
...Pemilik Sesungguhnya...
EMIR menatap tajam ke arah Andre yang sedang membaca satu persatu paket-paket kiriman yang kini berserakan di teras marmer Apartemennya.
"Bawa semua itu!" Seru Emir menatap Andre yang terperangah.
"M-maksudmu ... semua barang berharga ini?" tanya Andre dengan tatapan tak percaya. "Hei! Mir. Jangan bercanda, ini semua dari para pengaggum--"
"Aku tak peduli! Bereskan kekacauan yang kau mulai!" Emir menjegal ucapan Andre.
Benar yang dikatakan Emir. Bahwa Andre adalah biang keladi dari asal mula puluhan paket itu sampai di Apartemennya.
Beberapa waktu lalu, pria bajingan itu mengundang beberpa temannya--termasuk beberapa wanita yang mengaggumi Emir.
Alih-alih ingin memberikan kejutan pada Emir yang mendapat pengakuan dari majalah bisnis ternama, ternyata Andre malah memanfaatkan nama Emir untuk bersenang-senang dengan para wanita sosialita itu.
Tentu saja Andre terkesiap saat Emir menyuruhnya membawa pulang semua barang-barang yang pasti berharga itu padanya.
Sesaat Pria tamak itu akan membuka mulutnya, Emir berkata, "Dan beli Apartemen ini! Terserah. Kau cicil juga tak masalah!" Seru Emir.
"K-kau yakin?" Kesekian kalinya Andre bertanya dengan senyum menyebalkan.
Saat ingin kembali berucap, tiba-tiba dering ponsel milik Emir berbunyi. Saat dilihat ternyata Edo--Asisten pribadinya yang memanggil.
"Kerja Bagus! Kita bicarakan besok di kantor." Emir menutup panggilan itu. Lalu kembali menatap Andre yang benar-benar terlihat menjijikan.
"Temui aku besok setelah makan siang! Sekarang pergilah! Dan bawa semua sampah itu!" tukas Emir, lalu dia meninggalkan Andre yang mulai memunguti paket-paket itu untuk dimasukkan ke dalam troly.
Keesokan paginya, Emir terlihat lebih bersemangat. Pria itu sudah tak sabar mendengar kabar dari Edo, kabar yang sudah berbulan-bulan lalu dia nantikan.
Hari itu entah mengapa, Emir ingin merapihkan bulu-bulu tipis yang mulai tumbuh di area rahangnya, termasuk kumisnya.
Cukup tiga puluh menit untuk sampai ke area gedung perkantoran 'Izekai'. Pria itu sudah disambut oleh Satpam dan juga resepsionis di lobi kantornya.
Para Karyawan yang berpapasan dengan Pria itu pun memberikan ucapan selamat pagi dengan tunduk hormat pada salah satu pemimpin Izekai Megatech itu.
Saat memasuki ruanganya, ternyata Edo sudah menunggunya dengan sejumlah dokumen yang berserakan di atas meja.
"Bagaimana?" tanya Emir tanpa basa-basi dan langsung duduk di sofa berhadapan dengan Asistennya.
Sudah hampir 2 bulan Emir memerintahkan Edo untuk menyelesaikan kasus Rumah milik keluarga Amara.
Pasalnya saat Emir pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia, dia dikejutkan bahwa rumah itu ternyata telah berpindah kepemilikan sejak tujuh tahun silam.
Usut punya usut, ternyata rumah itu dijual oleh Liana--Ibu Amara. Namun yang membuat Emir frustrasi, pria itu tak tau keberadaan keduanya hingga saat ini.
Dan yang membuat Emir merasa beruntung ternyata Pemilik sebelumnya itu tidak pernah menempati rumah yang dibelinya dari Liana.
Skandal hutang adalah penyebab dari surat-surat kepemilikan lahan itu di sita pihak Bank. Dan Edo sudah mengurus bersih semua itu, hingga kediaman milik Amara, kini sudah ia selamatkan.
"Dari pada Anda membeli unit baru, kenapa tidak anda tempati rumah itu saja, Tuan?" ujar Edo.
Emir terdiam saat mendengar ucapan Edo, dia memandangi dokumen yang dipegangnya. Sebuah nama dari satu keluarga yang begitu berjasa atas hidupnya--'Andar Salim'.
"Rumah itu akan kukembalikan pada pemilik aslinya!" Janji Emir.
...Bersambung...