Time To Say "I Love You"

Time To Say "I Love You"
37| Waktu Yang Tepat 'tuk Berpisah



...Waktu Yang Tepat 'tuk Berpisah...


AMARA menatap sendu ke arah Fatma, wanita yang sebaya dengan Mamanya.


"Bunda, mau ninggalin aku?" suara Amara terdengar pilu.


Fatma langsung beranjak dari duduknya, lalu memeluk gadis yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.


"Jangan ngomong gitu. Kita masih bisa ketemu. Jakarta - Majalengka kan nggak terlalu jauh" ujar Fatma dengan senyum yang membingkai wajahnya.


Fatma melepaskan pelukan itu, kini ia beralih menatap wajah sayu seorang anak perempuan yang sudah berubah menjadi gadis manis.


"Mana mungkin Bunda meninggalkan Putri bunda yang manis begini ...." lirih Fatma masih mengunci pandangannya ke arah Amara.


Liana yang melihat pemandangan pilu itu sudah tak tahan ingin menangis. Pasalnya dia sangat tau kedekatan Ibu kandung dari Emir dengan Putrinya. Fatma begitu tulus menyayangi Amara dengan sikap manjanya itu.


Kemudian Amara menoleh ke arah Ahmad. "Kenapa harus pergi dari sini, Om? ujarnya menatap sendu pada Ayah dari Emir.


"Sayang ... Emir sudah tidak ada disini. Bukankah egois jika kita menahan orangtua Emir untuk tinggal bersama kita?" Andar menyela Ahmad yang ingin berucap.


Benar apa yang dikatakan Andar. Orang tua Emir masih bisa bertahan selama bertahun-tahun dirumah mereka, salahsatunya karena ada Emir yang masih bersekolah. Dan sekarang Emir telah menempuh pendidikan di Luar Negri. Lantas tidak ada lagi alasan bagi mereka untuk tinggal di Rumah itu.


"Tapi kan, Om Ahmad dan Bunda bisa menunggu Emir kembali ke Rumah ini. Nggak usah di Majalengka" Amara berucap tanpa pikir panjang, sehingga membuat semua orang disana terpaku dengan pikiran masing-masing.


"Amara, Bunda Fatma dan Om Ahmad juga punya kehidupan. Di Majalengka ada lahan pertanian yang harus diurus langsung" ungkap Liana, mencoba memberikan pengertian.


Selama bekerja di rumah itu, Orangtua Emir mengumpulkan uang untuk membeli sebuah petak tanah besar yang digarap sebagai lahan pertanian di Bandung. Tanah kelahiran Emir.


Amara terdiam, dia hanya bisa pasrah jika alasan itu yang menjadikan kedua orang tua Emir harus pulang Kampung.


"Apa Amara boleh anter Bunda ke Majalengka?". Dengan senyum yang terkesan dipaksakan, dengan air mata yang mengembun menahan air mata agar tak terjatuh. Gadis itu mencoba tegar.


Fatma dan Liana melihat ekspresi gadis kesayangan mereka. Dengan memeluk erat tubuh sintal Amara, Fatma berkata, "Nginep juga boleh," Liana yang ada disebelah Putrinya pun ikut dalam pelukan perpisahan itu.


...•••...


Sudah satu bulan sejak Amara mengantar sekaligus menginap di rumah Orangtua Emir--di Majalengka.


Kini dirumah itu hanya ada Mang Juned dan Istrinya yang baru saja diajak bekerja di kediaman Amara untuk menggantikan pekerjaan rutin yang biasa Ibu Emir lakukan--memasak. Tapi kali ini ditambah mengurus pekerjaan rumah lainnya.


Rumah megah itu sepi. Dan orang tua Amara sedang pergi ke Bandung untuk kunjungan rutin, itu yang Amara tau.


Kini gadis itu sedang berada di kamar yang dulu pernah Emir tempati. Bahkan aroma maskulin dari parfum lelaki itu masih tercium.


Amara membuka lemari pakaian Emir. Ternyata hanya menyisakan seragam putih abu yang masih tergantung disana--bersih, rapih dan juga ...


"Emhhh" Amara mengendus aroma wangi dari pewangi pakaian yang biasa Emir semprotkan.


Tanpa sadar Amara terkikik geli saat membandingkan seragamnya dengan seragam Emir. Karena seragam putih miliknya sendiri sudah dicoret-coret oleh pilok dan juga spidol dengan berbagai tulisan dari teman-teman sekolahnya sebagai kenang-kenangan.


Amara meraih kemeja putih itu, lalu dia rengkuh dengan erat. Setidaknya ada kenang-kenangan yang tidak disengaja ditinggalkan oleh Emir untuk Amara simpan.


...Bersambung...