
Masa Kini
"Dasar Perawan Tua!" pekik suara wanita yang begitu nyaring sambil membanting kuat telpon paralel yang ia pegang.
Sontak hal itu mengagetkan teman disebelahnya yang tengah bersiap-siap pulang.
Wanita yang berkisar diusia 30 tahun itu menoleh, mencoba meredam emosinya--agar tak mengalihkan ke orang yang tak tau apa-apa.
"Gue disuruh lembur! Tai kan?!" rutuknya lagi. "Baru aja gue baikan sama laki gue, dan gue udah janji mau masakin enak buat dia, Ra. Cobaan banget sih!" sesalnya dengan wajah menahan tangis.
"Biar saya aja yang gantiin, Mba Beby ..."
"Seriusan nih?" Tentu saja wanita itu sangat senang mendengar hal itu dari juniornya. Baginya wanita dihadapannya ini bagai malaikat penolong walau terlihat jutek dan terkesan dingin.
"Thanks Asmara ...," Dia pun langsung memeluknya. "Gue janji! Besok bakal gue bawain makan siang!" serunya, lalu ia pergi keluar dari ruangan itu.
"Jangan gampang bilang 'janji' nyebutin nama aja salah mulu," gumamnya mencebik kesal.
Di Ruangan yang dikhususkan bagi Karyawan itu, dia kembali menaruh tas nya di loker pribadi.
Kemudian dia kembali memakai seragam kerjanya, tak lupa ia kalungkan name tag dilehernya--yang bertuliskan 'Cleaning Staff Le Park City' serta fotonya yang nyaris tanpa senyum dan dibawahnya bertuliskan nama panggilannya 'Amara' bukan 'Asmara'--huh! kesal setengah mati dia jika namanya selalu salah diucapkan.
Amara berjalan menaiki lift karyawan sambil mendorong troli yang berisikan peralatan kebersihan.
Di dalam lift itu ternyata ada atasanya, dan Amara sedikit terkesiap, karena wanita inilah yang tadi membuat Beby hampir menghancurkan telpon milik Perusahaan.
"Loh, kamu belum pulang?" tanya seorang wanita berkacamata.
"Longshift, Bu" sahutnya datar sambil menganggukan kepala.
Tak lama kemudian denting lift berbunyi dan terbuka di angka10. Sebelum keluar, Amara menyempatkan pamit sambil menganggukan kepala pada Atasannya itu.
Sudah hampir tiga tahun Amara bekerja di Kawasan Apartemen Le Park City sebagai Cleaning Service.
Sebelumnya wanita itu bekerja diberbagai tempat.
Wanita itu berhenti saat sudah sampai dipintu baja dengan kunci canggih yang menggunakan akses kartu.
Ya, hanya orang tertentu saja yang bisa mendapatkan akses itu, salah satunya adalah bagian pembersih yang sudah terdaftar dengan serentetan keamanan.
Amara menggesekan kartu itu, dan secara otomatis pintu itu terbuka setelah bunyi khusus.
Tugas yang dialihkan padanya membuat Amara mendesah kasar. Ruangan yang cukup besar dan mewah itu bagai kapal pecah.
Serpihan dari Vas kaca berserakan dimana-mana. Sehingga membuat wanita itu harus memakai sepatu boot agar aman.
Belum lagi botol minuman sekelas Wine yang berserakan di atas meja Bar yang tersedia disana, puntung rokok, bekas tisu dan ... ugh! Alat pengaman bekas?! Bukan satu--tapi banyak!
Amara benci dengan pekerjaanya yang seperti ini. Dan orang-orang macam apa yang tinggal di sini.
Dengan menggunakan sarung tangan karet, masker dan kain penutup kepala, Amara mulai membersihkannya dengan detail. Jika masih ada yang tersisa, maka tamatlah riwayatnya.
Sebelum berdoa untuk kejernihan pikirannya, Amara lebih dulu menghujat, mengatai, mengutuk dengan kata-kata kasar pada tempat yang lebih mirip seperti Neraka ini.
...Bersambung...