
MENDENGAR pertanyaan yang dilontarkan Aidan, membuat Emir terdiam sesaat. Pria itu sedang bingung memilih kata untuk menjawab rasa penasaran Aidan tentang kosa kata baru yang diketahui bocah lelaki yang tengah digendongnya.
"Apa yang kamu dengar itu adalah kalimat yang tidak baik diucapkan. Tidak boleh," kata Emir dengan lembut.
"Kenapa tidak boleh?" tanya Aidan lagi.
Ternyata bocah lelaki yang memiliki poni lebat itu masih belum puas dengan apa yang dituturkan Papa nya.
"Perkataan seperti itu akan menyakiti orang lain. Tidak baik diucapkan. Aidan paham?" tegas Emir.
"Seperti aku mengatai suara Rossie yang berisik? karena dia tidak pandai bernyanyi?" tanya Aidan yang sepertinya masih ingin memastikan.
Emir tersenyum kala mengingat kejadian terakhir Rossie merajuk karena Aidan mengatakan suara gadis kecil itu lebih mirip sebuah teriakan dari pada menyanyi.
"Ya. sama," sahut Emir.
"Berarti pria tua itu akan sedih seperti Rossie?" tanya Aidan. Dan hal itu membuat Emir menahan kekehannya.
"Nama pria itu, Sukardi. Aidan bisa memanggil pria tua itu dengan -- Pak Sukardi," terang Emir.
Dan ya, itu hanya penjelasan basa basi saja agar Aidan tahu. Tapi akan Emir pastikan bahwa pria tua itu tak akan muncul lagi dirumah ini. Emir akan menegur supirnya itu, dan juga menegur Bi Lastri pastinya. Karena wanita itu sudah meracuni Aidan dengan kosa kata baru yang tak pantas didengar anak-anak.
"Jadi, Pak Su--Kar--di, akan sedih?" tanya ulang Aidan. Dan dia masih kesulitan melafalkan nama yang menurutnya asing itu.
"Pak Sukardi tidak akan sedih lagi, nanti Papa akan belikan es krim untuknya," tukas Emir.
Ya. Benar, Emir akan memberikan pria itu es krim. Anggap saja sebagai perpisahan untuk Sukardi yang sudah bekerja padanya selama lima bulan ini. Selanjutnya, Emir akan memikirkan nasib Sukardi besok saja.
"Loh, kok masih disini?" tanya Amara yang tiba-tiba datang dari arah dalam rumah.
Emir dan Aidan menoleh secara bersama ke arah wanita yang terlihat sedang memakai celemek dihadapan mereka.
"Habis dengar cerita Aidan," sahut Emir.
"Kamu lagi masak?" tanya Emir yang mengalihkan perhatian Amara dari Aidan yang berlari.
Amara menatap Emir kembali. "Mana aku berani," sahut Amara dengan cengiran, dan Emir ikut meringis melihat reaksi wanita dihadapannya.
Walau sudah bertahun-tahun hidup sendiri, hal itu tak membuat Amara pandai memasak. Salah satu masakan yang bisa perempuan itu buat hanyalah mie goreng telur mata sapi -- dan itu adalah masakan andalannya.
"Bik Lastri, yang masak. Aku yang cuci piring," terang Amara yang membuat Emir menganggukan kepala.
Amara tetaplah Amara bagi Emir. Sosok gadis yang dulu kesulitan mengupas bawang bombay dan bingung bagaimana cara mencacahnya. Padahal makanan kesukaan wanita berambut sebahu itu, tak jauh dari si bombay.
Amara melihat koper kecil yang ditenteng Emir. "Ini pakaianku. Biar nggak repot pulang-pergi ke Apartemen," jelas Emir saat melihat tatapan Amara mengarah pada lengan kanannya.
"Dia mau tinggal disini?" batin Amara. Dia heran.
Wanita itu tak menyangka bahwa Emir akan memilih tinggal bersamanya dan juga Aidan di rumah itu. Padahal Emir sendiri memiliki Apartemen. Lagi pula jarak kantor dan rumah ini terbilang cukup jauh dibandingkan dengan Apartemen miliknya yang berlokasi di bilangan Jakarta Selatan.
Terus apa tadi, Emir bilang?
Agar tidak repot pulang-pergi ke Apartemen?
Lantas Apartemen miliknya dibiarkan kosong?
Tapi Amara juga tidak mungkin melarang. Toh rumah ini juga sebenarnya sudah menjadi hak Emir sepenuhnya. Karena pria itu yang sudah menebusnya dari penyitaan Bank yang bertahun-tahun lamanya.
Amara sadar sepenuhnya, kini dialah yang sebenarnya menumpang dirumah yang pernah menjadi miliknya. Ironis. Tapi itulah kenyataanya.
Sekarang dia hanya berpikir bagaimana caranya agar kebutuhan sehari-hari dirinya dan Aidan tidak terlalu bergantung pada Emir. Mungkin Amara akan membicarakannya dengan pria itu nanti.
...Bersambung...