Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
115| Butuh Berubah



SUDAH terhitung satu bulan Amara dan Aidan tinggal di Jakarta. Aidan pun sudah didaftarkan oleh Emir di Taman Kanak-kanak yang tak jauh dari tempat tinggal mereka.


Emir sengaja memilih preschool dengan fasilitas lengkap dan terbaik agar dapat mengekspor kemampuan Aidan dalam menggali bakat dan juga hobi bocah itu.


Hari ini adalah minggu ke tiga Aidan menjadi siswa di Taman kanak-kanak berbasis international itu. Seperti sebelum-sebelumnya, Amara kembali menunggui sang anak sampai bel pulang tiba.


"Mbak-nya ini yang jemput anak baru itu ya?" tanya seorang wanita muda yang membuat Amara berkerut kening -- bingung.


Karena setahunya ada juga murid baru yang mendaftar bersama putranya di waktu bersamaan.


Perempuan yang mengenakan seragam khas Baby sitter berwarna biru muda itu pun menghampiri Amara yang sedang duduk sendirian dekat pojok sofa.


"Yang pindahan dari Australia itu loh. A ... Aidan, ya namanya?" kata perempuan itu lagi.


Amara mengangguk sambil tersenyum. Dan perempuan dengan warna polesan bibir merah jambu itu langsung duduk disebelahnya.


"Bapak nya Aidan ganteng ya, mbak? Situ seneng dong punya majikan kaya artis Turki, si Serkan Cayoglu, itu tuh," beritahu perempuan itu sambil berbisik.


Tunggu ... ada dua hal yang membuat Amara tak nyaman dari kalimat perempuan disebelahnya.


Yang pertama, wanita itu bilang 'punya majikan'?


Itu artinya, perempuan disebelah Amara menganggap Amara adalah Pengasuh, kan? Sama seperti perempuan itu yang sepertinya bekerja sebagai baby sitter dari salah satu siswa disana.


Amara akui, dirinya yang malas melakukan perawatan itu membuat penampilan Amara lebih pantas disebut pengasuh dari pada wali murid dari siswa di sekolah elit itu.


Padahal Sandrina -- sahabatnya yang seorang Desainer ternama itu, yang kini memilih berkarir di New York, sudah sering membelikannya paket perawatan wajah dan tubuh -- lengkap dari brand ternama dan juga kartu ekslusif dari salon pribadi perempuan itu agar Amara bisa melakukan perawatan sesuka hati. Tapi Amara terlalu malas untuk melakukan semua itu.


Dan sekarang tiba-tiba ada yang menyentil hasil dari sifat cueknya. Dia dikatakan sebagai pengasuh.


Hah ... Amara benar-benar ingin pulang saja.


Dia takut akan membuat malu Aidan saat orang-orang tahu bahwa Ibu dari seorang Aidan ternyata seperti dirinya.


Kalau seperti ini jadinya, Amara akan mulai merubah penampilannya.


Dan hal yang kedua, perempuan tadi mengatakan bahwa Emir mirip artis turki si Serkan Cayoglu?


Tidak. Dia tak setuju.


Burak Ozcivit lebih mirip dengan Emir -- menurut Amara. Sama-sama memiliki garis wajah tegas, rambut hitam, berhidung mancung, bermata besar dengan bulu mata lentik dan juga alis tebal. Tapi Emir tak menumbuhkan kumisnya.


"Istrinya pasti cantik juga ya, mbak?" tanya perempuan itu lagi.


Amara semakin menghela nafas lemah saat mendengar ocehan dari pertanyaan perempuan disebelahnya. Dia benar-benar merasa minder.


Pikir Amara, Emir memang cocok dengan perempuan cantik juga, agar mengimbangi ketampanannya. Dan harus yang pintar juga, agar bisa nyambung kalau diajak bicara. Sedangkan Amara tak memiliki keduanya. Akan tetapi Emir begitu yakin dengan dirinya yang seperti ini.


Keyakinan Emir itu tentu saja tak akan Amara tolak lagi. Akan rugi rugi pikirnya, kalau tidak menerima pria itu. Jadi Amara akan memutuskan untuk berubah. Demi harga dirinya untuk menjaga nama baik anaknya dan juga Emir yang mirip si artis Turki itu.


...Bersambung...