yang akan dirilis.
Produk yang diperuntukan bagi anak-anak itu mendapat sambutan baik dari para partisipan saat mengadakan soft launch, dan Aidan adalah salah satunya yang sudah lebih dulu merasakan kecanggihan Smart Watch yang dikembangkan oleh Izekai.
"Wajah Anda terlihat lebih cerah, Pak," kata Edo yang berjalan bersisian dengan Emir -- menuju ruang rapat.
"Apa terlalu kentara?" tanya Emir dengan senyum yang makin dilebarkan.
"Efek jatuh cinta memang dahsyat ya, Pak," goda Edo tersenyum geli melihat tingkah atasannya.
Dibelakang mereka ada Helma yang berjalan bersama Rima -- Asisten sekaligus sekretaris wanita itu.
Tatapan Helma seolah membakar punggung Emir. Begitu panas dan menusuk.
Beberapa hari lalu, Helma mendapat kabar bahwa perempuan manja itu telah kembali ke Indonesia. Dan Emir yang menjemputnya. Helma benar-benar geram saat mendengarnya.
Helma benar-benar tak habis pikir dengan tingkah laku Emir yang seperti menutup mata atas kebusukan prilaku Amara yang memiliki anak diluar nikah.
"Ada berlian yang lebih berharga malah pilih batu kerikil. Selarumu rendahan sekali!" gumam Helma yang tak habis pikir mengingat sikap Emir.
"Selera apa, Bu?" tanya Rima -- Sekretaris Helma yang berjalan disamping Atasannya.
Helma menoleh sekilas ke arah Rima. "Tidak. Bukan apa-apa," sahutnya dengan nada dingin.
Saat Emir memasuki ruang meeting, baru terlihat beberapa investor di ruangan itu. Salah satunya adalah pria yang sudah lama tak bertemu.
"Hai, Bro, What's up?" sapa Andre dengan santainya.
Emir hanya menyahut dengan senyuman ke arah teman yang juga menjadi salah satu investor untuk proyek barunya -- Smart watch.
"Dua bulan nggak ketemu, kamu kaku banget, Mir" celetuk Andre dengan kekehan.
"Kita sedang ada dikantor, Ndre. Dan akan hadir beberapa investor lain yang mungkin akan risih dengan sikapmu. Aku harap kau bisa lebih formal," tukas Emir memandang tajam Andre yang duduk di sebelah kirinya.
"Siap Bos! Maafkan atas kelancangan orang rendah ini," ucap Andre dengan wajah menyebalkan.
Edo sudah geram ingin menumbuk wajah tengil pria itu dengan bogemnya. Berkat Andre lah, Edo sering kesulitan. Pria itu sering membuat kekacauan yang berujung pada kesialan Edo karena yang harus menyelesaikan setiap perkara yang dibuatnya.
Di antara yang hadir diruang rapat itu baru ada; Emir, Edo, Andre, Rima dan terakhir, Helma yang kini sedang tersenyum sinis. Wanita itu sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.
...Bersambung...