Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
114| Masuk Kandang Ular



DIAWAL pertemuannya dengan Amara, memang sudah membuat Sukardi tak suka sebenarnya. Pembantu kok pake di antar-jemput segala, begitulah pikirnya.


Dan kebencian pria itu bertambah, tatkala mengetahui Amara malah membawa anaknya untuk tinggal di rumah majikannya. Dan jujur saja. Sukardi baru tahu jika pembantu manja itu sudah menikah. Dimana suaminya pikir Sukardi -- kok bisa-bisanya mengambil kerjaan yang sampai menginap berhari-hari di rumah itu.


Tapi kejadian tadi pagi saat melihat atasannya itu bersikap lembut pada perempuan yang bernama Amara dan juga bocah lelaki yang songong itu -- membuat Sukardi penasaran.


Sebenarnya ada hubungan apa diantar Pak Emir dan pembantu itu. Apakah si Amara adalah gundik atasannya. Terlintas pemikiran ini dalam benak Sukardi.


"Brengsek! Gara-gara perempuan dan anak sialan itu. Gw kena sial!" maki Sukardi.


Saat Sukardi sedang memaki dengan kalimat-kalimat kotornya, ternyata salah satu petinggi dari Izekai sedang memergokinya.


"Perempuan dan anak siapa maksud kamu?" tukas Helma.


Spontan Sukardi pun menoleh. Jantungnya berdegup kencang saat tubuhnya sudah berbalik penuh ke sumber suara yang terdengar dingin itu. Bahkan dia hampir limbung saat melihat tatapan tajam dari wajah cantik perempuan didepannya.


"Aduh! B ... Bu Helma, maaf Bu, tolong jangan laporkan ucapan saya," ucap Sukardi dengan memelas.


Dia yakin, perempuan yang terlihat angkuh ini sudah mendengar semuanya. Sukardi benar-benar dobel sial pikirnya.


Helma yang baru menyadari pria paruh baya didepannya itu adalah supir pribadi Emir, tentu saja semakin penasaran.


Tadi, saat Helma dalam perjalanan menuju arah ruangan rapat diadakan, sayup-sayup perempuan itu mendengar suara pria yang tengah memaki sendirian.


Ruang kerja Emir dan Helma memang berada di lantai yang sama -- hanya di jeda oleh satu ruangan yang berfungsi sebagai ruang tunggu.


Helma sebenarnya tipe perempuan yang masa bodo. Akan tetapi pria yang Helma yakini adalah orang yang bekerja dibawah Emir, tentu saja membuatnya penasaran.


"Siapa nama kamu?" tanya Helma dengan wajah angkuh -- seperti biasa.


"S-sukardi, Bu ...,"


"Pukul lima sore ini datang keruangan saya," tukas Helma.


Setelah Helma mengatakan itu, Dia pun berlalu pergi dengan angkuh, diikuti sekretarisnya menuju ruang rapat.


Kini wajah Sukardi terlihat pucat pasi. Dia pikir -- matilah dia hari ini.


...▪︎▪︎▪︎...


Sesuai apa yang diinstruksikan, Sukardi datang ke ruangan Helma tepat pukul 5 sore. Saat itu semua petinggi sudah pulang, termasuk Emir -- jika tidak, habislah Sukardi karena ketahuan berbohong -- tidak mengantar istrinya yang sakit.


Pria itu kini sedang berada di sebuah ruangan milik Helma -- wanita nomor satu di Izekai. Tempat Sukardi bekerja.


Sukardi duduk di sofa empuk yang belum pernah dia rasakan. Suhu ruangan yang terasa dingin semakin membuat pria tua itu menggigil -- bukan karena sakit. Tapi tegang.


Sepanjang menunggu Perempuan bernama Helma itu, tak henti-hentinya Sukardi komat-kamit dalam hati sambil menggosok kedua telapak tangannya yang semakin berkerut karena dingin.


Pria tua itu benar-benar takut akan dipecat atau bahkan dipenjara karena lidahnya.


Saat sedang tenggelam dalam kepanikannya sendiri, tiba-tiba suara sepatu yang mengetuk lantai semakin nyaring ditelinga -- Sukardi mendongak dan langsung berdiri.


"Sore, Bu Helma," ucap Sukardi sambil mengangguk hormat.


"Duduk!" titah Helma pada Sukardi -- saat wanita itu sudah dengan anggunya menduduki sofa.


"Perempuan dan anak yang kau maksud itu siapa?" tandas Helma langsung pada intinya. "Apa ada kaitannya dengan Pak Emir? tanyanya penasaran.


Sukardi mencoba mencerna dengan cepat pertanyaan dari perempuan yang duduk didepannya. Dia melihat raut wajah datar perempuan itu begitu kontras dengan ucapannya yang terkesan penasaran ditelinga Sukardi.


"A ... anu, Bu Helma ... Perempuan yang saya maksud adalah pembantu dirumah Pak Emir," beritahu Sukardi.


Helma terlihat masih tak puas dengan jawaban pria didepannya. Sampai sebuah helaan nafas kasar di embuskan wanita itu.


"T ... tapi pembantu itu seperti punya hubungan khusus dengan Pak Emir, Bu," lanjut Sukardi.


Saat mendengar kalimat itu, spontan Helma membelalak, terlihat jelas sekarang wanita itu begitu antusias, dan hal itu tak luput dari perhatian Sukardi.


"Si Amara itu ...,"


"Amara?" sergah Helma menghentikan kalimat Sukardi.


Pria tua itu mengangguk cepat.


Sukardi yakin, Amara si perempuan yang bekerja sebagai pembantu plus-plus itu, pasti bukan pembantu biasa. Jelas terlihat dari sikap pria yang bernama Emir, dan kini perempuan angkuh didepannya pun memperlihatkan gelagat tak biasa.


Apa ini cinta segititiga?


Pria berkumis yang usianya dipertengahan abad itu pun mulai berspekulasi.


"Lalu?" todong Helma dengan nada penasaran.


"Pak Emir bersikap seperti sepasang kekasih dengan perempuan itu, Bu. Bukan itu saja, tapi pada anaknya juga. Ya ... pokoknya kelihatan kaya keluaraga sungguhan Bu, mesra," tambanhnya lagi dengan nada dilebih-lebihkan.


"Anak?"


Helma benar-benar penasaran setengah mati.


Apa itu anak haram Amara?


Bagaimana mungkin Emir dengan mudahnya mentolerir kelakuan hina dari perempuan manja itu yang melahirkan anak tanpa ada suami.


Dan yang membuat Helma geram adalah sikap Emir seolah dibutakan karena cinta masa lalu pria itu.


Sekelumit pemikiran Helma mulai menggerogoti hati dan pikiran wanita itu menjadi semakin benci dengan perempuan bernama Amara.


Ah, sebentar.


Apa jangan-jangan anak yang diajukan Emir untuk menjadi brand amasador dari produk baru mereka adalah ...


"Sialan!" umpat Helma tertahan saat dia membayangkan semua asumsinya benar-benar terjadi.


Sukardi begitu kaget saat melihat perempuan yang selalu terlihat anggun sekaligus angkuh ini bisa mengeluarkan makian kasar.


...Bersambung...