Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
119| Jangan Coba-Coba!



AMARA menggunakan lututnya untuk menendang perut Helma -- sampai wanita itu jatuh tersungkur kelantai kamar mandi. Lalu Amara mengunci tubuh Helma dengan dia yang kini berada diatas wanita itu.


Rok berjenis rempel dengan bahan sifon yang ia kenakan -- memudahkan Amara dalam pergerakannya.


Kini Amara menatap wajah Helma yang terlihat syok. Mungkin Helma tak menyangka bahwa Amara yang tubuhnya lebih kecil bisa sekuat itu sampai membuatnya terjatuh.


"Apakah mulut orang yang berpendidikan sepertimu memang sudah biasa mengeluarkan kata-kata seperti ini?" desis Amara.


Kini Amara berada diatas panggul Helma dengan menggunakan kedua lututnya sebagai penyangga. Sedangkan kedua tangannya menekan bahu perempuan itu sampai membuat wanita itu meringis kesakitan.


"Dengarkan aku baik-baik Helma Paradisa! Kau tidak tahu apa pun tentang hidup yang aku jalani selama ini. Begitupun aku yang tidak tahu dan tidak peduli tentang apa pun yang sudah kau alami. Kau mengataiku dengan apapun, aku tak peduli. Tapi ... jika aku mendengar kau mengatai anakku dengan sebutan haram? Maka jangan salahkan aku, jika aku bertindak lebih. Kau tentu tau siapa saja yang ada dibelakangku. Jika aku mau, aku bisa membuat mereka menutup mulutmu yang busuk ini," ancam Amara. Lalu dia berdiri dari tubuh Helma dan berbalik badan bersiap untuk membuka kunci. Namun, tiba-tiba ...


Helma tertawa sinis sambil berusaha bangun dari lantai. "Dugaan ku tak pernah melesat! Kau memang orang yang dengan tak tahu malunya, memanfaatkan orang disekelilingmu untuk menaikan statusmu!" ujar Helma sambil merapikan pakaiannya. "Kau memang parasit yang butuh banyak inang!" lanjutnya yang tak puas.


Amara berbalik ke arah Helma. "Terserah! Asal kau tau saja. Mereka dengan senang hati membuatku merambat pada mereka. Kenapa kau yang risih? Kau iri? Ck! Aku sarankan, carilah banyak teman," tukas Amara. Lalu dia membuka pintu toilet dan bergegas pergi dari sana.


"Brengsek!" teriakan Helma yang cukup nyaring itu masih terdengar oleh Amara.


Sepanjang menuju ball room hotel dimana Aidan berada, Amara mencoba merapihkan penampilannya yang pasti terlihat kacau. Dia mencoba mengatur napas agar emosinya stabil.


Dia sudah memprediksi bahwa Helma akan kembali mengata-ngatai dirinya. Tapi dia tidak menyangka bahwa putranya yang tak tahu apa pun itu ikut dibawa-bawa dan dikatakan sebagai anak haram.


Aidan -- putranya itu lahir atas kehendaknya sendiri disaat semua orang; dokter, pengacara, psikiater bahkan sampai dewan peradilan membolehkannya untuk menggugurkan anak tak berdosa itu.


Amara tahu resiko apa yang akan dia tanggung saat memutuskan janin yang ada didalam rahimnya dia perjuangkan. Bukan hanya dirinya yang akan kesulitan, tapi putranya pun akan mengalami kemalangan. Namun, atas nama kemanusiaan, Amara ingin anak itu hidup bersama dirinya untuk saling menguatkan. Salahkah keputusannya?


Dan kini putra malangnya dikatakan anak haram. Amara marah. Sungguh dia tidak terima. Tidak ada satu orang pun yang berhak merundung putranya. Lahir akibat perbuatan keji yang dilakukan manusia-manusia biadab itu adalah nasibnya. Amara pun sangat kesulitan untuk bisa bangkit seperti sekarang ini dari deperesi berat yang dia alami bertahun-tahun lamanya.


Jika sedang dalam keadaan seperti ini, maka secara alami dirinya kembali mengingat kedua pelaku pemerkosa yang telah membuatnya hancur sampai ketulang. Dan tak terasa air matanya merembas turun, Amara tak menyangka bahwa dirinya masih begitu lemah. Akankah dirinya bisa melindungi Aidan dari mulut jahat seperti Helma?


Saat memikirkan semua itu, kekhawatiran Amara semakin bertambah. Dan kini matanya terasa panas dan mulai basah.


"Apa anda baik-baik saja?"


Sebuah suara menyadarkan Amara yang entah sejak kapan dirinya sudah berada di dalam ruangan yang semakin ramai oleh pengunjung.


Amara menoleh. Seorang pria dengan wajah blasteran menyapanya dengan raut wajah heran.


"Y ... ya, saya baik-baik saja," sahut Amara yang mulai kembali fokus pada sekitarnya.


"Tisu ...," kata pria itu sambil mengulurkan tangannya pada Amara.


"Apa mata anda kelilipan? Saya lihat ada air mata yang mengembang di mata Anda," kata Pria itu saat Amara terlihat keheranan.


Air mata? Apa Amara menangis?


Amara benar-benar tak sadar akan kondisinya. Bahkan dia saja tak tahu jika sudah berada didalam ruangan ini. Untung saja dia tak mengenal orang yang sedang menyodorkan beberapa Tisu padanya. Dan darimana pria ini mendapatkan tisu-tisu itu. Amara benar-benar malu.


"Terimakasih," tutur Amara.


Tanpa ragu dia mengambil beberapa lembar tisu dari tangan pria itu.


"Apa ada sesuatu yang membuat Anda tak nyaman di acara ini?" tanya pria itu lagi yang masih setia berdiri disebelah Amara.


"Ah. Tidak. Saya rasa, mata saya benar-benar kelilipan," celetuk Amara sambil mengusap sisa basah pada matanya.


"Andre," ucap pria itu menyodorkan tangannya untuk bersalaman.


Amara melihat uluran tangan dari pria itu, dan Amara baru sadar bahwa pria didepannya ini memakai baju yang sama dengan Emir dan Aidan.


'Apa dia salah satu staf di perusahaan Emir?' tanya Amara dalam benaknya.


"A-Amara," kata Amara sambil menerima uluran tangan pria itu.


"Apa Anda salah satu tamu undangan?" tanya Andre yang tampaknya penasaran.


"Saya --,"


"Mama!"


Baru saja Amara ingin menjawab, tiba-tiba suara pekikan Aidan terdengar jelas menghampirinya.


"Hai, sayang," sambut Amara merentangkan kedua tangannya.


Andre melihat kedatangan seorang bocah lelaki yang dia yakini adalah bintang dari produk yang mana dia ikut berinvestasi didalamnya. Namun, yang membuat Andre mengerutkan keningnya adalah, sosok pria yang tak asing baginya yang sedang menggandeng tangan bocah itu dengan akrab -- berjalan mendekati Andre dengan tatapan tajam dan tanpa senyuman. Seperti biasa.


'Apalagi salah gue?' batin Andre.


...Bersambung...