Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
42| Dimana Kamu



...Dimana Kamu...


SETELAH menyelenggarakan rapat guna membahas launching produk, Emir bergegas ke ruangannya, rasanya kepala pria itu mau pecah.


Memonitor Perusahaan di Jepang yang sebagai pusatnya, sungguh bukan perkara mudah. Ada dua pilihan, Helma atau dia yang harus kembali ke sana. Jika boleh memilih, Emir tak ingin kembali, karena dia masih belum menemukan Amara.


Ya! Bisnis yang dia mulai bersama Helma seolah bagai bomerang.


Pandangan Emir kini beralih ke ponsel pintar rancangannya. Walpaper dengan wajah Amara yang dia ambil sewaktu pertama kali menjadi Murid SMA Bhineka tersemat disana.


Foto-foto kebersamaan dengan gadis itu, dia scan di jadikan file khusus--agar tidak pudar dan bisa ia pandangi kapan saja. Sayangnya hingga berbulan-bulan Emir tak mendapat titik terang keberadaan Amara.


Emir pernah menghubungi kedua sahabat gadis itu--Sandrina dan Melani, namun mereka pun hanya berharap bahwa Emir dapat menemukan keberadaan Amara.


"Dimana kamu?!" desis Emir terdengar putus asa.


Tak lama sebuah ide terbesit dipikirannya. Bergegas dia menghubungi kawan lamanya--Panca, yang juga pernah satu sekolah dan paling dekat dengannya hingga saat ini.


"Do, saya sudah tidak ada jadwal kan?" tanya Emir pada asistennya.


"Tidak ada Tuan. Anda bisa kembali ke Apartemen" sahut Edo.


Memikirkan tentang Apartemen, tiba-tiba Emir ingin merubah ke mode Komandan Perang. Setelah semalam dia menginap di Apartemen milik Helma, Emir belum menginjakkan kakinya di Apartemen yang sudah dibuat kacau oleh Andre--teman yang paling kurang ajar yang pernah dia miliki.


Melihat raut wajah Atasanya, Edo segera berkata, "Apartemen anda sudah Clear, Tuan. Benar-benar bersih seperti pertama kali anda membelinya" ungkap Edo yang pagi tadi datang Ke Apartemen Emir untuk mengambil baju kerja pria itu.


Emir hanya mengembuskan nafasnya. "Sepertinya saya akan membeli unit baru, Do" ucapan Emir hanya di angguki oleh Asistennya itu. "Dan tolong carikan unit serupa" pinta Emir.


"Baik, Tuan. Saya akan mencari unit baru di Le Park City, mungkin penthouse lebih aman un-"


"No!" Emir menjeda ucapan Edo. "Saya ingin pemandangan berbeda" pesan Emir penuh penekanan.


Lain halnya dengan Emir, Amara malah tengah lahap menyantap bekal makan siang yang dibuatkan seniornya itu.


"Elo harus makan banyak, biar badan lo ini montokkan dikit" kata wanita yang bernama Beby. "Berkat elo nih, Suami gue nambahin uang belanja. Hahahaha ... makasih ya?" ujarnya lagi dan diangguki oleh Amara.


Beby memandang Amara yang sedang lahap memakan masakannya--selalu seperti itu.


Padahal Beby merasa masakannya biasa-biasa saja.


Dia jadi teringat saat pertama kali bertemu Amara.


Tepatnya sekitar Tiga tahun yang lalu.


Saat itu setelah pulang kerja, dia melihat Amara duduk di kursi halte dengan highheels-nya yang patah. Belum lagi make up tebal yang membuat wanita itu terlihat lebih tua, padahal Amara dua tahun lebih muda darinya.


"Kenapa, mbak?" tanya Beby pada sosok wanita yang ia gambarkan tadi.


Wanita didepannya hanya diam saja. Malah memandang aneh ke arah Beby yang berbicara lembut menyapanya.


Mungkin Amara menyangka Beby adalah 'Madam', sedangkan Beby beranggapan Amara adalah kupu-kupu malam.


Namun setelah keduanya berbicara, ternyata dugaan itu meleset. Dan ketika Beby mendengar cerita Amara yang hampir tertipu ke sarang birahi, akhirnya Beby mengajak Amara untuk bekerja ditempat yang sama dengannya.


Dan disinilah mereka. Walaupun hanya menjadi cleaning service--yang penting halal bukan?


Kalau kata Atasan mereka, Cleaning Service adalah pekerjaan dengan ladang pahala terbanyak karena selalu menjaga kebersihan.


"Asmara ..." panggil Beby tiba-tiba. Dan Amara menoleh, walau namanya selalu salah diucapkan oleh wanita yang sudah seperti Kakak-nya itu.


"Elo, betah kan kerja disini?" tanyanya lagi.


...Bersambung...