
PAGI itu matahari menyambut hangat kediaman Amara yang sedikit riuh dengan kegiatan gadis kecil itu yang tengah bersiap-siap pergi ke sekolahnya.
Dengan menderek tas troli bergambar boneka Barbie, serta mengalungkan botol minum berwarna pink yang senada dengan tasnya, Amara kecil berjalan menuju garasi mobil.
"Nanti kenalkan Emir pada teman-teman kamu ya?" pesan Liana pada putrinya.
Ya. Sesuai janji beberapa hari yang lalu, Andar dan Liana langsung mewujudkan keinginan putrinya itu. Bahkan Amara lah yang paling antusias dalam memilihkan keperluan sekolah untuk Emir.
Amara kembali menatap Emir dengan senyum berbinar yang sampai ke mata bulatnya, lalu menjulurkan tangan mungilnya kehadapan Emir. "Yuk!" ajak Amara sambil menarik lengan Emir untuk mengikutinya. Gadis kecil itu terlihat mudah membaur. Berbeda dengan Emir yang masih bersikap canggung.
Dalam perjalanan menuju sekolah, tak henti-hentinya Amara bersenandung ditemani suara sang Ibu yang duduk disebelahnya.
"Makasih Ndar, aku banyak hutang budi sama kamu," ucap pria yang tengah menyetir sambil melirik ke arah spion kaca depan.
Berita Ahmad yang mengalami kesulitan di kampung pria itu, membuat Andar memutuskan mengajak temannya ke Jakarta. Selain mendapat pekerjaan, keluarga Ahmad pun diminta untuk tinggal dirumah Andar agar Istri dan anaknya memiliki teman.
"Kamu sudah seperti sama siapa saja," sahut Andar yang duduk dibelakang bersama anak dan istrinya. "Kalau mau bahas hutang budi, justru aku yang paling banyak membuatmu repot," ucap Andar dengan tertawa kecil yang membuat Ahmad ikut tertawa. Sedangkan Emir yang duduk di samping Ayahnya sedari tadi sibuk memperhatikan lalu lalanh kendaraan yang tak ada hentinya.
Andar dan Ahmad adalah teman semasa Sekolah di bangku Menengah Atas, mereka punya kisah tersendiri saat muda dulu. Dan sampai kini hubungan keduanya masih tetap baik, bahkan persahabatan itu sepertinya akan berlanjut pada anak-anak mereka. Mungkin saja.
Tak lama, akhirnya mereka sampai di sekolah Amara, jarak menuju sekolah gadis itu dari rumah sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya terhitung beberapa meter setelah keluar dari kompleks perumahan.
Amara dan Emir sudah memasuki gedung sekolah ditemani Liana--Ibunya Amara, sedangkan Ahmad kembali melanjutkan perjalanannya bersama Andar untuk bekerja.
...▪︎▪︎▪︎...
Didalam kelas yang dipenuhi nuansa warna warni, Amara dan teman-temannya sedang asik mewarnai, termasuk Emir si anak baru.
Emir yang usianya terpaut satu tahun lebih tua dari Amara, seharusnya sudah bisa masuk SD tahun ini. Namun, alih-alih beradaptasi dengan lingkungan di Jakarta, akhirnya orangtua Emir memutuskan untuk menyekolahkan Emir di SD berbarengan dengan Amara saja nanti. Emir sendiri tak keberatan. Bagi orangtua Emir, jenjang sekolah itu diurutan kedua. Yang pertama adalah pemahaman dalam pelajaran.
...▪︎▪︎▪︎...
Tak terasa ... dari hari ke hari, bulan ke bulan, sampai tahun-tahun berikutnya kedua bocah itu akhirnya sudah memasuki penghujung kelas enam Sekolah Dasar.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu menyadarkan Amara yang tertidur dimeja belajarnya. Gadis itu bangun lalu berjalan malas dengan kondisi mengantuk ke arah pintu kamarnya yang diketuk, lalu dia buka perlahan.
"Bunda bikinin jus jeruk buat kamu, nih" kata Emir sambil menyodorkan sebuah gelas besar ke hadapan Amara. Dan seketika Amara bersemangat. Jus jeruk adalah kesukaannya.
"Wah ... Bunda Peri emang yang terbaik, tau aja kalo aku mau minum ini" kata Amara dengan girang.
Sosok wanita yang dia panggil Ibu Peri adalah Ibu kandung dari Emir.
Emir senang mendengar pujian untuk ibunya itu. Kemudian Emir berbalik dan hendak melangkah. Akan tetapi suara Amara menginterupsi langkahnya.
"Loh, kamu mau kemana?" tanya Amara memasang wajah bingung.
Emir mengernyit bingung. Memang mau kemana lagi selain kembali kekamarnya. Dia juga butuh belajar untuk ujian.
Tanpa aba-aba Amara langsung menarik lengan Emir ke dalam kamarnya, dan sesaat kemudian suara debuman pintu yang tertutup terdengar menggema dilantai dua.
...Bersambung...