Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
126| Gang Senggol



SEPULANG dari menjemput Aidan di sekolah bocah itu, Amara mengajak putranya dan juga Emir untuk mampir ke rumah Amara yang berada dikawasan Cimande -- kampung yang terletak di pinggiran kota Jakarta.


Sesampainya diujung gang, ketiganya berjalan masuk menyusuri rumah kontrakan padat penduduk. Mobil Emir tak bisa masuk. Jalanan gang sempit itu hanya bisa dilalui maksimal satu motor, sehingga jika ada orang yang hendak lewat maka wajib mengalah dan pindah berdiri ke teras rumah kontrakan milik orang agar tak beradu.


Seperti saat ini. Diujung tepat Amara berjalan terlihat sebuah motor akan melaju, dengan sigap Amara meraih lengan putranya untuk meminggirkan tubuh. Emir yang berjalan paling belakang pun hanya mengikuti pergerakan Amara untuk ikut menyampingkan tubuh dan menaikan satu kakinya ke rumah kontrakkan orang.


"Eh ... ini Amara, yak?" sapa perempuan dengan logat betawi yang kental. "Pangling bener. Cakepan. Kemane aje Lu?" ujarnya lagi dengan raut wajah semringah.


Sapaan dari perempuan yang biasa dipanggil 'Mpok Mina' itu membuat beberapa penghuni kos-kosan lain yang juga sedang duduk ikut menoleh.


Amara memang sudah jarang terlihat dikawasan gang senggol itu. Rumahnya sepi selama beberapa bulan ini. Pak RT yang biasa menagih uang sampah pun sudah beberapa kali mendatangi rumah perempuan itu, namun tak kunjung dibukakan pintu.


"Eh ... iya, Mpok Mina," sahut Amara yang kikuk dan bingung mau menjawab apa. "Saya permisi dulu," ujarnya lagi, dan setelah itu kembali menyusuri jalan setelah motor tadi telah melewatinya.


Sepanjang jalan menuju rumah Amara, semua orang menatap heran pada mereka bertiga. Terutama penampilan Emir yang tidak biasa itu. Mirip artis Ibu Kota, begitu menyegarkan mata.


Emir yang tak hentinya mengucapkan kata 'permisi' saat melewati sekumpulan ibu-ibu itu tak lelah sembari menebar senyum manisnya. Bukan ingin tebar pesona, tapi untuk kesopanan.


"Lah, Mas-nya kan yang pernah kemari, ya?" celetuk seorang Ibu yang kebetulan mengontrak tepat disebelah rumah Amara.


Emir tidak terlalu ingat dengan wajah Ibu yang dengan tiba-tiba mengajaknya berbicara.


Beberapa bulan yang lalu, saat pertama kali mendapati Amara di pertemuan reuni yang sengaja Emir rencanakan untuk menemukan wanita itu, Edo -- Asisten pribadi Emir, pernah mengajaknya ke daerah ini guna menemukan keberadaan Amara yang alamatnya terpampang jelas pada lembar CV saat Amara dipinang menjadi asisten rumah tangga dirumahnya sendiri. Tapi karena pada saat itu hari sudah gelap, jelas saja Emir tak ingat. Apalagi yang sempat berkomunikasi dengan ibu itu adalah Edo.


"Yang dulu pernah tanya Amara ke saya, masa nggak inget, Mas-nya?" desak Ibu itu lagi.


Amara sontak menoleh pada Emir. Tatapan wanita itu juga terlihat ingin tahu.


"Benar, Bu," sahut Emir sambil mengangguk dan melempar senyum.


"Jadi Mas-nya ini suami Amara?" tebak Ibu itu lagi.


Kini Amara dan Emir saling menatap.


Bukan tanpa alasan Ibu tadi mengambil kesimpulan sendiri. Dia melihat sosok Aidan diantara Emir dan Amara yang menggandeng kedua tangan orang dewasa disebelahnya. Belum lagi tas Aidan yang sejak tadi di bawa Emir, hal itu menandakan bahwa ketiganya dekat bukan?


"Ma, haus ...," keluh Aidan yang terlihat kelelahan karena perjalanan dari ujung gang menuju rumah Amara yang lumayan jauh.


Amara hanya tersenyum untuk menanggapi ocehan perempuan paruh baya tersebut.


Diantara penghuni lain, Amara memang termasuk penghuni lama. Wanita itu membeli rumah di gang senggol Cimande sejak Liana -- Ibu kandungnya masih hidup. Namun, keberadaannya sangat jarang terlihat. Apalagi pasca kasus yang menimpa Amara beberapa tahun silam -- selama hampir tiga tahun rumah itu dikosongkan, karena Amara tinggal bersama Melani di Sydney sampai Aidan dilahirkan. Dan pada saat Aidan hampir berusia dua tahun, barulah Amara kembali menempati rumah itu seorang diri.


"Anaknya ganteng. Mirip sama Bapaknya," celetuk Ibu itu lagi dari teras rumah kontrakannya.


Sontak saja Emir menolehkan wajahnya pada Ibu yang sejak tadi tak henti-hentinya nyerocos. Setelah itu Emir kembali menolehkan tatapannya pada wajah Aidan. Seperti sedang membuktikan kebenaran ucapan Ibu tadi.


Ah, ya. Apa mungkin karena mereka terlihat sering bersama, Emir pun merasa wajah bocah itu mirip dengannya.


"Kalau begitu saya masuk dulu ya, Bu Ambar, permisi" sergah Amara yang tak menggubris ucapan tetangganya.


Amara sudah membuka pintu rumahnya yang hanya sebesar kamar Aidan di komplek elit rumah orangtua Amara. Pria itu mengikuti Amara memasuki rumahnya setelah tadi pamit terlebih dahulu pada Ibu yang bernama Ambar yang masih memperhatikan dirinya.


Emir sedikit merapatkan pintu rumah Amara saat dirinya sudah berada didalam, kemudian berbalik melihat sekeliling isi rumah itu yang tampak sangat amat sederhana.


Rumah itu terbagi menjadi tiga petak, dimana ruang pertama hanya ada televisi layar datar yang tak seberapa besar yang tertempel didinding, dan juga karpet yang tergeletak begitu saja. Dan ruang selanjutnya atau ruang tengah hanya ada kasur busa yang terlihat lumayan nyaman, namun tergeletak di atas karpet tipis, serta sebuah lemari plastik dan juga kipas angin duduk yang ukurannya tak terlalu besar.


Emir kini berada di ruangan paling akhir, yang Emir yakini adalah dapur dan juga kamar mandi yang ukurannya hanya 2×1meter.


"Masak disini nggak bahaya?" tanya Emir saat melihat sebuah kompor gas satu tungku yang ada diatas meja yang terbuat dari semen.


"Nggak kok," sahut Amara singkat dari ruang tengah.


'Aku nggak nyangka kamu bisa hidup seperti ini, Amara,' gumam Emir dalam batinnya.


Pria itu benar-benar terkejut setelah melihat kenyataan bahwa seorang Amara Salim -- putri semata wayang dari mantan pejabat di Negri ini yang terbiasa hidup mewah bisa tinggal ditempat yang terbilang kumuh dan sesak.


Emir kembali berjalan keruang tengah dimana Amara terlihat sedang mengemasi beberapa barang kedalam tas milik wanita itu.


"Itu milikku?" tunjuk Emir pada sebuah barang yang tergantung didinding, yang dia yakini adalah miliknya.


Amara lalu menoleh ke arah yang ditunjuk Emir.


...Bersambung...