Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
140| Tidak Ada Kompromi



MENUNGGU hampir sepuluh menit lebih dari waktu yang telah dijanjikan, akhirnya perawat yang melakukan tes pemerikasaan darah itu pun berjalan ke arah Emir yang tengah berdiri dengan kedua tangan yang terlipat didepan dadanya.


Pandangan nanar Emir yang sejak tadi dihujamkan pada lelaki yang masih duduk tersungkur tak berdaya dilantai itu, teralihkan. Dia menatap perawat lelaki yang kini sudah berdiri didepannya.


Seperti saling mengerti tatapan satu sama lain, perawat pria itu mengangguk, lalu berkata, "Hasilnya cocok, Pak. Dan aman untuk melakukan donor" beritahu-nya.


Tatapan Emir kembali beralih pada lelaki dilantai itu, yang sejak tadi juga ikut menyimak perbincangan dirinya dan sang perawat.


"A-apa?" desis lelaki berbaju tahanan itu. Raut wajahnya cemas.


Emir berjalan keluar ruangan dan segera membawa Fahri untuk kembali masuk.


Fahri lumayan terkejut saat melihat lelaki yang dijemputnya dari Rutan tadi, kini terduduk tak berdaya di lantai ruangan itu. Sudah dipastikan ulah Emir, pikir Fahri.


Dengan sigap Fahri membantu lelaki itu berdiri, dan menggiring nya untuk duduk di brangkar yang ada disana.


"Keberadaan kamu disini untuk melakukan donor darah --" tandas Fahri tanpa basa basi. Mereka tak punya banyak waktu. Fahri memilih jujur.


Saat melihat wajah lelaki itu yang penasaran dan akan menolak, Fahri kembali berkata, "Kami membutuhkan darahmu," tandasnya.


Lelaki yang lengan dan kakinya terikat itu hanya menampakkan wajah penasaran, dia sebenernya tak keberatan sama sekali jika hanya darahnya saja yang diambil. Selain dari itu, tentu saja dia tak akan mau. Namun, ada rasa tergelitik untuk tahu siapakah orang yang butuh darah dari seorang tahanan macam dia.


Apalagi penjemputan itu dilakukan pada malam hari dari rumah tahanan, dan orang yang menjemputnya adalah lelaki yang dia tahu masih keluarga dari perempuan yang pernah diperkosanya beberapa tahun silam.


"A-apakah ... Perempuan itu memiliki ...,"


Kalimat lelaki yang tampak lebih tua dari Emir itu pun menghentikan ucapannya.


Tidak mungkin perempuan yang telah dia lecehkan itu yang membutuhkan darahnya, kan?


"Cepat lakukan sekarang, Om," pinta Emir yang tak sanggup mendengar kelanjutan kalimat lelaki brengsek didepannya.


Sontak lelaki itu menatap ke arah Emir, sepertinya dia masih kesal terhadap prilaku kasar Emir yang seenaknya. Padahal dia tak pernah menyinggung pria itu, kecuali ...


Tiba-tiba seutas senyum remeh muncul dari wajah lelaki yang sudah hampir tujuh tahun ini mendekam di jeruji besi.


Deny. Nama bajingan itu adalah Deny. Lelaki yang usianya terpaut 3 tahun lebih tua dari Emir itu hanyalah preman jalanan yang kerap membuat ulah dan sering keluar masuk penjara. Namun, kejahatan yang dia lakukan terhadap Amara adalah hukuman terlama yang dia jalani.


Dan sialnya dia berurusan dengan orang yang salah. Melani dan Sandrina meminta tuduhan dan kasus tambahan agar lelaki yang telah merusak masa depan sahabat mereka itu bisa mendekam lebih lama di jeruji besi.


"Loe pacar atau suaminya?"


Alih-alih melontarkan pertanyaan, pria bernama Deny itu menebak bahwa Emir ada kaitanya dengan perempuan yang pernah dilecehkannya, yang sampai detik ini tidak dia ketahui namanya.


Fahri cukup terkejut saat sebuah kalimat terlontar dari lelaki yang bernama Deny itu. Seketika tatapan Fahri beralih ke arah Emir yang terlihat menukikan alis tebalnya dengan sorot mata tajam yang menghujam.


"Ah! Gue paham," tukas Deny lagi.


Melihat garis wajah Emir yang tak mirip dengan lelaki yang bernama Fahri yang masih kerabat dekat dari wanita yang pernah diperkosanya itu, Deny yakin seratus persen bahwa lelaki yang memiliki garis wajah Timur tengah itu memiliki hubungan yang tak biasa.


"Loe dapetin bekas dari Gue, eh?!" tandas Deny yang dengan sengaja menyulut api.


Dan benar saja, Emir langsung menerjang Bajingan itu dengan menarik rompi hitamnya secara kasar lalu membanting kelantai tanpa ampun.


Fahri yang melihat Emir murka langsung berlari ke arah pintu untuk segera menguncinya. Agar dua polisi diluar tak mendengar keributan apalagi melihat adegan kasar yang dilakukan Emir terhadap tahanan mereka.


Dalam hati Fahri puas dan setuju dengan tindakan Emir. Dulu Fahri memang melarang Emir untuk mendatangi Deny ke penjara, dengan alasan bahwa semua sudah diatasi. Namun, saat dia mendengar kalimat provokasi yang di lontarkan lelaki itu, seketika Fahri mendukungnya.


Bahkan dua perawat yang berada didalam ruangan itu hanya diam saja sambil menerka apa yang terjadi. Mereka tak berani berspekulasi.


Didasar lantai itu, wajah Emir merah padam. Deny yang ada dibawah tekanan Emir terlihat puas.


"Gue keluar sampe tiga kali! Pasti dia bunting, kan?! Dia bener-bener enak!" racau Deny dengan seringai mengejek yang seolah menantang.


Emir mengepalkan tinjunya kuat-kuat, hantaman demi hantaman keras dilayangkan ke arah pipi, hidung dan terutama mulut Bajingan itu secara membabi buta sampai mengeluarkan banyak darah.


"D-dia p-perawan yang en-nak!" racau lelaki yang wajahnya sudah babak belur. Seolah dengan sengaja meminta Emir meluapkan emosi yang sedari tadi ditahannya. Deny memang Bajingan.


Fahri yang melihat Emir sudah diluar nalar langsung berhambur menarik Emir dari atas tubuh lelaki yang kini terkapar.


Emir tersengal-sengal dengan emosi yang sepenuhnya belum padam.


"Cukup, Mir. Kita butuh darahnya," desis Fahri. "Ingat, Aidan sedang kritis," bisiknya lagi untuk menyadarkan Emir.


...Bersambung...