
Ceklek!
SUARA knop pintu kamar yang terbuka terdengar lirih. Amara langsung menoleh ke arah sosok yang baru saja masuk ke dalam kamar.
"E-mir ... bikin kaget aja" Amara semakin gugup kala lelaki yang sudah sah menjadi suaminya itu muncul dari balik pintu.
Tak lama suara pintu yang tertutup terdengar, diakhiri dengan kunci yang memutar perlahan. Emir mengunci kamar mereka. Dan itu membuat Amara menelan saliva susah payah.
"Kenapa panggilannya jadi berubah seperti di awal-awal sih ... Aku lebih suka di panggil Akang atau Sayang" Amara hanya mencebikkan bibirnya saat mendengar ucapan yang terlontar dari bibir suaminya.
Kemana keberanian Amara tadi siang saat dengan impulsifnya memanggil sosok teman masa kecilnya itu dengan sebutan Akang?
Amara berpikir awalnya panggilan 'Kang' adalah untuk kesopanan dan penghormatan pada Suaminya. Namun, setelah menyadari dengan sesama, kenapa jadi geli sendiri mendengarnya.
"Nanti aku biasakan," sahut Amara sambil melipat bibirnya. Masih canggung pikrnya.
Emir yang kini sudah duduk disebelah Amara hanya bisa tersenyum geli. Mereka terlihat seperti ABG yang sedang pe-de-ka-te. Maklum lah ya, keduanya belum pernah merasakan pacaran di jamannya.
"Dibiasakan mulai sekarang. Gini-gini aku lebih tua 10 bulan dari kamu," ujar Emir yang mulai merasa dialah si dominan.
"Iya deh, si paling tua," gumam Amara yang membuat Emir tak kuasa menahan tawa.
Si paling tua? Kosa kata dari mana pula itu! Batin Emir.
Tiba-tiba suasana kamar pengantin menjadi hening. Sampai-sampai suara pendingin ruangan dikamar itu terdengar sayup. Sayangnya tak ada jam dinding yang mengeluarkan bunyi detak yang mungkin saja membuat sepasang pengantin baru itu ikut berhitung.
Emir yang biasanya agresif main serobot. Kini malah terlihat kaku dan salah tingkah.
"Apa kamu lelah?" Emir berusaha kembali bersuara.
Aduh! Kenapa juga malah pertanyaan itu yang terlontar dari mulutnya. Kalo Istrinya nanti menjawab lelah, habis sudah semua perkara malam pertama. Emir hanya merutuki dirinya yang ternyata tak ahli dalam merayu.
"Lumayan ..." Tuh kan. Apa dikata? Istrinya lelah. Bagaimana tidak, dari pagi buta sampai menjelang sore tenaganya terkuras habis menjamu tamu. Terus sekarang bagaimana urusan malam pertama?
"Ooh," Emir hanya pasrah saja. Tak tega mengajak sang Istri yang sudah lelah untuk 'berlelah-lelah', yang ada nanti bukan saling menikmati. "Ya sudah kita tidur saja dulu" ujar Emir dengan menekankan kata 'dulu'. Itu adalah kode halus, semoga Amara bisa paham.
"Kamu yakin nggak apa-apa?" Amara yang bertanya dengan raut wajah polos membuat Emir menggeram pelan menahan diri.
Huh! Sungguh kaku sekali interaksi mereka ini. Mirip pasangan yang baru saling mengenal dimalam pertama saja.
"Kondisi kamu lebih penting buat Aku," Emir terlihat lebih serius mengatakannya. "Kesiapan fisik dan ... hati kamu lebih penting buat Aku, Tweety," ungkapnya yang merasa dia sudah siap lahir batin.
Emir memang harus perlahan dalam urusan ranjang. Dia teringat apa yang Ibunya katakan tentang tragedi yang pernah menimpa istrinya ini. Kejadian yang tak sanggup Emir sebutkan lagi. Hal itu telah meninggalkan luka trauma pada wanita yang dicintainya.
Amara tentu merasa takut. Tapi lelaki yang kini merengkuh jemarinya adalah Emir--suaminya. Sosok lelaki yang tak akan menyakitinya.
Cup
Emir membawa tangan istrinya untuk kemudian dia kecup. "It's okay, Sayang. Lebih baik kita istirahat dulu," ujarnya dengan lembut.
Amara pun menoleh. "Sini," pinta Emir sambil menepuk tempat kosong didekatnya. Tanpa berkata, Amara pun langsung menuruti lelaki itu dan berbaring didekat suaminya.
"Begini lebih baik," kata Emir. Kini posisinya berbaring miring menghadap Amara dengan sebelah tangan menyanggah kepalanya sendiri.
Emir berdeham untuk menghilangkan gugupnya. Sebab wajah Amara berada dibawahnya. Cantik pikirnya.
"Dua minggu tidak bertemu, kamu makin tambah cantik," rayuan pertama akhirnya meluncur dari bibir Emir. Tapi memang benar. Amara terlihat lebih bersih, cerah dan ... menggemaskan.
