Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
76| Kenyataan Yang Mengejutkan



EMIR sedang duduk di sebuah Restoran yang terletak di atas gedung, pemandangan yang menampilkan Gedung Opera dan Jembatan di Sydney itu sangat memanjakan matanya.


Sudah sangat lama Emir tak datang ke Negara ini. Terakhir kali adalah beberapa tahun lalu saat dia sedang melakukan perjalanan bisnis. Dan di saat itulah dirinya bertemu dengan Melani secara tak sengaja di sebuah Rumah Sakit.


Tunggu ... Rumah sakit?


Saat mengingat hal itu Emir mulai berhitung dan mencocokan tanggal serta kejadian yang tertulis pada lembaran yang Helma berikan kemarin.


Emir buru-buru membukanya, namun belum sempat menarik lembaran kertas yang ada didalamnya, tiba-tiba sebuah suara terdengar menyapanya.


"Hai, Mir. Maaf ya aku telat" ujar Melani yang langsung duduk di hadapan Emir.


Emir terlihat mengulurkan tangannya ke arah Melani yang sedang duduk dihadapannya itu sambil melemparkan senyum tulus, dan Melani pun membalas jabatan tangan itu.


"Aku juga belum lama kok. Apa kabar, Mel?" tanya Emir.


"Aku baik. Ada apa nih? Tumben dadakan" ucap Melani.


"kita mana pernah ketemu dengan terjadwal" celetuk Emir sambil tertawa ringan.


Melani kembali mengingat pertemuannya dengan Emir di sebuah Rumah sakit, dimana pria itu sedang memeriksakan kakinya yang cedera. Dan di saat yang bersamaan pula, Melani sedang menemani Amara di tempat yang sama.


"Gimana kondisi kakimu?" tanya Helma saat mengingat hal itu.


"Nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Asalkan aku nggak lari-lari berkilo-kilo meter atau nendang-nendang tembok. Pasti aman," kekeh Emir yang memang dijawab serius.


Emir tak pernah menceritakan musibah yang dia alami saat tsunami menerjang Jepang. Terakhir dia baru jujur pada kedua orangtuanya saat dulu datang mencari Amara. Dan yang baru-baru ini, dia menjelaskan pada Amara atas semua alasan mengapa dulu dia tidak datang saat pemakaman Om Andar--Ayah Amara.


Emir kembali mengingat hal terakhir yang tadi dia ingin lakukan sebelum Melani datang. Amplop coklat yang dia letakan di atas meja membuat matanya tertuju kesana.


Emir menatap Melani yang juga sedang menatap lembaran kertas ditangannya. Kemudian pria itu menyerahkan lembaran kertasnya pada Melani. Melani menerima dengan kening berkerut.


"Tanggal yang tertera disana, hampir bersamaan dimana aku bertemu denganmu di Rumah sakit saat itu. Apakah ...," ucapan Emir tertahan.


"Kamu menyelidiki ini?" tanya Melani setelah dia membaca tulisan yang dia yakini adalah laporan tentang persalianan Amara.


Emir menggeleng pasrah. "Sebenarnya tujuanku menemui kamu karena Amara pergi dari rumah," beritahu Emir yang membuat wajah Melani semakin mengerutkan keningnya. "Kami sudah bertemu. Dan Amara sudah kembali ke Rumah lamanya," ujar Emir yang membuat Melani menganga tak percaya.


"Jadi ..., ini, bagaimana kamu bisa ...," ucapan Melani terdengar racau. Perempuan ini masih mencerna semua pengakuan Emir.


"Aku mendapatkan berkas ini dari Helma, teman kerjaku yang juga mengenal Amara saat kami di SMA," jelas Emir.


Ya. Melani mengenal nama wanita itu. Amara dan Sandrina pernah menyebut nama 'Helma' saat dulu Amara mulai menjauhi Emir. Bahkan beberapa waktu lalu Sandrina memberitahukan prihal Emir dan wanita itu yang datang ke acara reuni sekolah mereka.


Dan sekarang wanita bernama Helma itu kembali membuat ulah apalagi terhadap Amara?


"Dia mendatangi Amara dirumahnya saat aku di Jepang. Saat aku pulang dan mendatangi rumah Amara. Dia sudah tak ada. Dan aku tau Helma datang menemui Amara dari laporan Satpam dan juga cctv. Namun, aku tak bisa dengar apa saja yang mereka bicarakan," lanjut Emir mengungkapkan apa yang menjadi kerisauannya.


"Aku hanya ingin bertemu dengan Amara, Mel. Sungguh. Bahkan aku tak peduli tentang berkas-berkas ini," lirih Emir menunjuk berkas yang dipegang Melani.


Melani yang sedari tadi menyimak sungguh dibuat terkejut. Reaksi Emir yang terlihat putus asa pun membuat Melani iba pada pria yang memang Melani sadari sangat menyayangi sahabatnya itu--Amara.


Dengan menarik nafas panjang, Melani pun menghela secara perlahan. Kemudian dia berkata, "Amara bersaamku," ungkapnya.


...Bersambung...