
TERIAKAN Aidan membuat pelukan dua orang dewasa di kamar itu terlepas. Kemudian Amara dan Emir menoleh ke arah bocah yang kini berada di pojok ruangan, sambil menunjuk sebuah bingkai foto yang terpajang disebelah tempat tidur berbentuk pesawat luar angkasa.
Emir mendekati bocah itu, dan Amara mengikutinya.
Aidan sedang menggenggam sebuah bingkai foto yang pernah diambil Emir melalui kamera ponselnya. Dan foto itu diambil saat pertemuan mereka ketika akan mengantar Emir ke Bandara untuk kembali ke Jakarta -- satu bulan yang lalu.
"Tentu. Papa ingin kamu memandang foto itu sebelum tidur. Agar Aidan selalu ingat bahwa kamu memiliki Mama dan Papa yang selalu menyayangimu, boy," ujar Emir mengusap rambut Aidan sambil berlutut didepan bocah itu.
"Ya, aku akan melakukan apa yang Papa katakan," ujar Aidan sambil mengelus bingkai foto dimana ada gambar dirinya dan juga Mama Papa nya.
Kemudian Aidan mendekati Emir untuk memeluk pria itu. "Terimakasih, Pa," gumamnya.
Tak lama ponsel Emir berdering. Emir menjawabnya dan berbicara sebentar lalu menutupnya.
"Makanan kita sudah tiba," beritahu Emir. "Kita makan dulu, setelah itu baru istitahat," ucapnya lagi.
▪︎
Ketiganya kini sedang bersama-sama menyantap makanan yang Emir pesan melalui Restautan pesan Antar. Karena sejak mereka datang, rumah itu benar-benar kosong. Hanya ada penjaga di pos gerbang utama saja.
"Aku mau membawa seseorang untuk membantu dirumah ini," ucap Emir disela-sela makannya.
"Aku bisa melakukan sendiri, Mir. Aku ini pekerja terlatih dalam urusan bersih-bersih. Apa kamu lupa?" ucap Amara sambil memakan menu teriyaki kesukaanya.
Tentu saja Emir tak akan pernah lupa bagaimana wanita itu bekerja dengan kesungguhannya.
"Aku yang membersihkan Apartemen mu dulu di Le Park --,"
"Hei! Bukan aku yang melakukan kekacauan itu," sergah Emir. "Andre. Dia yang melakukan itu tanpa seijinku. Dan aku sudah pindah ke unit baru di tempat lain" beritahunya.
Emir benar-benar malu memiliki teman se-brengsek Andre. Apalagi ternyata, Amara lah yang membersihkan sisa-sisa kekacauan pesta segs di Apartemen miliknya saat dia masih tinggal di kawasan elit Le Park City. Dan sekarang entah kemana teman laknatnya itu. Sudah lama dia tidak bertemu.
"Aku nggak mau kamu cape. Kamu cukup fokus pada Aidan saja. Dan aku yakin, orang yang aku rekomendasikan ini akan membuatmu nyaman. Kita mengenalnya," ungkap Emir.
Lebih dari apapun. Kepentingan Amara adalah yang utama.
Tentu saja Emir tak lupa dengan pesan dari Melani yang sudah mendampingi Amara sebagai psikiaternya selama ini.
...▪︎▪︎▪︎...
Hari sudah malam. Aidan pun sudah tertidur pulas diranjang barunya setelah Emir memandikan bocah itu. Aidan mengatakan pada Mama dan Papa-nya, bahwa kamarnya sekarang adalah markas miliknya. Emir senang, ternyata usahanya merekrut orang-orang profesional tak mengecewakan. Aidan benar-benar tenggelam didalam imajinasinya.
Emir melangkah ke kamar Amara yang kini berpindah ke kamar utama -- tempat mendiang otangtua wanita itu.
TOK! TOK! TOK!
Emir mengetuk pintu Amara sebanyak tiga kali. Dan tak lama Amara membukanya.
"Boleh aku masuk?"
Amara membuka pintu itu dan memberi jalan agar Emir masuk kedalam kamarnya, lalu wanita itu sedikit merapatkan pintu -- tidak sampai tertutup.
"Boleh aku tidur disini?" tanya Emir yang kini duduk di ranjang Amara.
Pertanyaan Emir yang tiba-tiba itu membuat Amara membelalakan matanya.
"Aku malas kembali ke Apartemen. Sudah terlalu malam, dan aku juga lelah. Kamar ini terlihat nyaman dari kamar lain," sergah Emir dengan raut wajah memohon saat Amara baru akan berbicara.
Benarkan?!
Ternyata Emir tak waras.
Mereka bahkan belum menikah, dan Emir berkata tanpa beban ingin tidur dalam satu ranjang dan kali ini tanpa Aidan diantara mereka.
Amara tak bisa berbicara apa-apa. Inilah alasan mengapa dia sangat menghindari hutang budi. Karena akan susah untuk menolak, atau Amara yang memang tak keberatan.
...Bersambung...