
...Everything Is Gonna Be Okay...
UJIAN Akhir Sekolah telah usai, begitupun dengan serangkaian acara kegiatan kelulusan yang melelahkan.
Pagi ini Amara sudah disibukkan dengan packing beberapa kebutuhannya untuk berlibur.
Rencananya gadis itu akan menginap bersama Sandrina di Villa milik Melani yang ada di Puncak Bogor.
Melani yang merupakan teman dekat Amara dan juga Sandrina sejak mereka di SMP baru saja tiba satu minggu yang lalu dari Studi-nya di Australia.
Kini gadis itu akan mengajak kedua sahabatnya untuk menginap di Villa miliknya yang ada di Puncak--untuk memperingati pertemuan mereka yang kembali terjalin setelah tiga tahun.
Liana masuk kedalaman kamar putrinya. "Sayang ... apa tidak lebih baik ke Vila-nya besok saja?" tanya Mama Amara dengan berhati-hati.
Sikap Amara yang tak menggubrisnya membuat Liana menghentikan gadis itu yang sedang memasukan perlengkapan pribadinya ke sebuah koper mini. "Emir akan lama menetap di sana, sayang," Liana menatap wajah sayu putri satu-satunya itu.
"Terus?" sahut Amara yang masih tak menatap wajah Sang Mama.
Liana menarik nafas panjang dan mengembuskan perlahan sebelum berkata, "Kamu nggak mau anter kepergian Emir?"
Bukan sebab apa sang Ibu mengatakan hal demikian. Liana masih ingat betul saat Amara duduk di bangku SD.
Liana pernah menyampaikan pada sang putri, bahwasanya Emir akan memutuskan melanjutkan ke Pesantren setelah lulus.
Dan saat mendengar itu, Amara nangis terisak-isak. Gadis itu merasa berat berjauhan dengan Emir. Sehingga Emir mengalah dan tidak jadi Mondok.
Itulah sebabnya Amara memaksa Emir untuk bersekolah di tempat yang sama dengannya hingga kini.
Amara tau betul tujuan pembicaraan dari Mama nya. Sikap Amara yang mendiamkan Emir selama satu tahun belakangan ini tentu saja menjadi salah satu penyebabnya.
Tapi Amara teringat beberapa waktu lalu saat Emir mengajaknya ke warung roti pinggiran, dan saat itu Emir menyodorkan sebuah kertas padanya.
Amara melihat kop surat yang tertera di kertas itu--UNIVERSITAS TOKYO.
"Aku tau kok" ucap Amara yang masih menatap selembar kertas ditangannya. Amara terdiam cukup lama, sampai akhirnya dia berani mengangkat kepala dan berucap, "Selamat ya? Sukses dan lancar buat kamu" ujarnya datar. Dan gadis itu menatap mata Emir--setelah sekian lama tak saling tatap.
Emir terkesiap melihat respon gadis dihadapannya. Dia sangat merindukan tatapan dari gadis itu, hingga tanpa sadar sebuah senyum pun mengembang dari wajahnya yang rupawan.
"Paling lama empat tahun. Aku janji!" tukas Emir.
Dan keduanya hanya terdiam saling pandang. Seperti sedang menyampaikan apa yang tak bisa terucap selama ini.
"Sayang ..., Amara!" panggilan Mama nya membuat gadis itu tersadar dari lamunanya. "Kok malah bengong, bisa di tunda kan?" tanya Liana lagi saat Amara sudah menatapnya.
Gadis itu hanya memberi senyuman. Amara berpikir bahwa orangtuanya tak perlu tau apa yang tengah Amara rasakan. Dan tak perlu lagi ada yang di cemaskan. Segala sesuatunya sudah kembali pada tempat yang semestinya.
Amara menatap sang Mama yang terlihat khawatir. "Mah ... Emir kan udah dewasa, jadi nggak perlu dianter lagi" ucapnya. "Dan, Amara ... " gadis itu menjeda ucapannya. "Mamah enggak perlu khawatir berlebih. Amara baik-baik aja, Mah" sambungnya dengan senyuman yang sudah lama tak Liana lihat.
Tak lama setelah peebincangan itu, sebuah ketukan terdengar dari pintu kamar Amara.
...Bersambung...