Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
111| Percayakan Padaku



EMIR tak membiarkan pelukannya pada Amara terlepas begitu saja. Semakin perempuan itu berusaha melepaskan, semakin itu pula Emir mengencangkan rengkuhannya. Dan hal itu membuat Amara pasrah.


"Aku bilang kalau ada apa-apa segera hubungi aku, kan?" desis Emir ditelinga Amara yang masih dalam pelukannya.


Amara hanya diam. Dia tak menggubris ucapan Emir. Bukannya tak paham kemana arah pembicaraan pria itu. Tapi Amara terlalu lelah untuk membahasnya.


"Aidan sudah memberitahuku, tadi," ungkap Emir.


Amara membalikkan tubuhnya perlahan menghadap Emir. Wanita itu cukup kesulitan menatap wajah pria didepannya -- karena Emir berdiri terlalu dekat, sampai membuat Amara mendongak penuh.


"Lain kali ceritakan padaku, apapun itu," pinta Emir menatap sendu pada manik mata Amara.


"Hal seperti itu nggak terlalu aku pikirkan, Mir. Lagi pula Pak Sukardi itu hanya orang asing yang nggak perlu tahu semua-semuanya," terang Amara yang membalas tatapan pria itu.


Benar apa yang dikatakan Amara. Bahwa Sukardi hanyalah orang asing. Tapi tetap saja, Emir tak suka. Dia akan mengambil tindakan khusus agar kejadian serupa tak terulang. Terutama pada Lastri -- asisten rumah tangga yang bekerja di rumah itu, agar bisa menjaga bicaranya.


Hari sudah semakin gelap. Calon keluarga kecil itu pun kini sedang berkumpul di ruang keluarga. Aidan terlihat asik sedang bermain lego kesukaanya, sedangkan Emir dan Amara duduk di atas sofa sambil melihat tayangan televisi yang entah apa isinya.


"Amara," panggil Emir yang duduk disebelah wanita itu. Jarak duduk mereka terjeda satu dudukan.


Amara menoleh ke arah Emir.


"Kamu keberatan nggak, kalau aku jadikan Aidan sebagai brand ambassador untuk produk smart watch di perusahaanku?" tanya Emir.


Lalu Amara mengalihkan pandangannya dari Emir ke arah Aidan yang masih asik menyusun bentuk robot dari mainan bongkar-pasangnya.


Ada kekhawatiran dalam benak Amara. Banyak ketakutan jika Aidan ter-ekspos dengan cara seperti itu.


"Kalau tidak ...," ujar Emir yang membuat Amara menoleh padanya.


"Ijinkan Aidan untuk ikut acara grand launching sebagai tamu undangan karena sudah bersedia menjadi partisipan produk itu, bagaimana?" lanjut Emir.


Entahlah, Emir ingin sekali menunjukkan pada semua orang bahwa bocah itu adalah putranya. Terlepas dari status keduanya yang tidak memiliki ikatan darah, tapi Emir kepalang sayang dengan anak itu.


"Jadi Aidan bukan satu-satunya anak kecil diacara itu?" tanya Amara yang wajahnya sudah tak kaku lagi.


Emir mengangguk, dan sedetik kemudian pria itu menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Amara. Tentu saja hal seperti ini tak boleh Emir lewatkan.


"Kamu nggak perlu khawatir, Aidan tak akan lepas dari pengawasanku. Atau ...," Emir tampak menimbang-nimbang kalimat selanjutnya.


Amara hanya menunjukkan raut wajah penasaran dengan mengangkat kedua alisnya.


"Kamu ikut hadir dalam acara itu," tukas Emir selanjutnya.


Ucapan Emir tentu saja membuat Amara semakin takut. Segudang kekhawatiran menumpuk dibenaknya.


Bagaimana kalau orang menyadari kejanggalan tentang latar belakang Aidan dan dirinya. Sedangkan seluruh jagat raya tahu, bahwa Emir adalah pria singel yang belum menikah apalagi memiliki anak.


Jika Amara ikut hadir di acara resmi yang melibatkan banyak orang, bukankah itu sama saja dia melemparkan dirinya menjadi umpan.


Amara takut jika kehidupannya dikorek-korek oleh orang yang tidak suka dengan keberadaanya. Ini terlalu menakutkan bagi dirinya.


Amara yakin, banyak perempuan yang ingin berdampingan dengan Emir. Pria tampan, mapan, pintar dan baik -- siapa yang tak melirik. Salah satu bukti mengerikan adalah kemunculan Helma. Itulah yang Amara hindari. Dia tak ingin mencari masalah. Dan sekali lagi hidupnya sudah lelah.


Lain halnya dengan pikiran rumit Amara. Emir justru ingin memperkenalkan Amara secara perlahan, bahwa wanita itu adalah perempuan paling penting untuk masa depannya.


Kemalangan yang terjadi pada diri Amara memang sudah memberikan bekas luka yang dalam. Tapi mau sampai kapan wanita itu tenggelam dalam kubangan masalalu yang mana wanita itu adalah korbannya.


Kehadiran Emir adalah untuk menjadi penjaga dan pelengkap dalam hidup wanita itu.


Bagi Emir, tidak ada cara lain untuk mengatasi rasa takut selain menghadapinya. Atau akan tenggelam dan semakin terpuruk, Emir tak ingin Amara seperti itu.


Emir mengangkat tangan kanannya untuk membelai wajah Amara dengan lembut. Tatapan Emir yang sedari tadi tak lepas menatap manik mata wanita didepannya itu -- dia kunci dalam sendu. Lalu dia berucap, "Kamu masih belum mempercayaiku?"


...Bersambung...