
...Cinta Monyet...
"Kamu yakin Ra, pake baju begitu?" Raut wajah Emir saat mengatakannya sungguh membuat Amara ingin memakinya.
"Seragam Cheers-nya memang begini, Emir!" tegas Amara.
"Apa nggak bisa pakai yang lebih panjang? Atau yang lebih longgar?" ujar Emir dengan raut wajah yang sama. Merasa geli.
Amara menarik nafas dalam, lalu gadis itu berbalik ke arah Emir. "Memangnya Aku mau ikut grup marawis? Please deh, Mir, nggak usah norak," Amara menghiraukan wajah Emir yang berkerut melihatnya.
"Aurat, Amara! Aurat!" Emir hanya bisa merutuk gadis itu didalam hatinya.
Hari ini adalah hari istimewa untuk Amara. Pasalnya gadis itu untuk pertamakalinya akan tampil dikompetisi basket tahunan yang diadakan secara rutin oleh Wali Kota. Sebagai grup pemandu sorak yang dibanggakan, tentu saja Amara harus tampil maksimal.
"Sayang banget deh Mama nggak bisa liat anak gadis Mama tampil" sesal Liana saat melihat Amara yang sudah bersiap pergi.
"Nanti ada dokumentasinya kok Mah, nanti aku mintain ya?" ujar gadis itu pada sang Mama.
"Sayang sekali Emir tidak bisa ikut, kan bisa abadikan momen Amara secara khusus" Liana berucap dengan nada kecewa.
Ini adalah kali pertama Amara pergi tanpa Emir. Kemarin Amara sudah berusaha keras memasukkan nama Emir untuk menjadi salah satu supporter, akan tetapi permintaanya ditolak dengan alasan ada yang lebih layak dibandingkan Emir yang sepertinya kurang antusias untuk menjadi supporter.
Sepanjang hari Amara kesal sendirian, dan Emir sudah tidak tahan melihat sikap Amara yang merengek padanya. Gadis itu takut jika papa nya tidak mengijinkan. Namun, siapa sangka hari ini bahkan Amara sedang bersiap-siap untuk pergi, walaupun tanpa Emir.
Emir hanya melihat Amara yang semakin lama semakin menjauh. Ada rasa janggal saat tak bersama gadis berisik itu. Akan tetapi sebagai gantinya, Emir mengatakan pada Andar bahwa ada temannya yang juga ikut dan bisa dipercaya untuk menggantikan dirinya menjaga Amara. Dan Emir pun mengatakan pada Ayah gadis itu, bahwa penampilan Amara dalam kompetisi nanti bisa berpengaruh pada nilai. Emir sedikit mengada-ada untuk hal yang ini.
...----------------...
Suara gemuruh dan sorak riang begitu menggema di dalam gedung olahraga. Ratusan murid berkumpul sambil mengibarkan spanduk tim basket kebanggaan sekolah masing-masing. Ada juga yang membawa baner dengan wajah tampan salah satu pemain yang terpampang jelas, salahsatunya adalah foto Leon. Ketua dari tim basket Garuda yang tampan-nya kebangetan.
Permainan basket itu tidak kalah seru dari pemain profesional di layar kaca, seolah siap menghipnotis setiap supporter disana yang melihat permainan di tengah lapangan. Hanya usianya saja yang kecil, tapi postur tubuh mereka tidak kalah dengan anak SMA.
Penampilan pemandu sorak pun tak kalah heboh. Atraksi yang ditampilkan membuat para penonton tercengang saat tubuh tubuh mungil dilempar keatas dengan ringgannya seperti bulu angsa.
"Penampilan Kamu tadi keren banget!" Suara Leon membuat Amara terjungkit kaget. Dia tidak menyangka seorang Leon memperhatikan penampilannya barusan.
"Makasih, Kak," ujar Amara tersenyum kikuk. Maklumlah, dideketin dan dipuji sama mantan calon gebetan gitu loh.
"Kamu masih bisa senyum gitu, padahal Kamu dilempar salto diudara tadi. Nggak keliatan tegang sama sekali. Keren!" Lagi-lagi Leon memuji Amara.
Amara yang mendapat pujian dari orang yang pernah dia kagumi tentu saja merasa senang. Masalah patah hati yang dialami gadis itu benerapa waktu lalu sudah raib dicolong monyet. Namanya juga cinta Monyet.
...Bersambung...