Amara salah tingkah saat netra Emir tak lepas memandangnya. Keduanya saling pandang dalam hening. Sampai pada jemari kokoh Emir membelai bibir ranumnya seringan bulu. Membuat geli.
"Can I kiss you?" desis Emir.
"Kenapa harus izin? Biasanya langsung," Amara balas berbisik sambil mengusap halus rahang Emir. Emir merasakan tangan wanita itu terasa bergetar.
"Tentu aku harus izin. Karena aku yakin setelahnya Aku tak akan bisa berhenti!" desis Emir dengan suara parau.
Diusianya yang sekarang, harusnya tidak sulit bagi Amara untuk mendeskripsikan maksud dari ucapan Emir barusan. Namun, sungguh Amara minim pengetahuan seputar hubungan suami-istri. Dia terlalu takut mencari tau semua itu. Yang dia ingat, hal-hal seperti itu hanya membuat kejadian masa lalunya kembali kepermukaan.
"Kamu percaya Aku 'kan?" Menyadari bahwa seorang Emir tak mungkin menyakitinya. Amara pun mengangguk. "Aku akan melakukannya dengan perlahan," bisik Emir meyakinkan. Rasa ke-lelakiannya sudah berada di ubun-ubun.
Melihat respon Amara yang mengangguk, Emir pun mendekatkan bibirnya pada bibir ranum istrinya. Dikecupnya lama bagian bibir itu, lalu beralih pada kedua mata istrinya, dia kecup lagi dengan lembut mata secantik mata Rusa itu sambil membisikan kalimat 'Aku hanya menginginkan kamu, Tweety. Dari dulu dan selamanya'.
Merasakan belaian tangan Amara di rahangnya, Emir pun kembali mencium bibir istrinya yang terasa lembab. Dan dalam kondisi bibir mereka yang masih bersentuhan, Emir kemudian mengurung tubuh sang istri. Sesaat kemudian, kecupan yang diberikan Emir semakin dalam, kini lidah pria itu membasahi bibir Amara. Sontak Amara terkejut dan tanpa sadar membuka sedikit bibirnya. Ciuman yang kali ini diberikan Emir berbeda pikirnya. Pria itu memagut, mengulum, bahkan mulai membelitkan lidahnya pada lidah sang istri yang terasa kaku.
Diperlakukan seperti itu Amara pun berpikir, mungkin inilah maksud dari suaminya tadi yang mengatakan jika lelaki itu tak akan bisa berhenti. Seketika pikiran Amara menjadi tak waras.
Melihat Amara yang kewalahan, Emir pun beralih turun untuk mencium rahang halus istrinya. Lalu sentuhan bibir itu semakin turun lagi ke bawah tepat dibelahan dada istrinya yang menyembul. Sedangkan Amara masih terpejam. Dia tak tau harus apa.
Sebelah tangan Emir pun tak tinggal diam, disingkapnya gaun tidur satin milik istrinya. Sehingga memudahkan tangannya untuk membelai bagian perut wanita itu. Seketika Amara menahan nafas saat Emir melakukan lebih.
"Percaya padaku," desis Emir disela-sela kecupannya--saat merasakan tubuh Amara yang kaku.
Emir tau. Wanita yang kini tengah terpejam erat itu sedang melawan rasa takutnya. Begitupun Emir, lelaki itu sedang berusaha memberikan pengalaman terbaik pada malam pertama yang baru dialami keduanya.
Saat jemari Emir merasakan milik istrinya siap, Emir pun kembali berkata, "Buka matamu, Sayang. Lihat Aku" Emir mencoba mengalihkan perhatian Amara agar kedua mata wanita itu tak terpejam. Emir tak ingin bayangan ketakutan istrinya dimasalalu datang dalam gelap dan mengacaukan semuanya.
Amara menuruti ucapan Emir. Dia menatap mata suaminya yang sayu sambil menarik nafas dalam. "Aku akan melakukannya sekarang. Tatap Aku" Dengan gerakan perlahan dan beberapa kali tekanan, Emir pun akhirnya berhasil menembus rasa sakit dan trauma yang selama ini membenamkan pujaan hatinya--dalam rasa rendah diri yang dirasakan wanita itu bertahun-tahun lamanya.
"Mir-h" bisik Amara yang terdengar sensual dipendengaran lelaki itu. Amara merasakan desiran yang luar biasa pada reaksi tubuhnya. Dia merasa dihargai kali ini. Suaminya tidak bohong. Lelaki itu melakukannya dengan lembut dan penuh kasih.
Perlahan tapi pasti, trauma yang bertahun-tahun dia alami terkikis oleh malam pertama yang begitu berkesan dan tergantikan dengan sesuatu yang membuatnya melayang, hingga jemari kaki Amara mengerat karena kesenangan yang baru pertama kali dia rasakan.
"A-mmarra-h! I Love You ..." Emir melenguh hebat saat akhirnya rasa nikmat dunia itu dia reguk bersama seorang wanita yang sudah sangat lama dia dambakan.
Dan dalam hati, Emir tulus meminta pada Tuhan. Agar apa yang dia lakukan bersama istrinya malam ini, dapat melahirkan kehidupan baru yang akan membuat mereka semakin erat dari waktu ke waktu.