
SESAMPAINYA di depan pintu lobby. Sukardi terlihat mengejar Emir dengan tergesa-gesa.
"Maaf ... Pak Emir," ujar Sukardi dengan terengah-engah.
Emir menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Sukardi. Tapi Emir tak mengatakan apapun.
"Boleh saya bicara dengan Bapak?" tanya Sukardi lagi yang masih ngos-ngosan.
Emir sempat melihat jam dipergelangan tangannya. Jadwal meeting pagi ini sekitar jam 8.30, agak mepet sebenarnya. Tapi Emir juga sudah malas berhubungan dengan pria didepannya ini. Harus selesai sekarang pikir Emir.
"Di ruangan saya saja," tukas Emir kemudian berjalan mendahului Sukardi yang mengikuti langkahnya dalam ketegangan.
▪︎
"Katakan! Saya tidak punya banyak waktu," tegas Emir.
Baru sekali ini Sukardi melihat sikap Emir yang dingin. Biasanya pria itu selalu berkata dan menatap hangat pada Sukardi. Karena Sukardi tahu, Emir adalah tipe orang yang menghargai orangtua, sekalipun itu bawahannya.
"Saya mau minta maaf, Pak," ucap Sukardi.
"Minta maaf?" tanya Emir yang pura-pura tak mengerti.
Seketika Sukardi maju mundur akan niatnya untuk jujur. Pria berkumis lebat itu pikir, bahwa Emir sudah tau tentang kejadian kemarin.
Siang kemarin Sukardi memang sempat adu mulut dengan Lastri -- pembantu di rumah Amara.
Sukardi yang melihat bocah kecil memanggil Amara dengan sebutan 'Mama' -- membuat Sukardi geram. Terlebih anak kecil itu dengan bebasnya berlari kesana-sini didalam rumah majikannya. Dan perempuan bernama Amara itu malah membiarkannya saja.
Dan disitulah Sukardi meradang, sampai dia berkata seperti ini, "Heh! Kamu pembantu paling nggak tau diri! Kerja seenaknya, dan berani bawa anak! Nanti akan saya adukan kelakuan kamu sama Pak Emir. Biar kamu dipecat!"
Makian dan ancaman Sukardi itu memancing Emosi Lastri yang tiba-tiba muncul dari arah dalam.
Saat melihat Sukardi berteriak sambil memaki majikannya -- Lastri langsung mencecar pria tua itu dengan kalimat tak kalah sadis.
"Wah-wah! Berani kamu ya bicara seperti itu! Encamkan ucapan saya ya! Yang akan diusir bukan Non Amara dan anak ini, tapi kamu tua bangka bau tanah!"
Jujur saja, sebenarnya perkataan Lastri itu membuat Sukardi sedikit ketar ketir. Dia takut jika saja apa yang dikatakan Lastri benar adanya.
Apalagi saat melihat reaksi Emir yang tadi pagi dengan luwesnya bersikap manis pada perempuan yang bernama Amara dan juga anak kecil itu. Jujur saja Sukardi takut setengah mati. Artinya perempuan yang dia anggap pembantu itu ternyata bukanlah pembantu biasa. Begitu pikirnya.
Tapi yang membuat Sukardi merasa aneh -- gelagat atasan didepannya ini, tak ada membahas apapun perihal kejadian kemarin. Itu artinya, Lastri tak mengadukan apapun pada Emir. Sukardi yakin itu.
"Meminta maaf tentang perihal apa?" tanya Emir sekali lagi yang membuat Sukardi mengerjap dari lamunanya.
"Emm ... a-anu, Pak. Nanti sore saya ijin tidak bisa menyupiri Bapak, karena istri saya sedang sakit, dan tidak ada yang mengantar untuk berobat," dusta pria itu.
'Kamu pikir saya bodoh!' geram Emir dalam batin.
"Oke," sahut Emir mengangguki saja, namun sedetik kemudian dia kembali berkata, "Oh ... iya, kebetulan mulai hari ini perusahaan akan sibuk untuk pengiriman. Jadi sekalian saya alihkan Bapak untuk stay di kantor saja," jelas Emir.
"Y-ya Pak, maksudnya ... saya tidak jadi supir pribadi Bapak lagi?" tanya Sukardi yang lumayan kaget dengan berita yang tiba-tiba ini.
Kalau pria itu bekerja untuk perusahaan, otomatis dia hanya akan menerima gaji standar sebagai supir biasa. Sedangkan selama dia bekerja sebagai supir pribadi Emir, pria itu memiliki gaji yang jauh lebih besar. Lagi pula kerjaanya juga santai.
"Apa perktataan saya kurang jelas?" ujar Emir menahan geram.
Kalau saja pria didepannya ini mau jujur. Mungkin Emir akan mempertimbangkannya. Tapi sayang sekali, Sukardi memilih jalan ini. Jangan salahkan Emir yang memiliki kekuasaan. Masih untung tidak dipecat.
"Nanti semua akan diproses oleh sekretaris saya," tukas Emir. "Apa ada yang mau Anda sampaikan lagi?" tanya Emir basa-basi sambil melihat ke arah jam ditangannya.
BIP!
Suara interkom yang ada dimeja Emir menyala. Emir langsung menekannya.
"Ya?" kata Emir.
[ Pihak Giant Techno sudah ada di lobi, Pak] sahut suara perempuan yang bekerja di bagian resepsionis.
"Oke. Tolong antar ke ruang meeting" perintah Emir dan langsung menutup sambungan interkom itu.
Emir langsung mengambil tablet kerjanya dan juga beberapa file dokumen yang ada didalam tas kulit yang tadi dibawanya. Kemudian pria itu berdiri.
"Saya rasa semua sudah jelas. Anda tinggal menunggu kabar selanjutnya," beritahu Emir dengan senyum dipaksakan.
"B-baik, Pak. Terimaksih," ujar Sukardi yang terpaksa menutup pembicaraan yang kurang memuaskan baginya.
Emir pun berjalan keluar ruangannya dan segera menuju ruang meeting.
"Sialan! Gara-gara perempuan dan anak sialan itu. Gw kena sial!" rutuk Sukardi saat melihat Emir sudah menghilang dari pandangan.
"Perempuan dan anak siapa maksud kamu?"
Suara perempuan yang tiba-tiba terdengar membuat Sukardi hampir limbung. Dia kaget setengah mati.
"Aduh! B-Bu Helma, maaf Bu, tolong jangan laporkan ucapan saya," ucap Sukardi dengan memelas.
...Bersambung...