
SELAMA satu minggu penuh Amara melakukan berbagai macam perawatan di klinik khusus yang direkomendasikan oleh Sandrina. Wanita itu juga meminta Dokter kecantikannya menangani langsung Amara selama melakukan treatment.
Amara memang sengaja menekan ego-nya untuk meminta bantuan Sandrina agar sahabatnya itu memberikan solusi untuk masalah penampilan yang sedang dihadapinya.
[Coba aku lihat lebih lama. Jangan banyak gerak]
Suara Sandrina terdengar memerintah Amara dari layar ponsel wanita itu.
Siang ini Sandrina kembali memantau Amara melalui panggilan video. Wanita yang berprofesi sebagai Desainer itu selalu meluangkan waktunya untuk mengubungi Amara, di tengah kesibukannya dalam mempersiapkan New York Fashion Week beberapa hari lagi.
"Gimana? Udah nggak keliatan kaya Baby sitter, kan?" tanya Amara yang membuat wanita dibalik panggilan video itu tergelak.
[Nanti saat aku kembali ke Indonesia, aku akan ikut ke sekolah Aidan. Akan aku tunjukkan siapa kamu sebenarnya]
Sahut Sandrina yang begitu serius mengatakannya. Amara hanya mencebik melihat reaksi berlebihan dari sahabatnya itu.
[Aku senang deh, akhirnya kamu mau berubah untuk menerima perhatian dari kita,]
Alasan sahabat Amara itu mengatakannya, karena dia tahu betul bagaimana keras kepalanya Amara saat menolak semua bantuan dalam bentuk apa pun yang diberikan padanya saat wanita itu mengalami kesulitan ekonomi.
Tapi lihatlah sekarang. Hanya sebuah kalimat dari orang tak dikenal yang mengatakan dirinya lebih mirip seorang pengasuh -- Amara rela menurunkan harga dirinya untuk menerima saran dan juga barang-barang mewah dari semua orang terdekatnya.
"Demi, Aidan. Aku melakukannya agar dia tidak malu," sahut Amara meringis.
Amara merasa dirinya terlalu naif dan sombong saat banyak tangan menawarkan bantuan padanya karena alasan hutang budi.
Andai saja dulu dia mau terbuka pada orang-orang terdekatnya atas semua masalah yang dia hadapi, dan mau berbagi beban, mungkin tak akan ada kejadian tragis itu.
Akan tetapi dia harus bersyukur. Bahwa dari musibah yang bertubi-tubi dialaminya, membuat sosok Amara menjadi kuat dan mandiri. Terutama kehadiran Aidan -- bagai embusan nafas segar setelah sesak yang bertahun-tahun mencekik dirinya.
[Apa pun adanya kamu, aku rasa Aidan akan selalu bangga. Dia anak yang hebat. Kalian beruntung saling memiliki] ungkap Sandrina.
"Jadi ... kau tidak bisa hadir dalam acara debut Aidan menjadi brand ambassador perusahaan Emir?" tanya Amara memastikan.
Pada akhirnya Amara menerima semua tawaran Emir saat itu -- untuk mengijinkan Aidan menjadi brand ambassador untuk produk smart watch dari perusahaan Emir dan juga untuk hadir mendampingi Aidan dalam grand launcing yang akan di adakan besok sore.
Amara pikir, bahwa dia akan memulai menumbuhkan rasa percaya dirinya kembali. Semua dia lakukan semata-mata untuk hidup yang lebih bahagia.
[Hah! Aku benar-benar benci kenapa acara itu bertepatan dengan pagelaran tahuanan. Dan si kacung itu lebih dulu menerbitkan Aidan menjadi modelnya. Pokoknya musim dingin mendatang, aku mau Aidan menjadi model untuk rancangan baruku!] gerutu Sandrina terdengar kesal.
"Jangan memanggilnya dengan sebutan itu, Na," tukas Amara memberengut.
[Baiklah! Aku nggak akan memanggilnya begitu karena dia sudah baik padamu. Pokoknya pas acara itu, kamu harus memakai semua yang sudah aku kirimkan. Ingat itu]
"Oke. Terimakasih Kakak Peri," goda Amara.
[Kamu ini. Oke, aku harus kembali bekerja. Sampaikan cium sayangku pada Aidan. Dan juga sampaikan terimakasihku pada calon suamimu itu. Bye!]
Amara hanya geleng-geleng kepala saja saat melihat tingkah sahabatnya yang langsung memutus panggilan video mereka.
Cukup lama juga Amara melakukan panggilan video bersama Sandrina -- hampir satu jam. Memang tak pernah puas jika sudah memulai pembicaraan dengan perempuan itu. Hal sekecil apa pun bisa menjadi topik hangat untuk bergosip.
Setelah itu Amara bergegas keluar kamarnya dan turun ke lantai bawah untuk menemui Emir dan juga Aidan yang sebelumnya ada di ruang keluarga.
"Lama sekali bicaranya?" tanya Emir saat melihat Amara berjalan ke arahnya. "Sini," pinta pria itu menepuk sofa kosong tepat disebelahnya.
"Sandrina titip makasih buat kamu," beritahu Amara setelah wanita itu duduk ditempat yang Emir pinta.
"Harusnya aku yang bilang makasih. Kamu jadi tambah -- tambah cantik," puji Emir yang terdengar berlebihan sambil menatap lekat Amara. Dan perempuan itu hanya mencebikkan bibirnya yang kini terlihat merah natural -- berkat perawatan dari klinik kecantikan.
"Jangan manyun gitu. Bikin aku gemes pengen cium," bisik Emir yang mendekatkan bibirnya ke wajah Amara.
"Ih, nggak boleh. Bukan muhrim," tukas Amara sambil mendorong bibir Emir dengan telapak tangannya hingga kepala pria itu mendongak.
Lalu dia turun dari sofa untuk duduk bersama Aidan yang sedari tadi sibuk merangkai pesawat dari mainan bongkar pasangnya.
CUP!
"Ada titipan cium dari Tante Sandrina," beritahu Amara setelah dia mencium gemas pipi anaknya.
"Ih, Mama. Aku udah gede, kan malu," protes Aidan yang masih fokus menyusun mainannya.
Emir yang mendengar hal itu hanya terkekeh geli. Lalu pria itu ikut turun dari sofa untuk duduk di atas karpet bulu tepat dibelakang Amara.
"Aku juga udah dewasa. Tapi nggak malu kok kalo di cium kamu," tukas Emir sambil memeluk gemas Amara dari balik punggung wanita itu yang sudah terasa lebih berisi.
...Bersambung...
Author : Next part kita temuin Amara dengan Helma yuk~